Rabu, 17 Oktober 2018 | 07:01 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/ Inspirasi

Pomne Craft, ketika hobi jadi bisnis yang menguntungkan

Selasa, 07 Agustus 2018 - 13:56 WIB    |    Penulis : Syahid    |    Editor : Sigit Kurniawan
Marry, pemilik Pomne Craft. Sumber foto: Wulan/Elshinta
Marry, pemilik Pomne Craft. Sumber foto: Wulan/Elshinta

Elshinta.com - Marry telah mencintai dunia craft sejak kecil, tepatnya ketika kelas 5 SD saat mendapatkan pelajaran kesenian. Bidang craft yang ia tekuni diantaranya crochet yaitu teknik merajut menggunakan satu jarum dan paper quilling yaitu merangkai gulungan kertas menjadi objek-objek baru yang indah. Siapa sangka bila hobi masa kecilnya tersebut kelak akan mendatangkan pundi-pundi uang baginya melalui bisnis penyediaan bahan baku kerajinan yang ia namakan Pomne Craft. 

Selain bekal dari guru keseniannya sewaktu SD, Marry juga mendalami teknik-teknik merajut benang seperti chochet dan knitting dari buku-bukunya yang banyak ia beli di luar negeri. Wanita yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di bidang fashion ini juga mendapatkan ilmunya dari bangku kuliah. 
Ia telah banyak melihat perkembangan seni merajut di berbagai negara seperti Jepang dan negara-negara di Eropa. Ia membuat aneka craft di sela-sela kesibukannya bahkan pada saat di dalam mobil maupun pesawat. Bidang craft khususnya pada crochet memang sudah menjadi bagian dari kehidupannya. 

Berawal dari kesulitan mencari bahan baku

Sebagai pecinta craft, Marry kerap mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku craft. Misalnya benang rajut, menurut Marry tak semua toko mampu menyediakan benang dengan warna yang banyak sehingga menyulitkan dirinya untuk bisa lebih mengeksplorasi rajutan yang ia buat. 

“Saya kan termasuk salah satu penggemar craft juga, saya suka crochet, papper quilling dan lain-lain. Terus kita kan kesulitan cari bahan , kadang-kadang cari bahan sampai ke luar negeri. Nah karena susah, saya punya rencana suatu hari saya mau bikin toko craft”. Akhirnya pada 2015 lalu, rencana tersebut ia wujudkan dengan mendirikan Pomne Craft. 

Di tokonya tersebut, ia dibantu oleh karyawannya menjual aneka bahan baku craft seperti benang rajut, kain flanel dan kain wool. Ia juga menjual peralatan yang dibutuhkan untuk membuat craft, serta menjual berbagai produk jadi. 

Dengan menempatkan diri sebagai pecinta craft, Marry mengetahui betul apa yang dibutuhkan pecinta craft. Karena itu lah ia selalu berusaha melengkapi ketersediaan bahan bakunya agar bisa memanjakan pecinta craft. 

Baca jugaIni rahasia kesuksesan mie Aceh Seulawah hingga punya omset ratusan juta rupiah

Misalnya saja, bila di toko biasa benang wool yang dijual paling banyak menyediakan sekitar sepuluh warna, Marry mengaku bisa menyediakan benang wool dengan 100 warna. “Waktu saya SD kan koleksinya tidak sampai 10 warna, saya sekarang sudah besar, saya bisa bikin toko. Saya akhirnya beli semua warna jadi untuk warna hijaunya sendiri saja ada sekitar 10 warna,” tambahnya. 

Belajar bersama

Selain menjadi “surga” bagi para pecinta craft, Pomne Craft juga menjadi tempat para penggemarnya untuk bertemu dan berkarya bersama. Di sela-sela kesibukannya dengan bisnis lain, Marry kerap menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu bagi siapa saja yang ingin belajar craft terutama seni merajut. 

Banyak yang bisa dibuat dengan merajut benang-benang tersebut, mulai dari baju, gelang, boneka, sandal, tas, dompet, sampai keset dengan motif yang menawan. Baginya, aktivitas merajut benang menjadi kerajinan adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Membutuhkan keterampilan dalam membaca dan menerapkan pola, memahami teori warna dan yang pasti, kesabaran yang ekstra. 

Setiap harinya, Pomne Craft menerima banyak permintaan bahan baku craft, baik yang datang secara langsung maupun yang memesan melalui media sosial. Marry mengaku, usaha toko craftnya ini selain untuk hobi, sekaligus sebagai investasi di hari tua di mana ia bisa menghasilkan uang sambil menjalani hobi masa kecilnya. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Sepakbola | 17 Oktober 2018 - 06:29 WIB

Timnas Indonesia vs Hong Kong imbang, ini pengakuan Bima Sakti

Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 01:23 WIB

Gempa guncang Sumba Barat Daya dan Badung Bali

Bencana Alam | 16 Oktober 2018 - 21:57 WIB

BPBD: Dampak kekeringan Gunung Kidul meluas

Bencana Alam | 16 Oktober 2018 - 21:48 WIB

NTB ingin percepat pencairan bantuan korban gempa

Elshinta.com - Marry telah mencintai dunia craft sejak kecil, tepatnya ketika kelas 5 SD saat mendapatkan pelajaran kesenian. Bidang craft yang ia tekuni diantaranya crochet yaitu teknik merajut menggunakan satu jarum dan paper quilling yaitu merangkai gulungan kertas menjadi objek-objek baru yang indah. Siapa sangka bila hobi masa kecilnya tersebut kelak akan mendatangkan pundi-pundi uang baginya melalui bisnis penyediaan bahan baku kerajinan yang ia namakan Pomne Craft. 

Selain bekal dari guru keseniannya sewaktu SD, Marry juga mendalami teknik-teknik merajut benang seperti chochet dan knitting dari buku-bukunya yang banyak ia beli di luar negeri. Wanita yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di bidang fashion ini juga mendapatkan ilmunya dari bangku kuliah. 
Ia telah banyak melihat perkembangan seni merajut di berbagai negara seperti Jepang dan negara-negara di Eropa. Ia membuat aneka craft di sela-sela kesibukannya bahkan pada saat di dalam mobil maupun pesawat. Bidang craft khususnya pada crochet memang sudah menjadi bagian dari kehidupannya. 

Berawal dari kesulitan mencari bahan baku

Sebagai pecinta craft, Marry kerap mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku craft. Misalnya benang rajut, menurut Marry tak semua toko mampu menyediakan benang dengan warna yang banyak sehingga menyulitkan dirinya untuk bisa lebih mengeksplorasi rajutan yang ia buat. 

“Saya kan termasuk salah satu penggemar craft juga, saya suka crochet, papper quilling dan lain-lain. Terus kita kan kesulitan cari bahan , kadang-kadang cari bahan sampai ke luar negeri. Nah karena susah, saya punya rencana suatu hari saya mau bikin toko craft”. Akhirnya pada 2015 lalu, rencana tersebut ia wujudkan dengan mendirikan Pomne Craft. 

Di tokonya tersebut, ia dibantu oleh karyawannya menjual aneka bahan baku craft seperti benang rajut, kain flanel dan kain wool. Ia juga menjual peralatan yang dibutuhkan untuk membuat craft, serta menjual berbagai produk jadi. 

Dengan menempatkan diri sebagai pecinta craft, Marry mengetahui betul apa yang dibutuhkan pecinta craft. Karena itu lah ia selalu berusaha melengkapi ketersediaan bahan bakunya agar bisa memanjakan pecinta craft. 

Baca jugaIni rahasia kesuksesan mie Aceh Seulawah hingga punya omset ratusan juta rupiah

Misalnya saja, bila di toko biasa benang wool yang dijual paling banyak menyediakan sekitar sepuluh warna, Marry mengaku bisa menyediakan benang wool dengan 100 warna. “Waktu saya SD kan koleksinya tidak sampai 10 warna, saya sekarang sudah besar, saya bisa bikin toko. Saya akhirnya beli semua warna jadi untuk warna hijaunya sendiri saja ada sekitar 10 warna,” tambahnya. 

Belajar bersama

Selain menjadi “surga” bagi para pecinta craft, Pomne Craft juga menjadi tempat para penggemarnya untuk bertemu dan berkarya bersama. Di sela-sela kesibukannya dengan bisnis lain, Marry kerap menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu bagi siapa saja yang ingin belajar craft terutama seni merajut. 

Banyak yang bisa dibuat dengan merajut benang-benang tersebut, mulai dari baju, gelang, boneka, sandal, tas, dompet, sampai keset dengan motif yang menawan. Baginya, aktivitas merajut benang menjadi kerajinan adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Membutuhkan keterampilan dalam membaca dan menerapkan pola, memahami teori warna dan yang pasti, kesabaran yang ekstra. 

Setiap harinya, Pomne Craft menerima banyak permintaan bahan baku craft, baik yang datang secara langsung maupun yang memesan melalui media sosial. Marry mengaku, usaha toko craftnya ini selain untuk hobi, sekaligus sebagai investasi di hari tua di mana ia bisa menghasilkan uang sambil menjalani hobi masa kecilnya. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 15 Oktober 2018 - 12:44 WIB

3 hal ini yang menyebabkan investasi gagal

Jumat, 12 Oktober 2018 - 15:00 WIB

Cara jitu mempromosikan bisnis minuman

Kamis, 11 Oktober 2018 - 13:35 WIB

Langkah mudah membuka toko buku online

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com