Minggu, 21 Oktober 2018 | 18:29 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Hukum

Kisruh Peradi, saksi ungkap munas di Pekanbaru terbuka

Selasa, 07 Agustus 2018 - 13:15 WIB    |    Penulis : Sigit Kurniawan    |    Editor : Administrator
Sidang kasus Peradi. Foto: Supriyarto Rudatin/Elshinta.
Sidang kasus Peradi. Foto: Supriyarto Rudatin/Elshinta.

Elshinta.com - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) kembali menggelar sidang lanjutan perkara gugatan Perhimpunan Avokat Indonesia (Peradi) Ketua umum (Ketum) Fauzie Yusuf Hasibuan terhadap Peradi versi Ketum Juniver Girsang. 

Dalam sidang pada Senin (6/8), Ketum Peradi versi Fauzie Yusuf Hasibuan melalui tim kuasa hukumnya mengajukan lima orang saksi. Mereka adalah H.M. Zaenal Marzuki, S.H., M.H. Selaku Ketua DPC Peradi Jember, Hadi Suratman, S.H. (Ketua DPC Peradi Pontianak), Piter Siringoringo, S.H. (Ketua DPC Peradi Jakarta Timur), H. Bun Yani, S.H, M.H. (Ketua DPC Peradi Banjarmasin), dan Charles Silalahi, S.H. (Ketua DPC Peradi Medan).


Zaenal menyampaikan, bahwa mayoritas peserta munas yang mempunyai hak pilih dalam pemilihan ketum Peradi di Pekanbaru, Riau, memberikan hak suaranya di hall, meskipun saat itu waktunya sudah larut malam.

Menurut Zainal, hanya dua anggota delegasi dari DPC Peradi Jember yang terpaksa menyalurkan hak suaranya setelah didatangi ke kamar hotel karena yang pertama adalah perempuan dan yang kedua kondisinya sedang sakit.

"Jadi pemilihan itu sudah malam, ada anggota delegasi kami yang perempuan dan satu lagi kurang sehat, itu sudah balik ke kamar sehingga itu didatangi panitia dan para saksi. Tapi kami, saya tidak memilih di kamar, 6 orang itu hadir di hall dan memilih," katanya. 

Sedangkan saat ketua majelis hakim menanyakan, apakah pemilihan seperti itu adalah sah,  Zaenal menyampaikan, masing-masing cabang mempunyai hak suara melalui delegasinya.

"Kami 8 orang, yang 6 masih mengikuti sampai malam, dan kami memilih di hall. Tapi dua anggota kami, yang satu perempuan sudah di kamar yang satu sakit," ujarnya seperti dilaporkan Reporter Supriyarto Rudatin. 

Saksi juga memastikan bahwa pemungutan suara seperti ini tak ubahnya dalam pemilu di mana pihak panitia penyelenggara mendatangi warga yang mempunyai hak pilih namun tidak bisa datang ke TPS di antaranya karena sakit.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pendidikan | 21 Oktober 2018 - 18:14 WIB

Menristekdikti: Peningkatan riset Indonesia tertinggi di dunia

Aktual Dalam Negeri | 21 Oktober 2018 - 17:52 WIB

Pertamina gelar touring bersama mahasiswa Sumut

Timnas Indonesia | 21 Oktober 2018 - 17:12 WIB

Bima Sakti Resmi Latih Timnas Indonesia

Elshinta.com - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) kembali menggelar sidang lanjutan perkara gugatan Perhimpunan Avokat Indonesia (Peradi) Ketua umum (Ketum) Fauzie Yusuf Hasibuan terhadap Peradi versi Ketum Juniver Girsang. 

Dalam sidang pada Senin (6/8), Ketum Peradi versi Fauzie Yusuf Hasibuan melalui tim kuasa hukumnya mengajukan lima orang saksi. Mereka adalah H.M. Zaenal Marzuki, S.H., M.H. Selaku Ketua DPC Peradi Jember, Hadi Suratman, S.H. (Ketua DPC Peradi Pontianak), Piter Siringoringo, S.H. (Ketua DPC Peradi Jakarta Timur), H. Bun Yani, S.H, M.H. (Ketua DPC Peradi Banjarmasin), dan Charles Silalahi, S.H. (Ketua DPC Peradi Medan).


Zaenal menyampaikan, bahwa mayoritas peserta munas yang mempunyai hak pilih dalam pemilihan ketum Peradi di Pekanbaru, Riau, memberikan hak suaranya di hall, meskipun saat itu waktunya sudah larut malam.

Menurut Zainal, hanya dua anggota delegasi dari DPC Peradi Jember yang terpaksa menyalurkan hak suaranya setelah didatangi ke kamar hotel karena yang pertama adalah perempuan dan yang kedua kondisinya sedang sakit.

"Jadi pemilihan itu sudah malam, ada anggota delegasi kami yang perempuan dan satu lagi kurang sehat, itu sudah balik ke kamar sehingga itu didatangi panitia dan para saksi. Tapi kami, saya tidak memilih di kamar, 6 orang itu hadir di hall dan memilih," katanya. 

Sedangkan saat ketua majelis hakim menanyakan, apakah pemilihan seperti itu adalah sah,  Zaenal menyampaikan, masing-masing cabang mempunyai hak suara melalui delegasinya.

"Kami 8 orang, yang 6 masih mengikuti sampai malam, dan kami memilih di hall. Tapi dua anggota kami, yang satu perempuan sudah di kamar yang satu sakit," ujarnya seperti dilaporkan Reporter Supriyarto Rudatin. 

Saksi juga memastikan bahwa pemungutan suara seperti ini tak ubahnya dalam pemilu di mana pihak panitia penyelenggara mendatangi warga yang mempunyai hak pilih namun tidak bisa datang ke TPS di antaranya karena sakit.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com