Minggu, 21 Oktober 2018 | 18:34 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Gaya Hidup / Kesehatan

Ini pentingnya ASI dan edukasi menyusui

Selasa, 07 Agustus 2018 - 14:06 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Sigit Kurniawan
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2MnVGYk
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2MnVGYk

Elshinta.com - Dalam sebuah grup aplikasi Whatsapp Gerakan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif yang sebagian besar terdiri dari ibu hamil dan menyusui di Gorontalo, seorang ibu bertanya, "Produksi ASI saya berkurang, bagaimana cara agar melimpah lagi".

Produksi ASI berkurang, hasil perah yang sedikit, atau bahkan tidak keluar pada hari pertama kelahiran bayi menjadi pertanyaan yang paling banyak dilontarkan di grup tersebut. Hal itu menunjukkan kemungkinan besar banyak ibu dan calon ibu di luar sana, mempunyai kekhawatiran dan masalah yang sama.

Pasalnya, belum semua ibu menyusui memahami bahwa prinsip produksi ASI adalah permintaan dan persediaan. Makin sering payudara diisap atau dikosongkan, maka makin banyak ASI diproduksi.

"Hal ini yang berulang kali saya lontarkan menjawab keresahan akan produksi ASI. Bagi ibu baru, biasanya ketidaktahuan akan tahapan produksi ASI akan menjadi faktor yang memicu pilihan kepada susu formula," kata konsultan laktasi di Gorontalo, Nur Dariatni M. Ismail.

Bagi ibu yang bekerja di luar rumah, masalah yang kerap menghampiri adalah hasil perah atau pompa yang minim dan membutuhkan waktu lama. Untuk menjawab keluhan tersebut, perempuan yang biasa dipanggil Nita itu, mengingatkan bahwa memerah ASI pun butuh kedisiplinan.

"Pompalah setiap dua hingga tiga kali dan pada jam yang sama. Cara ini efektif untuk mengirim pesan ke otak dan merangsang hormon untuk segera memproduksi ASI di waktu yang sama," tambahnya.

Isapan bayi atau pompa akan merangsang syaraf-syaraf yang ada pada puting ibu. Syaraf-syaraf ini kemudian menyebabkan hormon prolaktin dan oksitosin dilepaskan ke aliran darah ibu yang berguna untuk mendorong otot-otot kecil di sekitar sel penghasil ASI untuk berkontraksi, demikian Antara.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 21 Oktober 2018 - 18:29 WIB

Sekitar 200 anak muda di Festival Kaum Muda

Pendidikan | 21 Oktober 2018 - 18:14 WIB

Menristekdikti: Peningkatan riset Indonesia tertinggi di dunia

Aktual Dalam Negeri | 21 Oktober 2018 - 17:52 WIB

Pertamina gelar touring bersama mahasiswa Sumut

Timnas Indonesia | 21 Oktober 2018 - 17:12 WIB

Bima Sakti Resmi Latih Timnas Indonesia

Elshinta.com - Dalam sebuah grup aplikasi Whatsapp Gerakan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif yang sebagian besar terdiri dari ibu hamil dan menyusui di Gorontalo, seorang ibu bertanya, "Produksi ASI saya berkurang, bagaimana cara agar melimpah lagi".

Produksi ASI berkurang, hasil perah yang sedikit, atau bahkan tidak keluar pada hari pertama kelahiran bayi menjadi pertanyaan yang paling banyak dilontarkan di grup tersebut. Hal itu menunjukkan kemungkinan besar banyak ibu dan calon ibu di luar sana, mempunyai kekhawatiran dan masalah yang sama.

Pasalnya, belum semua ibu menyusui memahami bahwa prinsip produksi ASI adalah permintaan dan persediaan. Makin sering payudara diisap atau dikosongkan, maka makin banyak ASI diproduksi.

"Hal ini yang berulang kali saya lontarkan menjawab keresahan akan produksi ASI. Bagi ibu baru, biasanya ketidaktahuan akan tahapan produksi ASI akan menjadi faktor yang memicu pilihan kepada susu formula," kata konsultan laktasi di Gorontalo, Nur Dariatni M. Ismail.

Bagi ibu yang bekerja di luar rumah, masalah yang kerap menghampiri adalah hasil perah atau pompa yang minim dan membutuhkan waktu lama. Untuk menjawab keluhan tersebut, perempuan yang biasa dipanggil Nita itu, mengingatkan bahwa memerah ASI pun butuh kedisiplinan.

"Pompalah setiap dua hingga tiga kali dan pada jam yang sama. Cara ini efektif untuk mengirim pesan ke otak dan merangsang hormon untuk segera memproduksi ASI di waktu yang sama," tambahnya.

Isapan bayi atau pompa akan merangsang syaraf-syaraf yang ada pada puting ibu. Syaraf-syaraf ini kemudian menyebabkan hormon prolaktin dan oksitosin dilepaskan ke aliran darah ibu yang berguna untuk mendorong otot-otot kecil di sekitar sel penghasil ASI untuk berkontraksi, demikian Antara.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com