Jumat, 16 November 2018 | 19:41 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Jawaban Presiden Jokowi soal isu tenaga kerja dari China

Rabu, 08 Agustus 2018 - 16:05 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Dewi Rusiana
Presiden Jokowi memberikan sambutan pada acara Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8). Sumber foto: https://bit.ly/2APFVbj
Presiden Jokowi memberikan sambutan pada acara Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8). Sumber foto: https://bit.ly/2APFVbj

Elshinta.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung masalah isu tenaga kerja dari China, dalam kesempatan memberikan sambutan pada Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8). 

Presiden Jokowi mengaku mendengar isu yang menyebut adanya 10 juta tenaga kerja dari China. Padahal, kata Presiden blak-blakan, yang ada sebenarnya hanya 23.000 tenaga kerja China kerja di Indonesia. Itu pun, sambung Presiden, tidak kerja terus-menerus.

“Itu masang turbin, masang smelter. Saya cek kok. Itu memang kita belum siap melakukan itu, sehingga mereka harus di sini 3 bulan-6 bulan untuk memasang ini,” terang Presiden, seperti diinformasikan melalui laman resmi Setkab.

Presiden membandingkan orang Indonesia yang kerja di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ada sebanyak 80.000, di Malaysia 1,2 juta. "Malaysia diam saja. Itu yang legal 1,2, yang ilegal mungkin hampir 2 juta," kata dia.

Presiden Jokowi mengungkapkan, saat menerima kunjungan Perdana Menteri (PM) Mahathir Mohammad, masalah tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal di Malaysia sempat disinggung. “Saya ngomong apa adanya. Ya itulah sudah terjadi bertahun-tahun, dan saya minta kepada Mahathir ada perlindungan, legalisasi, ada proteksi sehingga semuanya menjadi gambling,” ujar Presiden.

Meskipun ada banyak TKI legal dan ilegal di sana, lanjut Presiden, Malaysia tidak ribut. Presiden juga menyebutkan, tenaga kerja Indonesia yang di Arab Saudi katanya 500.000 yang legal, yang ilegal katanya lebih dari itu.

“Coba dilihat tenaga kerja asing yang ada di Indonesia dibandingkan dengan penduduk itu hanya 0,03%. Satu persen saja enggak ada. Harus angka-angka yang kita sampaikan supaya isu tidak kemana-mana 0,03%. Satu persen saja enggak ada,” tegas Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi membandingkan dengan tenaga kerja asing yang ada di Uni Emirat Arab yang 80% asing semua, dan mereka senang-senang saja tidak ada masalah. Demikian juga di Arab Saudi 33% itu adalah tenaga kerja asing, tambah Presiden, sementara di Indonesia satu persen saja tidak ada.

Presiden menegaskan, pemerintah berupaya mendatangkan investasi, karena salah satu tujuannya adalah untuk membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya untuk rakyat, bukan untuk yang lain. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual SDGs | 16 November 2018 - 19:35 WIB

Perkawinan anak bawa dampak buruk terhadap SDGs

Lingkungan | 16 November 2018 - 19:24 WIB

Hadapi musim penghujan, Pemkab Kudus petakan daerah rawan banjir

Megapolitan | 16 November 2018 - 19:13 WIB

YLKI: KAI setengah hati respon pencopotan iklan rokok di stasiun

Kecelakaan | 16 November 2018 - 18:59 WIB

Tim DVI kembali identifikasi tiga korban Lion Air

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 18:37 WIB

PT KAI siapkan 20 kereta tambahan untuk Natal dan Tahun Baru

Elshinta.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung masalah isu tenaga kerja dari China, dalam kesempatan memberikan sambutan pada Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8). 

Presiden Jokowi mengaku mendengar isu yang menyebut adanya 10 juta tenaga kerja dari China. Padahal, kata Presiden blak-blakan, yang ada sebenarnya hanya 23.000 tenaga kerja China kerja di Indonesia. Itu pun, sambung Presiden, tidak kerja terus-menerus.

“Itu masang turbin, masang smelter. Saya cek kok. Itu memang kita belum siap melakukan itu, sehingga mereka harus di sini 3 bulan-6 bulan untuk memasang ini,” terang Presiden, seperti diinformasikan melalui laman resmi Setkab.

Presiden membandingkan orang Indonesia yang kerja di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ada sebanyak 80.000, di Malaysia 1,2 juta. "Malaysia diam saja. Itu yang legal 1,2, yang ilegal mungkin hampir 2 juta," kata dia.

Presiden Jokowi mengungkapkan, saat menerima kunjungan Perdana Menteri (PM) Mahathir Mohammad, masalah tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal di Malaysia sempat disinggung. “Saya ngomong apa adanya. Ya itulah sudah terjadi bertahun-tahun, dan saya minta kepada Mahathir ada perlindungan, legalisasi, ada proteksi sehingga semuanya menjadi gambling,” ujar Presiden.

Meskipun ada banyak TKI legal dan ilegal di sana, lanjut Presiden, Malaysia tidak ribut. Presiden juga menyebutkan, tenaga kerja Indonesia yang di Arab Saudi katanya 500.000 yang legal, yang ilegal katanya lebih dari itu.

“Coba dilihat tenaga kerja asing yang ada di Indonesia dibandingkan dengan penduduk itu hanya 0,03%. Satu persen saja enggak ada. Harus angka-angka yang kita sampaikan supaya isu tidak kemana-mana 0,03%. Satu persen saja enggak ada,” tegas Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi membandingkan dengan tenaga kerja asing yang ada di Uni Emirat Arab yang 80% asing semua, dan mereka senang-senang saja tidak ada masalah. Demikian juga di Arab Saudi 33% itu adalah tenaga kerja asing, tambah Presiden, sementara di Indonesia satu persen saja tidak ada.

Presiden menegaskan, pemerintah berupaya mendatangkan investasi, karena salah satu tujuannya adalah untuk membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya untuk rakyat, bukan untuk yang lain. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com