Senin, 22 Oktober 2018 | 07:28 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Presiden Jokowi tanggapi anggapan tidak pro Islam

Kamis, 09 Agustus 2018 - 07:08 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Presiden Jokowi menyalami peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8) pagi. Sumber foto: https://bit.ly/2M7X3O9
Presiden Jokowi menyalami peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8) pagi. Sumber foto: https://bit.ly/2M7X3O9

Elshinta.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya juga buka suara mengenai penilaian sejumlah kalangan yang menyebut dirinya tidak pro Islam. Presiden Jokowi ingin meluruskan anggapan tersebut, selain soal tudingan antek asing dan isu soal banyaknya tenaga kerja asing di Indonesia

Presiden Jokowi mengaku tidak mengerti dengan isu tersebut, mengingat dirinya muslim, tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, dan bahkan ke mana-mana dengan Ketua MUI Pusat, KH. Ma’ruf Amin. Bahkan tiap minggu, kata Presiden, dirinya masuk ke pondok-pondok pesantren.

“Untuk apa? Saya ingin melihat secara langsung sebetulnya problem kesulitan yang kita hadapi ini apa,” ucap Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8). 

Menurut Presiden Jokowi, seperti diinformasikan melalui laman resmi Setkab, pemerintah juga telah membuka 40 bank wakaf mikro di pesantren-pesantren. Masing-masing bank wakaf mikro ini juga diberi modal Rp40 miliar.

Pemerintah bertekad akan memperbanyak lagi jumlah bank wakaf mikro itu, termasuk yang berkaitan dengan kemitraan, seperti NU dengan Garuda Food menanam kacang berapa ratus hektar di Jawa Timur.

Kemitraan-kemitraan seperti ini, kata Presiden, yang akan memperbaiki perekonomian umat. Tanpa pendekatan-pendekatan ekonomi seperti itu, sambung Presiden, maka jurang (gap) antara yang kaya dan yang miskin akan semakin lebar.

“Inilah upaya-upaya yang harus kita lakukan. Jangan sampai ada suara-suara seperti Jokowi tidak pro-Islam,” ujar Presiden seraya mempertanyakan yang membuat Peraturan Presiden (Perpres) tentang Hari Santri Nasional itu siapa? “Masa sudah kayak gitu tidak pro-Islam,” tandasnya. 

Untuk itu, Presiden Jokowi mengajak masyarakat tidak terjebak pada isu-isu politik. Ia menilai, isu-isu itu sebetulnya penyebabnya urusan politik sebetulnya. Urusan pilihan bupati, urusan pilihan gubernur, pilihan wali kota, pilihan presiden.

“Ini semua dimulai dari situ. Jangan diteruskan. Setop,” pinta Presiden seraya menyebutkan, itu semua karena pintarnya orang-orang politik mempengaruhi, dan banyak yang terpengaruh. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 07:18 WIB

Fotografer lelang foto untuk korban gempa tsunami Palu

Event | 22 Oktober 2018 - 07:04 WIB

Indra Sjafri bangga semangat juang pemain Timnas U-19

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 06:55 WIB

Kunjungan delegasi IMF-WB berdampak bagi ekonomi NTT

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 06:43 WIB

Presiden hadiri PKN-Revolusi mental di Sulut

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 06:33 WIB

PKB: Parpol harus dekat dengan rakyat

Elshinta.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya juga buka suara mengenai penilaian sejumlah kalangan yang menyebut dirinya tidak pro Islam. Presiden Jokowi ingin meluruskan anggapan tersebut, selain soal tudingan antek asing dan isu soal banyaknya tenaga kerja asing di Indonesia

Presiden Jokowi mengaku tidak mengerti dengan isu tersebut, mengingat dirinya muslim, tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, dan bahkan ke mana-mana dengan Ketua MUI Pusat, KH. Ma’ruf Amin. Bahkan tiap minggu, kata Presiden, dirinya masuk ke pondok-pondok pesantren.

“Untuk apa? Saya ingin melihat secara langsung sebetulnya problem kesulitan yang kita hadapi ini apa,” ucap Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8). 

Menurut Presiden Jokowi, seperti diinformasikan melalui laman resmi Setkab, pemerintah juga telah membuka 40 bank wakaf mikro di pesantren-pesantren. Masing-masing bank wakaf mikro ini juga diberi modal Rp40 miliar.

Pemerintah bertekad akan memperbanyak lagi jumlah bank wakaf mikro itu, termasuk yang berkaitan dengan kemitraan, seperti NU dengan Garuda Food menanam kacang berapa ratus hektar di Jawa Timur.

Kemitraan-kemitraan seperti ini, kata Presiden, yang akan memperbaiki perekonomian umat. Tanpa pendekatan-pendekatan ekonomi seperti itu, sambung Presiden, maka jurang (gap) antara yang kaya dan yang miskin akan semakin lebar.

“Inilah upaya-upaya yang harus kita lakukan. Jangan sampai ada suara-suara seperti Jokowi tidak pro-Islam,” ujar Presiden seraya mempertanyakan yang membuat Peraturan Presiden (Perpres) tentang Hari Santri Nasional itu siapa? “Masa sudah kayak gitu tidak pro-Islam,” tandasnya. 

Untuk itu, Presiden Jokowi mengajak masyarakat tidak terjebak pada isu-isu politik. Ia menilai, isu-isu itu sebetulnya penyebabnya urusan politik sebetulnya. Urusan pilihan bupati, urusan pilihan gubernur, pilihan wali kota, pilihan presiden.

“Ini semua dimulai dari situ. Jangan diteruskan. Setop,” pinta Presiden seraya menyebutkan, itu semua karena pintarnya orang-orang politik mempengaruhi, dan banyak yang terpengaruh. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 22 Oktober 2018 - 06:55 WIB

Kunjungan delegasi IMF-WB berdampak bagi ekonomi NTT

Senin, 22 Oktober 2018 - 06:43 WIB

Presiden hadiri PKN-Revolusi mental di Sulut

Senin, 22 Oktober 2018 - 06:33 WIB

PKB: Parpol harus dekat dengan rakyat

Senin, 22 Oktober 2018 - 06:22 WIB

Ma`ruf Amin silaturahim ke Ponpes Miftahul Huda

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com