Rabu, 17 Oktober 2018 | 07:05 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Ekonomi

Rupiah lesu di tengah sinyal inflasi AS

Kamis, 09 Agustus 2018 - 10:00 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Dewi Rusiana
Ilustrasi. Foto: Elshinta.com
Ilustrasi. Foto: Elshinta.com

Elshinta.com - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (9/8) pagi bergerak melemah sebesar 18 poin menjadi Rp14.424, dibanding sebelumnya Rp14.406 per dolar AS, di tengah kekhawatiran dampak konflik dagang AS-China dan sinyal inflasi di AS.

"Sinyal inflasi yang meningkat di Amerika Serikat menyebabkan dolar AS kembali menguat dan menekan mata uang pasar berkembang seperti rupiah," kata Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan bahwa pergerakan rupiah juga akan ditentukan oleh perkembangan dagang global. Kekhawatiran memburuknya perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat dan China dapat mempengaruhi pasar keuangan. "Namun, rupiah relatif masih stabil terhadap dolar AS," katanya.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada menambahkan, pernyataan China yang akan mengenakan tarif kembali atas barang-barang impor juga ikut mempengaruhi.

"Perang dagang kembali membuat laju dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang dunia dan pada akhirnya berimbas negatif pada pergerakan rupiah," ucapnya, dikutip Antara
 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Sepakbola | 17 Oktober 2018 - 06:29 WIB

Timnas Indonesia vs Hong Kong imbang, ini pengakuan Bima Sakti

Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 01:23 WIB

Gempa guncang Sumba Barat Daya dan Badung Bali

Bencana Alam | 16 Oktober 2018 - 21:57 WIB

BPBD: Dampak kekeringan Gunung Kidul meluas

Elshinta.com - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (9/8) pagi bergerak melemah sebesar 18 poin menjadi Rp14.424, dibanding sebelumnya Rp14.406 per dolar AS, di tengah kekhawatiran dampak konflik dagang AS-China dan sinyal inflasi di AS.

"Sinyal inflasi yang meningkat di Amerika Serikat menyebabkan dolar AS kembali menguat dan menekan mata uang pasar berkembang seperti rupiah," kata Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan bahwa pergerakan rupiah juga akan ditentukan oleh perkembangan dagang global. Kekhawatiran memburuknya perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat dan China dapat mempengaruhi pasar keuangan. "Namun, rupiah relatif masih stabil terhadap dolar AS," katanya.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada menambahkan, pernyataan China yang akan mengenakan tarif kembali atas barang-barang impor juga ikut mempengaruhi.

"Perang dagang kembali membuat laju dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang dunia dan pada akhirnya berimbas negatif pada pergerakan rupiah," ucapnya, dikutip Antara
 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Rabu, 17 Oktober 2018 - 01:23 WIB

Gempa guncang Sumba Barat Daya dan Badung Bali

Selasa, 16 Oktober 2018 - 21:28 WIB

Upah minimum provinsi naik 8,03 persen tahun 2019

Selasa, 16 Oktober 2018 - 21:12 WIB

Luhut: Meikarta tak pernah keluhkan masalah izin

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com