Rabu, 17 Oktober 2018 | 07:02 WIB

Daftar | Login

MacroAd

UKM / Inspirasi

Luki Handayani, berhenti jadi karyawan garap bisnis oleh-oleh khas Jakarta

Kamis, 09 Agustus 2018 - 15:55 WIB    |    Penulis : Syahid    |    Editor : Administrator
Luki Handayani, pemilik usaha Khas Jakarta. Sumber foto: Reza/Elshinta
Luki Handayani, pemilik usaha Khas Jakarta. Sumber foto: Reza/Elshinta

Elshinta.com -  Luki Handayani pemilik usaha oleh-oleh khas Jakarta ini dulu seorang karyawati di sebuah perusahaan. Ia tergerak untuk berbisnis ketika melihat sebuah gedung kosong di daerah Kasablanka, Jakarta Selatan. Gedung kosong tersebut ternyata milik Pemprov DKI Jakarta yang sudah cukup lama tidak dipakai. Ia terpikir mengapa tidak dijadikan tempat usaha saja ketimbang dibiarkan kosong tak berpenghuni. 

Luki lantas mencoba menghubungi pihak pemprov yang menangani gedung tersebut, mulai mengajukan proposal kerjasama untuk menjadikan tempat itu sebagai toko yang menyediakan oleh-oleh khas Jakarta. Tidak disangka, proposal tersebut diterima dan ia harus berpikir keras untuk menjalankan bisnis yang ia usulkan tersebut. Luki lalu menghubungi Dinas UMKM Jakarta untuk mengetahui data pelaku usaha yang memproduksi aneka oleh-oleh Khas Jakarta. 

Setelahnya, ia mendatangi pelaku-pelaku usaha tersebut dan mengajak untuk kerjasama. Mulailah ia menjual produk dari pelaku UMKM yang ia temui dengan sistem konsinyiasi. Jadi, awalnya tidak modal sama sekali. 

Bir bletok, minuman khas Jakarta

Mengenai produk oleh-oleh Khas Jakarta, Luki mengaku tidak punya alasan khusus mengapa ia memilih jenis produk seperti ini. Saat itu ia merasa bahwa orang-orang yang datang ke ibukota ini masih kesulitan menemukan oleh-oleh khas Jakarta karena toko yang menyediakan hal itu masih terbatas. Ia menjual berbagai produk oleh-oleh seperti pakaian, suvenir, tas, sandal dan aneka makanan khas Jakarta seperti kue bakar Betawi, dodol, gabus manis, akar kelapa, kembang goyang hingga bir pletok.

Luki mengakui, tak banyak oleh-oleh Jakarta yang khas sekali, tetapi yang paling terkenal dari Jakarta yaitu bir pletok. “Jakarta tuh sebenarnya agak susah yah kalau bilang apa sih yang bener-bener dari Jakarta? Aku sih lebih prever jualin bir pletok, kalau daerah lain seperti Jogja ada wedang, nah Jakarta yah ada ini,” ujar Luki kepada Elshinta.

Ia kerap menjelaskan alasan atau sejarah yang melatarbelakangi munculnya makanan khas Jakarta tersebut. Bir pletok misalnya, muncul karena pada saat penjajahan, masyarakat Betawi ingin meminum bir seperti orang Belanda, namun dilarang oleh syariat Islam karena mengandung alkohol.  Akhirnya dibuatlah minuman dari jahe yang ketika diseduh berwarna merah kecoklatan seperti bir. Sementara itu, disebut pletok karena pada saat dicampur dengan es, akan mengelurkan bunyi “pletok-pletok”.

Tidak hanya soal betawi

Menurut Luki, makanan khas Betawi banyak diburu oleh pelanggan dari Indonesia, sementara wisawatan dari luar negeri cenderung menyukai suvenir atau aksesori untuk dijadikan kenangan-kenangan. Harga yang ditawarkan beragam, untuk makanan misalnya, harganya berkisar antara Rp20.000 hingga Rp50.000.  Sementara pakaian dijual mulai dari harga Rp35.000 hingga Rp115.000.

Meskipun Jakarta sangat identik dengan Suku Betawi, Luki mengatakan bahwa produk yang ia tawarkan tidak melulu soal Betawi.  “Saya juga tidak mau terlalu betawi sekali, karena memandang Jakarta lebih seperti melting plot,” ujarnya.  Setelah sukses di Kasablanka, Luki kemudian memutuskan untuk pindah ke Thamrin City, tidak lagi memakai gedung milik Pemprov DKI karena menurutnya memakai fasilitas pemerintah itu sedikit repot.

Baca jugaIni rahasia kesuksesan mie Aceh Seulawah hingga punya omset ratusan juta rupiah

“Tidak enaknya kalau menggunakan fasilitas pemerintah itu setiap ganti pejabat, ganti kebijakan, jadi agak merepotkon,” ujar Luki yang kini  sudah memiliki tiga orang karyawan tersebut. Setelah membuka toko nya sendiri di daerah Thamrin, Ia membuka cabang pertamanya di Gedung Kerta Niaga yang berada di samping kiri Museum Sejarah Jakarta. 

Persaingan belum terlalu ketat

Soal pemasaran, Luki memanfaatkan website untuk menjual berbagai macam produk oleh-olehnya. Melalui website tersebut, Luki dapat menjual produk hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Selama ini, permintaan lebih banyak datang Ia juga memanfaatkan layanan pengiriman kilat dari ojek online untuk memenuhi permintaan pembeli. 

Diakuinya, kendala saat pertama kali merintis usaha ini adalah bagaimana mengenalkan dan memasarkan produk-produknya tersebut. Luki mengaku bisnis oleh-oleh khas Jakarta seperti yang ia geluti saat ini persaingannya tidak terlalu ketat.  Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena Jakarta bukanlah kota wisata seperti Bandung atau Yogyakarta. “Kebanyakan orang yang datang ke Jakarta untuk bekerja. Jadi masih belum seperti Jogja yang tiap beberapa meter langsung ada ini segala macam.” ujar Luki

Terlebih lagi, untuk toko oleh-oleh Jakarta yang menyediakan makanan, kerajinan, hingga pakaian seperti yang ia geluti ini masih sangat sedikit.
 “Untuk yang benar-benar full, ada makanan, ada suvenir, masih jarang,” ujar Luki yang mengaku sekarang lebih nyaman sebagai wiraswasta tersebut. 
Kedepannya, ia berencana untuk membuka cabang baru. Lokasi yang ia targetkan sebagai cabang barunya tersebut adalah bandara karena banyak sekali pelanggan yang menanyakannya. Dengan memasarkan produknya di bandara, Luki ingin menyasar para turis baik dalam negeri maupun luar negeri yang hendak kembali ke kampung halaman mereka. Dari sisi produknya, ia berencana akan menambah variasi kaos-kaos yang bertema Jakarta.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Sepakbola | 17 Oktober 2018 - 06:29 WIB

Timnas Indonesia vs Hong Kong imbang, ini pengakuan Bima Sakti

Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 01:23 WIB

Gempa guncang Sumba Barat Daya dan Badung Bali

Bencana Alam | 16 Oktober 2018 - 21:57 WIB

BPBD: Dampak kekeringan Gunung Kidul meluas

Elshinta.com -  Luki Handayani pemilik usaha oleh-oleh khas Jakarta ini dulu seorang karyawati di sebuah perusahaan. Ia tergerak untuk berbisnis ketika melihat sebuah gedung kosong di daerah Kasablanka, Jakarta Selatan. Gedung kosong tersebut ternyata milik Pemprov DKI Jakarta yang sudah cukup lama tidak dipakai. Ia terpikir mengapa tidak dijadikan tempat usaha saja ketimbang dibiarkan kosong tak berpenghuni. 

Luki lantas mencoba menghubungi pihak pemprov yang menangani gedung tersebut, mulai mengajukan proposal kerjasama untuk menjadikan tempat itu sebagai toko yang menyediakan oleh-oleh khas Jakarta. Tidak disangka, proposal tersebut diterima dan ia harus berpikir keras untuk menjalankan bisnis yang ia usulkan tersebut. Luki lalu menghubungi Dinas UMKM Jakarta untuk mengetahui data pelaku usaha yang memproduksi aneka oleh-oleh Khas Jakarta. 

Setelahnya, ia mendatangi pelaku-pelaku usaha tersebut dan mengajak untuk kerjasama. Mulailah ia menjual produk dari pelaku UMKM yang ia temui dengan sistem konsinyiasi. Jadi, awalnya tidak modal sama sekali. 

Bir bletok, minuman khas Jakarta

Mengenai produk oleh-oleh Khas Jakarta, Luki mengaku tidak punya alasan khusus mengapa ia memilih jenis produk seperti ini. Saat itu ia merasa bahwa orang-orang yang datang ke ibukota ini masih kesulitan menemukan oleh-oleh khas Jakarta karena toko yang menyediakan hal itu masih terbatas. Ia menjual berbagai produk oleh-oleh seperti pakaian, suvenir, tas, sandal dan aneka makanan khas Jakarta seperti kue bakar Betawi, dodol, gabus manis, akar kelapa, kembang goyang hingga bir pletok.

Luki mengakui, tak banyak oleh-oleh Jakarta yang khas sekali, tetapi yang paling terkenal dari Jakarta yaitu bir pletok. “Jakarta tuh sebenarnya agak susah yah kalau bilang apa sih yang bener-bener dari Jakarta? Aku sih lebih prever jualin bir pletok, kalau daerah lain seperti Jogja ada wedang, nah Jakarta yah ada ini,” ujar Luki kepada Elshinta.

Ia kerap menjelaskan alasan atau sejarah yang melatarbelakangi munculnya makanan khas Jakarta tersebut. Bir pletok misalnya, muncul karena pada saat penjajahan, masyarakat Betawi ingin meminum bir seperti orang Belanda, namun dilarang oleh syariat Islam karena mengandung alkohol.  Akhirnya dibuatlah minuman dari jahe yang ketika diseduh berwarna merah kecoklatan seperti bir. Sementara itu, disebut pletok karena pada saat dicampur dengan es, akan mengelurkan bunyi “pletok-pletok”.

Tidak hanya soal betawi

Menurut Luki, makanan khas Betawi banyak diburu oleh pelanggan dari Indonesia, sementara wisawatan dari luar negeri cenderung menyukai suvenir atau aksesori untuk dijadikan kenangan-kenangan. Harga yang ditawarkan beragam, untuk makanan misalnya, harganya berkisar antara Rp20.000 hingga Rp50.000.  Sementara pakaian dijual mulai dari harga Rp35.000 hingga Rp115.000.

Meskipun Jakarta sangat identik dengan Suku Betawi, Luki mengatakan bahwa produk yang ia tawarkan tidak melulu soal Betawi.  “Saya juga tidak mau terlalu betawi sekali, karena memandang Jakarta lebih seperti melting plot,” ujarnya.  Setelah sukses di Kasablanka, Luki kemudian memutuskan untuk pindah ke Thamrin City, tidak lagi memakai gedung milik Pemprov DKI karena menurutnya memakai fasilitas pemerintah itu sedikit repot.

Baca jugaIni rahasia kesuksesan mie Aceh Seulawah hingga punya omset ratusan juta rupiah

“Tidak enaknya kalau menggunakan fasilitas pemerintah itu setiap ganti pejabat, ganti kebijakan, jadi agak merepotkon,” ujar Luki yang kini  sudah memiliki tiga orang karyawan tersebut. Setelah membuka toko nya sendiri di daerah Thamrin, Ia membuka cabang pertamanya di Gedung Kerta Niaga yang berada di samping kiri Museum Sejarah Jakarta. 

Persaingan belum terlalu ketat

Soal pemasaran, Luki memanfaatkan website untuk menjual berbagai macam produk oleh-olehnya. Melalui website tersebut, Luki dapat menjual produk hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Selama ini, permintaan lebih banyak datang Ia juga memanfaatkan layanan pengiriman kilat dari ojek online untuk memenuhi permintaan pembeli. 

Diakuinya, kendala saat pertama kali merintis usaha ini adalah bagaimana mengenalkan dan memasarkan produk-produknya tersebut. Luki mengaku bisnis oleh-oleh khas Jakarta seperti yang ia geluti saat ini persaingannya tidak terlalu ketat.  Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena Jakarta bukanlah kota wisata seperti Bandung atau Yogyakarta. “Kebanyakan orang yang datang ke Jakarta untuk bekerja. Jadi masih belum seperti Jogja yang tiap beberapa meter langsung ada ini segala macam.” ujar Luki

Terlebih lagi, untuk toko oleh-oleh Jakarta yang menyediakan makanan, kerajinan, hingga pakaian seperti yang ia geluti ini masih sangat sedikit.
 “Untuk yang benar-benar full, ada makanan, ada suvenir, masih jarang,” ujar Luki yang mengaku sekarang lebih nyaman sebagai wiraswasta tersebut. 
Kedepannya, ia berencana untuk membuka cabang baru. Lokasi yang ia targetkan sebagai cabang barunya tersebut adalah bandara karena banyak sekali pelanggan yang menanyakannya. Dengan memasarkan produknya di bandara, Luki ingin menyasar para turis baik dalam negeri maupun luar negeri yang hendak kembali ke kampung halaman mereka. Dari sisi produknya, ia berencana akan menambah variasi kaos-kaos yang bertema Jakarta.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 16 Oktober 2018 - 19:45 WIB

Apakah bisnis pakaian merupakan bisnis musiman?

Senin, 15 Oktober 2018 - 20:30 WIB

Bagaimana caranya menambah pelanggan baru?

Senin, 15 Oktober 2018 - 19:44 WIB

Langkah dan strategi membuka restoran

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com