Rabu, 17 Oktober 2018 | 15:44 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Pemilu / Pemilihan Presiden 2019

Tak dapat tiket pilpres, Rizal Ramli tetap konsisten berjuang untuk rakyat kecil

Jumat, 10 Agustus 2018 - 14:24 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Istimewa. Foto: Redaksi
Istimewa. Foto: Redaksi

Elshinta.com - Meski tidak berhasil mendapatkan tiket di Pilpres 2019, ekonom senior Rizal Ramli diyakini tetap komitmen dan konsisten untuk terus berkontribusi dalam membangun bangsa.    

“Saya melihat Rizal Ramli memiliki keteguhan terhadap cita-cita untuk Indonesia yang lebih baik, lebih adil dan lebih sejahtera. RR pun selalu mengingatkan bahwa kita tidak boleh berhenti untuk berjuang bagi bangsa,” ujar aktivis Pergerakan Kedaulatan Rakyat, Tri Wibowo Santoso, Jumat (10/8) dalam rilis yang diterima Redaksi Elshinta.

Pria yang karib disapa Bowo ini mengingatkan, bahwa sejak mahasiswa-pun Rizal Ramli sudah melakukan aksi nyata dalam memperjuangkan nasib rakyat kecil. Misalnya, melalui Gerakan Anti Kebodohan di era tahun 1977-1978, Rizal Ramli bersama kawan-kawannya sukses memperjuangkan program wajib belajar 6 tahun.   

“Sewaktu masih menjadi mahasiswa, RR sudah berjuang membela rakyat kecil yang tidak mampu mengenyam bangku sekolahan, harena biaya pendidikan yang begitu mahal. Melalui GAK, pemerintah Orde Baru saat itu luluh, dan semua masyarakat bisa mengenyam pendidikan secara gratis," ujar Bowo. 

Bahkan, sambung Bowo, saat menjadi pejabat di era pemerintahan Abdurahman Wahid alias Gus Dur, ada setumpuk persoalan yang secara cepat diselesaikan oleh RR. Misalnya, sebut Bowo, pertumbuhan ekonomi dari minus 3 persen, menjadi 4,5 persen kurang dari 2 tahun. 

"Ketika didapuk jadi Menko Perekonomian di era Gus Dur, sebenarnya kesialan bagi RR, karena ekonomi saat itu karut marut. Tapi, karena pemikirannya out of the box, bisa tuh pertumbuhan ekonomi dari minus 3 persen jadi 4,5 persen," beber Bowo.     

Begitu juga saat Rizal Ramli menjadi Menko Maritim di era pemerintahan Jokowi, daya kritisnya-pun tidak tumpul. Pendiri lembaga think thank Econit itu tetap mengkritisi beberapa kebijakan yang berpotensi merugikan keuangan negara, misalnya, pembelian pesawat udara berbadan besar A350 untuk maskapai Garuda Indonesia, megaproyek listrik 35 ribu megawatt, Blok Masela.

"Kalau tidak ada kepretan RR saat itu, kita bisa bayangkan berapa triliun rupiah keuangan negara yang terbuang sia-sia," tukas Bowo.    

Melihat dari rekam jejaknya di luar maupun di dalam pemerintahan, Bowo berpendapat, Rizal Ramli tetap konsisten memperjuangkan demokrasi dan keadilan.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 15:41 WIB

Ribuan petani unjuk rasa nilai SK Bupati penertiban KJA merugikan

Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 15:30 WIB

Menteri KKP sebut pemicu perang masa depan adalah sumber daya alam

Pembangunan | 17 Oktober 2018 - 15:15 WIB

Presiden ingin rumah sakit Indonesia menjadi `Smart Hospital`

Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 15:07 WIB

Presiden: Teknologi picu gaya hidup tidak sehat

Hukum | 17 Oktober 2018 - 14:55 WIB

Fayakhun mengaku dikenalkan keluarga Jokowi kasus Bakamla

Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 14:42 WIB

Lubang di ruang anggota fraksi DPR Demokrat diketahui sejak Selasa

Elshinta.com - Meski tidak berhasil mendapatkan tiket di Pilpres 2019, ekonom senior Rizal Ramli diyakini tetap komitmen dan konsisten untuk terus berkontribusi dalam membangun bangsa.    

“Saya melihat Rizal Ramli memiliki keteguhan terhadap cita-cita untuk Indonesia yang lebih baik, lebih adil dan lebih sejahtera. RR pun selalu mengingatkan bahwa kita tidak boleh berhenti untuk berjuang bagi bangsa,” ujar aktivis Pergerakan Kedaulatan Rakyat, Tri Wibowo Santoso, Jumat (10/8) dalam rilis yang diterima Redaksi Elshinta.

Pria yang karib disapa Bowo ini mengingatkan, bahwa sejak mahasiswa-pun Rizal Ramli sudah melakukan aksi nyata dalam memperjuangkan nasib rakyat kecil. Misalnya, melalui Gerakan Anti Kebodohan di era tahun 1977-1978, Rizal Ramli bersama kawan-kawannya sukses memperjuangkan program wajib belajar 6 tahun.   

“Sewaktu masih menjadi mahasiswa, RR sudah berjuang membela rakyat kecil yang tidak mampu mengenyam bangku sekolahan, harena biaya pendidikan yang begitu mahal. Melalui GAK, pemerintah Orde Baru saat itu luluh, dan semua masyarakat bisa mengenyam pendidikan secara gratis," ujar Bowo. 

Bahkan, sambung Bowo, saat menjadi pejabat di era pemerintahan Abdurahman Wahid alias Gus Dur, ada setumpuk persoalan yang secara cepat diselesaikan oleh RR. Misalnya, sebut Bowo, pertumbuhan ekonomi dari minus 3 persen, menjadi 4,5 persen kurang dari 2 tahun. 

"Ketika didapuk jadi Menko Perekonomian di era Gus Dur, sebenarnya kesialan bagi RR, karena ekonomi saat itu karut marut. Tapi, karena pemikirannya out of the box, bisa tuh pertumbuhan ekonomi dari minus 3 persen jadi 4,5 persen," beber Bowo.     

Begitu juga saat Rizal Ramli menjadi Menko Maritim di era pemerintahan Jokowi, daya kritisnya-pun tidak tumpul. Pendiri lembaga think thank Econit itu tetap mengkritisi beberapa kebijakan yang berpotensi merugikan keuangan negara, misalnya, pembelian pesawat udara berbadan besar A350 untuk maskapai Garuda Indonesia, megaproyek listrik 35 ribu megawatt, Blok Masela.

"Kalau tidak ada kepretan RR saat itu, kita bisa bayangkan berapa triliun rupiah keuangan negara yang terbuang sia-sia," tukas Bowo.    

Melihat dari rekam jejaknya di luar maupun di dalam pemerintahan, Bowo berpendapat, Rizal Ramli tetap konsisten memperjuangkan demokrasi dan keadilan.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com