Peredaran garam tak beryodium masih ditemukan di Kudus
Jumat, 10 Agustus 2018 - 15:15 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Sigit Kurniawan
Tim GAKY sedang melakukan uji sampel 28 jenis merk garam. Foto: Sutini/Radio Elshinta

Elshinta.com - Tim gabungan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah meningkatkan pengawasan peredaran garam beryodium di pasaran, guna mencegah beredarnya garam konsumsi yang tidak beryodium. 

Dimana Tim GAKY selama 9 hari berkeliling ke 17 pasar serta 10 desa percontohan. Ada sebanyak 28 jenis merk garam yang diambil sampelnya untuk diuji kadar yodiumnya. "Adanya pengawasan di lapangan, setidaknya mempersempit ruang peredaran garam tak beryodium yang kemungkinan masih dijual dipasaran," ujar Mukhlisin Anggota Tim GAKY disela-sela pengujian sampel garam, Kamis (9/8), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini.

Dikatakannya, selain meningkatkan pengawasan garam beryodium di pasar-pasar tradisional, pihaknya juga melakukan pengawasan di 10 desa percontohan yakni 5 desa di Kecamatan Undaan dan 5 desa di Kecamatan Mejobo. "Desa Kutuk merupakan desa yang cukup berhasil dengan tingkat kesadaran tinggi karena masyarakatnya telah mengkonsumsi garam beryodium sesuai standar SNI. Dalam pengawasan ke pasar maupun ke desa percontohan, Kami mengambil sampel garam yang belum pernah diuji sebelumnya untuk dilakukan pengujian," imbuh Mukhlisin.

Dia menyebut hasil pengawasan kali ini masih ditemukan peredaran garam dengan kandungan yodium yang tidak sesuai standar yakni minimal 30 ppm (part per million). "Kami merekomendasikan pada warga untuk membeli garam yang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebab dari 28 merk yang diuji, terdapat 8 merk garam baik garam halus maupun briket yang kadar yodium dibawah standar," katanya.

Ditambahkan Mukhlisin, rata-rata garam  yang beredar di Kudus berasal dari kabupaten Pati hanya ada beberapa merk dari Jatim. "Hasil uji ini akan disosialisasikan kemasyarakat. Kami juga bekerja sama dengan Instansi terkait dikabupaten Pati untuk melakukan  pembinaan keprodusen garam yang menjual garam tidak sesuai SNI," ungkapnya.

Mukhlisin berpesan kepada masyarakat pentingnya mengonsumsi garam beryodium, karena kekurangan garam beryodium dapat mengakibatkan keguguran pada ibu hamil dan kematian bayi lahir.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Rabu, 24 April 2019 - 21:05 WIB
Elshinta.com - Sebanyak 21 TPS dikabupaten Kudus, Jawa Tengah melakukan penghitungan surat suar...
Rabu, 24 April 2019 - 20:46 WIB
Elshinta.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat tidak terjebak dalam perse...
Rabu, 24 April 2019 - 19:59 WIB
Elshinta.com - Hingga Rabu (24/4) malam, pukul 19:45:04 WIB, data yang masuk di Sistem Informas...
Rabu, 24 April 2019 - 19:45 WIB
Elshinta.com - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Manila menyampaikan bahwa tidak...
Rabu, 24 April 2019 - 19:15 WIB
Elshinta.com - Adanya pengakuan sebagai penganut kepercayaan oleh pemerintah pasca putusan...
Rabu, 24 April 2019 - 18:44 WIB
Elshinta.com - Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu menganggap saat in...
Rabu, 24 April 2019 - 18:06 WIB
Elshinta.com - Pengamat Politik UIN Jakarta A Bakir Ihsan meminta semua pihak untuk memercayai ...
Rabu, 24 April 2019 - 17:08 WIB
Elshinta.com - Kapolres Indramayu, Jawa Barat, AKBP M Yoris MY Marzuki menyebutkan ba...
Rabu, 24 April 2019 - 17:06 WIB
Elshinta.com - Hingga Rabu (24/4) sore, pukul 17:00:03 WIB, data yang masuk di Sistem Informasi...
Rabu, 24 April 2019 - 16:45 WIB
Elshinta.com - Kementerian Agama (Kemenag) belum menerima surat atau pemberitahuan resmi t...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)