Jumat, 19 Oktober 2018 | 19:31 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Peredaran garam tak beryodium masih ditemukan di Kudus

Jumat, 10 Agustus 2018 - 15:15 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Tim GAKY sedang melakukan uji sampel 28 jenis merk garam. Foto: Sutini/Radio Elshinta
Tim GAKY sedang melakukan uji sampel 28 jenis merk garam. Foto: Sutini/Radio Elshinta

Elshinta.com - Tim gabungan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah meningkatkan pengawasan peredaran garam beryodium di pasaran, guna mencegah beredarnya garam konsumsi yang tidak beryodium. 

Dimana Tim GAKY selama 9 hari berkeliling ke 17 pasar serta 10 desa percontohan. Ada sebanyak 28 jenis merk garam yang diambil sampelnya untuk diuji kadar yodiumnya. "Adanya pengawasan di lapangan, setidaknya mempersempit ruang peredaran garam tak beryodium yang kemungkinan masih dijual dipasaran," ujar Mukhlisin Anggota Tim GAKY disela-sela pengujian sampel garam, Kamis (9/8), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini.

Dikatakannya, selain meningkatkan pengawasan garam beryodium di pasar-pasar tradisional, pihaknya juga melakukan pengawasan di 10 desa percontohan yakni 5 desa di Kecamatan Undaan dan 5 desa di Kecamatan Mejobo. "Desa Kutuk merupakan desa yang cukup berhasil dengan tingkat kesadaran tinggi karena masyarakatnya telah mengkonsumsi garam beryodium sesuai standar SNI. Dalam pengawasan ke pasar maupun ke desa percontohan, Kami mengambil sampel garam yang belum pernah diuji sebelumnya untuk dilakukan pengujian," imbuh Mukhlisin.

Dia menyebut hasil pengawasan kali ini masih ditemukan peredaran garam dengan kandungan yodium yang tidak sesuai standar yakni minimal 30 ppm (part per million). "Kami merekomendasikan pada warga untuk membeli garam yang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebab dari 28 merk yang diuji, terdapat 8 merk garam baik garam halus maupun briket yang kadar yodium dibawah standar," katanya.

Ditambahkan Mukhlisin, rata-rata garam  yang beredar di Kudus berasal dari kabupaten Pati hanya ada beberapa merk dari Jatim. "Hasil uji ini akan disosialisasikan kemasyarakat. Kami juga bekerja sama dengan Instansi terkait dikabupaten Pati untuk melakukan  pembinaan keprodusen garam yang menjual garam tidak sesuai SNI," ungkapnya.

Mukhlisin berpesan kepada masyarakat pentingnya mengonsumsi garam beryodium, karena kekurangan garam beryodium dapat mengakibatkan keguguran pada ibu hamil dan kematian bayi lahir.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 19:14 WIB

Cegah ujaran kebencian, ulama se Nusantara bentuk Maulana

Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 19:09 WIB

Kota Malang terima 4.319 berkas pelamar CPNS

Bencana Alam | 19 Oktober 2018 - 18:58 WIB

Listrik di Sulteng sudah normal

Arestasi | 19 Oktober 2018 - 18:46 WIB

Polres Malang Kota gulung jaringan narkoba

Bencana Alam | 19 Oktober 2018 - 18:35 WIB

Mensos: Hunian tetap pengungsi Sulteng selesai 2020

Elshinta.com - Tim gabungan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah meningkatkan pengawasan peredaran garam beryodium di pasaran, guna mencegah beredarnya garam konsumsi yang tidak beryodium. 

Dimana Tim GAKY selama 9 hari berkeliling ke 17 pasar serta 10 desa percontohan. Ada sebanyak 28 jenis merk garam yang diambil sampelnya untuk diuji kadar yodiumnya. "Adanya pengawasan di lapangan, setidaknya mempersempit ruang peredaran garam tak beryodium yang kemungkinan masih dijual dipasaran," ujar Mukhlisin Anggota Tim GAKY disela-sela pengujian sampel garam, Kamis (9/8), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini.

Dikatakannya, selain meningkatkan pengawasan garam beryodium di pasar-pasar tradisional, pihaknya juga melakukan pengawasan di 10 desa percontohan yakni 5 desa di Kecamatan Undaan dan 5 desa di Kecamatan Mejobo. "Desa Kutuk merupakan desa yang cukup berhasil dengan tingkat kesadaran tinggi karena masyarakatnya telah mengkonsumsi garam beryodium sesuai standar SNI. Dalam pengawasan ke pasar maupun ke desa percontohan, Kami mengambil sampel garam yang belum pernah diuji sebelumnya untuk dilakukan pengujian," imbuh Mukhlisin.

Dia menyebut hasil pengawasan kali ini masih ditemukan peredaran garam dengan kandungan yodium yang tidak sesuai standar yakni minimal 30 ppm (part per million). "Kami merekomendasikan pada warga untuk membeli garam yang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebab dari 28 merk yang diuji, terdapat 8 merk garam baik garam halus maupun briket yang kadar yodium dibawah standar," katanya.

Ditambahkan Mukhlisin, rata-rata garam  yang beredar di Kudus berasal dari kabupaten Pati hanya ada beberapa merk dari Jatim. "Hasil uji ini akan disosialisasikan kemasyarakat. Kami juga bekerja sama dengan Instansi terkait dikabupaten Pati untuk melakukan  pembinaan keprodusen garam yang menjual garam tidak sesuai SNI," ungkapnya.

Mukhlisin berpesan kepada masyarakat pentingnya mengonsumsi garam beryodium, karena kekurangan garam beryodium dapat mengakibatkan keguguran pada ibu hamil dan kematian bayi lahir.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com