Sabtu, 20 Oktober 2018 | 06:01 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Nelayan Bolaang Mongondow dilarang tangkap hiu

Jumat, 10 Agustus 2018 - 20:57 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2Oqwq4a
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2Oqwq4a

Elshinta.com - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Wahyudin Gonibala secara tegas melarang nelayan menangkap ikan hiu, apalagi memperjualbelikan di pasar tradisional dengan bebas.

"Ikan hiu merupakan hewan yang dilindungi dan sangat dilarang untuk ditangkap apalagi diperjualbelikan dengan bebas di pasar-pasar tradisional," katanya di Bolaang Mongondow, Jumat (10/8).

Dia sempat kaget ketika mendengar laporan sejumlah warga bahwa ada ikan hiu dijual di Pasar Lolak, Kecamatan Lolak oleh para pedagang. "Saya kaget ketika dengar laporan itu, karena sudah beberapa kali disampaikan bahwa ikan hiu tidak boleh ditangkap. Kenapa tidak boleh ditangkap? Karena ikan hiu itu dilindungi," katanya, seperti dikutip Antara.

Pihaknya segera memeriksa di pasar maupun kelompok nelayan mana yang dengan sengaja menangkap hewan yang dilindungi tersebut. "Akan kami cari informasi dan siapa nelayan yang sengaja menangkap ikan hiu tersebut," katanya.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah menerbitkan larangan penangkapan ikan hiu melalui Peraturan Menteri 59 Tahun 2014. Ada 73 jenis ikan hiu yang dilarang untuk ditangkap karena populasinya di laut bebas sudah langkah.

Dari 73 jenis itu, dua diantaranya berada di perairan Indonesia, yakni hiu martil (Sphyrna spp) dan koboi (Carcharhinus Longimanus).

Jadi, bagi pelanggar aturan itu akan ditindak tegas. Selain nelayan, pihaknya juga akan menindak para pedagang ikan tersebut di pasar. "Kami tidak akan membiarkan kebiasaan ini terus terjadi. Nanti akan disiapkan tim DKP dan segera diturunkan ke lapangan untuk menindaklanjuti laporan penangkapan ikan hiu tersebut di Pasar Lolak," ujarnya.

Menurut laporan masyarakat, masih banyak nelayan yang sengaja menangkap dan memperjualbelikan ikan hiu. Buktinya, di Pasar Lolak, penjualan sirip hiu ini masih marak terjadi, bahkan para pedagang ikan malah terang-terangan menjual ikan hiu.

Ikan hiu yang merupakan hasil tangkapan nelayan ini langsung diserbu para pengepul yang sudah menanti. Bahkan, harga ikan hiu yang dijual tergolong murah, harganya bervariasi dan tergantung ukuran. Taksiran harga mulai dari Rp15 ribu hingga Rp50 ribu.

Sementara ketika ditelusuri, ditanya didapat dari mana, seorang pedagang menjawab didapat dari nelayan setempat. "Ikan ini kami dapat dari nelayan. Mereka menggunakan alat pancing untuk menangkap ikan tersebut. Katanya mereka dapat di wilayah laut lepas antara Desa Poigar dan Inobonto," ungkap pedagang tersebut.  

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 21:49 WIB

Presiden minta aparatur pemerintah turun ke lapangan

Bencana Alam | 19 Oktober 2018 - 21:37 WIB

Panglima TNI tinjau dampak likuifaksi Palu

Liga Champions | 19 Oktober 2018 - 21:25 WIB

Buffon tidak ingin PSG hadapi Juve di final Liga Champions

Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 21:12 WIB

TMMD di Malinau, TNI dan warga semenisasi jalan

Pemasaran | 19 Oktober 2018 - 20:46 WIB

Cara “mencuri” followers akun instagram kompetitor bisnis

Elshinta.com - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Wahyudin Gonibala secara tegas melarang nelayan menangkap ikan hiu, apalagi memperjualbelikan di pasar tradisional dengan bebas.

"Ikan hiu merupakan hewan yang dilindungi dan sangat dilarang untuk ditangkap apalagi diperjualbelikan dengan bebas di pasar-pasar tradisional," katanya di Bolaang Mongondow, Jumat (10/8).

Dia sempat kaget ketika mendengar laporan sejumlah warga bahwa ada ikan hiu dijual di Pasar Lolak, Kecamatan Lolak oleh para pedagang. "Saya kaget ketika dengar laporan itu, karena sudah beberapa kali disampaikan bahwa ikan hiu tidak boleh ditangkap. Kenapa tidak boleh ditangkap? Karena ikan hiu itu dilindungi," katanya, seperti dikutip Antara.

Pihaknya segera memeriksa di pasar maupun kelompok nelayan mana yang dengan sengaja menangkap hewan yang dilindungi tersebut. "Akan kami cari informasi dan siapa nelayan yang sengaja menangkap ikan hiu tersebut," katanya.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah menerbitkan larangan penangkapan ikan hiu melalui Peraturan Menteri 59 Tahun 2014. Ada 73 jenis ikan hiu yang dilarang untuk ditangkap karena populasinya di laut bebas sudah langkah.

Dari 73 jenis itu, dua diantaranya berada di perairan Indonesia, yakni hiu martil (Sphyrna spp) dan koboi (Carcharhinus Longimanus).

Jadi, bagi pelanggar aturan itu akan ditindak tegas. Selain nelayan, pihaknya juga akan menindak para pedagang ikan tersebut di pasar. "Kami tidak akan membiarkan kebiasaan ini terus terjadi. Nanti akan disiapkan tim DKP dan segera diturunkan ke lapangan untuk menindaklanjuti laporan penangkapan ikan hiu tersebut di Pasar Lolak," ujarnya.

Menurut laporan masyarakat, masih banyak nelayan yang sengaja menangkap dan memperjualbelikan ikan hiu. Buktinya, di Pasar Lolak, penjualan sirip hiu ini masih marak terjadi, bahkan para pedagang ikan malah terang-terangan menjual ikan hiu.

Ikan hiu yang merupakan hasil tangkapan nelayan ini langsung diserbu para pengepul yang sudah menanti. Bahkan, harga ikan hiu yang dijual tergolong murah, harganya bervariasi dan tergantung ukuran. Taksiran harga mulai dari Rp15 ribu hingga Rp50 ribu.

Sementara ketika ditelusuri, ditanya didapat dari mana, seorang pedagang menjawab didapat dari nelayan setempat. "Ikan ini kami dapat dari nelayan. Mereka menggunakan alat pancing untuk menangkap ikan tersebut. Katanya mereka dapat di wilayah laut lepas antara Desa Poigar dan Inobonto," ungkap pedagang tersebut.  

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com