Kamis, 18 Oktober 2018 | 21:58 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Gaya Hidup / Kesehatan

Risiko jika pulang kerja masih cek email

Sabtu, 11 Agustus 2018 - 17:43 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2vAM1rd
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2vAM1rd

Elshinta.com - Sudah pulang dari kantor tapi masih cek email ternyata punya risiko terhadap kesehatan, ini kesimpulan dari penelitian Universitas Virginia Tech.

Karyawan di universitas ini  diteliti  dan ternyata mereka memiliki tingkat kecemasan yang bisa membahayakan kesehatan. Gara-garanya, mereka masih suka mengecek email terkait pekerjaan meski sudah lewat jam kantor. Begitu juga mereka punya kebiasaan mengecek email  ketika bangun di pagi hari.

"Tuntutan kerja dan kehidupan non-kerja yang bersaing menghadirkan dilema bagi karyawan, yang memicu perasaan cemas dan membahayakan pekerjaan serta kehidupan pribadi," kata rekan penulis William Becker, profesor manajemen di Pamplin College of Business.

Temuan ini menambah semakin banyaknya bukti bahwa "batasan kerja fleksibel" sering berubah menjadi "kerja tanpa batas" - yaitu atasan menganggap staf tidak akan pernah istirahat.

Kekhawatiran itu muncul dari jutaan karyawan yang membaca email sebelum mereka pergi tidur  dan hal yang dilakukan pertama kali saatmereka bangun tidur.

Studi Becker menemukan kebiasaan itu menimbulkan ketegangan dan kecemasan, bagi karyawan, pasangannya, atau anak-anak mereka. Ini adalah makalah pertama yang mengidentifikasi fenomena yang memiliki implikasi bagi pekerja kantor di seluruh dunia.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan tekanan dari bertambahnya tuntutan pekerjaan  menyebabkan ketegangan dan konflik dalam hubungan keluarga.

Hal ini terjadi jika karyawan tidak dapat memenuhi peran di rumah yang non-kerja, "misalnya ketika seseorang membawa pekerjaan ke rumah untuk menyelesaikannya," kata Dr Becker.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa karyawan bahkan tidak perlu terlibat dalam pekerjaan yang sebenarnya selama waktu non-kerja agar efeknya terlihat.

Ini berbeda dengan tuntutan terkait pekerjaan yang menambah tekanan, baik fisik maupun psikologis, dengan mengharuskan waktu jauh dari rumah.

"Dampak berbahaya dari budaya organisasi 'yang harus selalu siap sedia' sering tidak diketahui atau disamarkan sebagai manfaat - peningkatan kenyamanan, misalnya, atau otonomi yang lebih tinggi dan kontrol atas batas-batas kehidupan kerja," kata Dr Becker.

"Penelitian kami mendapati bahwa 'batasan kerja fleksibel' sering berubah menjadi 'kerja tanpa batas' mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan karyawan dan keluarga mereka."

Dia mengatakan idealnya ada kebijakan mengurangi pantauan komunikasi elektronik di luar pekerjaan.

Kalau hal itu tidak mungkin, opsi lain adalah menetapkan batas-batas komunikasi elektronik yang dapat diterima selama di luar jam kerja.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa mengecek email kerja di rumah atau menerima telepon dari bos saat akhir pekan dapat merusak kesehatan. Penelitian lain terhadap 57.000 orang menemukan bahwa lebih dari separuh orang bekerja di luar jam normal mereka.

Para peneliti menemukan bahwa mereka yang bekerja di malam hari dan akhir pekan lebih cenderung mengeluhkan insomnia, sakit kepala, kelelahan, kecemasan dan masalah perut.

Masalah otot dan masalah kardiovaskular juga terkait dengan bekerja di luar jam normal, demikian dikutip Antara dari Daily Mail.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Lingkungan | 18 Oktober 2018 - 21:48 WIB

TMMD, Warga beri lahan, TNI buat jalan

Aktual Dalam Negeri | 18 Oktober 2018 - 21:36 WIB

Naikan branding, Pemkab Kudus optimalkan Tim Jaring Pukat

Aktual Dalam Negeri | 18 Oktober 2018 - 20:55 WIB

Warga temukan ratusan peluru di tempat pembuangan sampah

Pemasaran | 18 Oktober 2018 - 20:45 WIB

Pentingnya menggunakan email marketing bagi bisnis online

Elshinta.com - Sudah pulang dari kantor tapi masih cek email ternyata punya risiko terhadap kesehatan, ini kesimpulan dari penelitian Universitas Virginia Tech.

Karyawan di universitas ini  diteliti  dan ternyata mereka memiliki tingkat kecemasan yang bisa membahayakan kesehatan. Gara-garanya, mereka masih suka mengecek email terkait pekerjaan meski sudah lewat jam kantor. Begitu juga mereka punya kebiasaan mengecek email  ketika bangun di pagi hari.

"Tuntutan kerja dan kehidupan non-kerja yang bersaing menghadirkan dilema bagi karyawan, yang memicu perasaan cemas dan membahayakan pekerjaan serta kehidupan pribadi," kata rekan penulis William Becker, profesor manajemen di Pamplin College of Business.

Temuan ini menambah semakin banyaknya bukti bahwa "batasan kerja fleksibel" sering berubah menjadi "kerja tanpa batas" - yaitu atasan menganggap staf tidak akan pernah istirahat.

Kekhawatiran itu muncul dari jutaan karyawan yang membaca email sebelum mereka pergi tidur  dan hal yang dilakukan pertama kali saatmereka bangun tidur.

Studi Becker menemukan kebiasaan itu menimbulkan ketegangan dan kecemasan, bagi karyawan, pasangannya, atau anak-anak mereka. Ini adalah makalah pertama yang mengidentifikasi fenomena yang memiliki implikasi bagi pekerja kantor di seluruh dunia.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan tekanan dari bertambahnya tuntutan pekerjaan  menyebabkan ketegangan dan konflik dalam hubungan keluarga.

Hal ini terjadi jika karyawan tidak dapat memenuhi peran di rumah yang non-kerja, "misalnya ketika seseorang membawa pekerjaan ke rumah untuk menyelesaikannya," kata Dr Becker.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa karyawan bahkan tidak perlu terlibat dalam pekerjaan yang sebenarnya selama waktu non-kerja agar efeknya terlihat.

Ini berbeda dengan tuntutan terkait pekerjaan yang menambah tekanan, baik fisik maupun psikologis, dengan mengharuskan waktu jauh dari rumah.

"Dampak berbahaya dari budaya organisasi 'yang harus selalu siap sedia' sering tidak diketahui atau disamarkan sebagai manfaat - peningkatan kenyamanan, misalnya, atau otonomi yang lebih tinggi dan kontrol atas batas-batas kehidupan kerja," kata Dr Becker.

"Penelitian kami mendapati bahwa 'batasan kerja fleksibel' sering berubah menjadi 'kerja tanpa batas' mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan karyawan dan keluarga mereka."

Dia mengatakan idealnya ada kebijakan mengurangi pantauan komunikasi elektronik di luar pekerjaan.

Kalau hal itu tidak mungkin, opsi lain adalah menetapkan batas-batas komunikasi elektronik yang dapat diterima selama di luar jam kerja.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa mengecek email kerja di rumah atau menerima telepon dari bos saat akhir pekan dapat merusak kesehatan. Penelitian lain terhadap 57.000 orang menemukan bahwa lebih dari separuh orang bekerja di luar jam normal mereka.

Para peneliti menemukan bahwa mereka yang bekerja di malam hari dan akhir pekan lebih cenderung mengeluhkan insomnia, sakit kepala, kelelahan, kecemasan dan masalah perut.

Masalah otot dan masalah kardiovaskular juga terkait dengan bekerja di luar jam normal, demikian dikutip Antara dari Daily Mail.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com