Rabu, 24 Oktober 2018 | 04:40 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Perempuan / Reproduksi

Tips ajarkan pendidikan seksual sesuai usia

Selasa, 04 September 2018 - 18:17 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto:  https://bit.ly/2ChZTfM
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2ChZTfM

Elshinta.com - Psikolog klinis sekaligus dosen psikologi di Unika Atma Jaya, Inez Kristanti, M.Psi., menekankan pentingnya pemberian edukasi seksual pada anak dan remaja sesuai usia mereka. 

Berikut ini rinciannya:

 

  • Usia 3-5 tahun

Inez menyarankan, pada rentang usia ini anak perlu tahu mengenai bagian-bagian tubuh yang privat. Mana yang privat untuk si anak, mana yang tidak boleh disentuh orang lain. Atau selain orangtua, tidak boleh diperlihatkan ke orang lain. 

"3-5 tahun fokus ke bagian-bagian tubuh," ujar dia di Jakarta, Selasa (4/9).

 

  • Usia 6 tahun hingga memasuki pubertas

Usia 6 tahun ke atas atau usia sekolah dasar menjelang pubertas (sekitar usia 11-12 tahun), bisa siapkan dia ke masa pubertas. Di situ biasanya mulai ada ketertarikan pada lawan jenis. 

"Kita perlu fasilitasi apa yang perlu dilakukan kalau ada ketertarikan pada lawan jenis. Kemudian kalau ada yang menunjukkan ketertarikan pada dia, dia harus berperilaku seperti apa," papar Inez. 

Selain itu ajarkan juga peran laki-laki dan peran perempuan. 

 

  • Masa pubertas, usia saat di sekolah menengah pertama hingga menengah atas 

Pada masa pubertas, ajarkan dia mempersiapkan dirinya kalau perempuan menstruasi, kalau laki-laki mimpi basah. Apa saja perubahan yang akan dia hadapi pada masa itu, semisal menstruasi itu apa atau saat mimpi basah apa yang terjadi. 

"Mereka akan kaget kalau tiba-tiba berdarah. Kadang-kadang orangtua malu untuk membicarakan ini. Keluar dari mana darahnya, saat mimpi basah yang terjadi apa? Ejakulasi. Sebaiknya diajarkan orangtua yang jenis kelaminnya sama. Ibu menjelaskan pada anak perempuan dan ayah pada anak laki-laki," papar Inez, seperti dikutip Antara.

Ingatlah, ketika sudah pubertas, organ reproduksi perempuan sudah siap dibuahi. Jangan lupa, pada saat itu, sudah ada dorongan seksual. Ini yang orangtua seringkali abaikan.

"Bagaimana cara menyikapi dorongan secara sehat? Ketika mulai membicarakan masalah seksualitas pada anak komunikasi orangtua dan anak harus bagus dulu. Supaya anak terbuka pada orangtuanya," tutur Inez. 

 

  • Usia dewasa muda (20-29 tahun)

Dewasa muda, tinggal melanjutkan. Banyak yang usia 23-24 tahun tetapi pengetahuan seksualnya berada di level remaja, karena saat remaja mereka tak mendapatkannya. Menurut Inez, untuk kasus seperti ini tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan edukasi. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 21:26 WIB

Kemenpar akan mendata agen perjalanan asing atasi paket wisata murah

Hukum | 23 Oktober 2018 - 21:15 WIB

DPRD Medan ingatkan Pemko terkait lokasi reklame

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 20:55 WIB

Presiden minta dana kelurahan tak dihubungkan dengan politik

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 20:37 WIB

AMAN klaim kebangkitan masyarakat adat di Jayapura positif

Elshinta.com - Psikolog klinis sekaligus dosen psikologi di Unika Atma Jaya, Inez Kristanti, M.Psi., menekankan pentingnya pemberian edukasi seksual pada anak dan remaja sesuai usia mereka. 

Berikut ini rinciannya:

 

  • Usia 3-5 tahun

Inez menyarankan, pada rentang usia ini anak perlu tahu mengenai bagian-bagian tubuh yang privat. Mana yang privat untuk si anak, mana yang tidak boleh disentuh orang lain. Atau selain orangtua, tidak boleh diperlihatkan ke orang lain. 

"3-5 tahun fokus ke bagian-bagian tubuh," ujar dia di Jakarta, Selasa (4/9).

 

  • Usia 6 tahun hingga memasuki pubertas

Usia 6 tahun ke atas atau usia sekolah dasar menjelang pubertas (sekitar usia 11-12 tahun), bisa siapkan dia ke masa pubertas. Di situ biasanya mulai ada ketertarikan pada lawan jenis. 

"Kita perlu fasilitasi apa yang perlu dilakukan kalau ada ketertarikan pada lawan jenis. Kemudian kalau ada yang menunjukkan ketertarikan pada dia, dia harus berperilaku seperti apa," papar Inez. 

Selain itu ajarkan juga peran laki-laki dan peran perempuan. 

 

  • Masa pubertas, usia saat di sekolah menengah pertama hingga menengah atas 

Pada masa pubertas, ajarkan dia mempersiapkan dirinya kalau perempuan menstruasi, kalau laki-laki mimpi basah. Apa saja perubahan yang akan dia hadapi pada masa itu, semisal menstruasi itu apa atau saat mimpi basah apa yang terjadi. 

"Mereka akan kaget kalau tiba-tiba berdarah. Kadang-kadang orangtua malu untuk membicarakan ini. Keluar dari mana darahnya, saat mimpi basah yang terjadi apa? Ejakulasi. Sebaiknya diajarkan orangtua yang jenis kelaminnya sama. Ibu menjelaskan pada anak perempuan dan ayah pada anak laki-laki," papar Inez, seperti dikutip Antara.

Ingatlah, ketika sudah pubertas, organ reproduksi perempuan sudah siap dibuahi. Jangan lupa, pada saat itu, sudah ada dorongan seksual. Ini yang orangtua seringkali abaikan.

"Bagaimana cara menyikapi dorongan secara sehat? Ketika mulai membicarakan masalah seksualitas pada anak komunikasi orangtua dan anak harus bagus dulu. Supaya anak terbuka pada orangtuanya," tutur Inez. 

 

  • Usia dewasa muda (20-29 tahun)

Dewasa muda, tinggal melanjutkan. Banyak yang usia 23-24 tahun tetapi pengetahuan seksualnya berada di level remaja, karena saat remaja mereka tak mendapatkannya. Menurut Inez, untuk kasus seperti ini tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan edukasi. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com