Senin, 19 November 2018 | 19:24 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Bencana Alam

BPBD Gunung Kidul antisipasi fenomena tanah ambles

Selasa, 11 September 2018 - 10:17 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2N4lHAw
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2N4lHAw

Elshinta.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengantisipasi fenomena sejumlah titik tanah ambles dengan menutupnya untuk mengantisipasi meluasnya tanah ambles saat musim hujan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul, Edy Basuki di Gunung Kidul, Selasa (11/9) mengatakan, fenomena tanah ambles di Gunung Kidul muncul di beberapa titik pada awal Februari 2018, seperti di Kecamatan Rongkop ada 17 titik dengan diameter bervariasi dari mulai 2 meter hingga ada yang mencapai 7 meter. "Fenomena alam tanah ambles di Gunung Kidul terjadi pada Februari 2018 lalu, saat musim hujan. Sampai saat ini belum ada penambahan, baik luasan maupun jumlahnya," kata Edy.

Tanah ambles di Rongkop itu dilaporkan mulai ada sejak akhir Januari lalu. Setelah terjadinya hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Selain Rongkop, sebelumnya juga dilaporkan ada 4 lubang tanah ambles yang muncul di Kecamatan Ponjong.

Edy mengatakan, munculnya fenomena berupa tanah ambles itu juga sudah dikoordinasikan dengan Badan Geologi. Rekomendasinya agar tak ditutupi dengan sampah, melainkan memakai jerami. Selain itu juga diberi papan informasi terkait fenomena tanah ambles. Pihaknya telah memasang papan informasi sebagai petunjuk bagi masyarakat di titik-titik tanah ambles. "Selain jerami, kami juga memasang pengamanan berupa plastik," kata dia. 

Menurut dia, fenomena tanah ambles ini memang karakteristik Gunung Kidul yang merupakan pegunungan karst. Di lahan karst banyak cekungan atau celah tanah dan juga terdapat sungai bawah tanah. "Tahun-tahun dulu juga ada peristiwa seperti ini. Hanya tidak banyak. Kalau orang-orang tua pasti tahu cekungan itu di mana saja," ucapnya.

Kepala Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Sarju mengatakan, di desanya ada sekitar 7 titik tanah ambles yang berada di 5 dusun yakni, Dusun Siono, Dadapan, Ngurak-urak, dan Ngelo. Amblesan tanah terjadi pada akhir Januari lalu. Sebagian besar terjadi di tengah area ladang milik warga. "Dampak dari munculnya lubang-lubang ini, sejumlah area persawahan milik para petani tidak dapat lagi ditanami. Kalaupun bisa ditanami, mereka takut menanaminya, karena khawatir lubang semakin membesar," katanya.

Fenomena ini, menurut dia, terjadi dikarenakan geografis desanya yang merupakan daerah karst (batuan kapur). Di daerah tersebut, area bawah tanah memiliki rongga. Untuk mengantisipasi lubang semakin besar, pihaknya mengimbau para petani untuk memasukkan tanah, jerami, pohon jagung, dan pohon pisang, bahkan sampah. "Agar tidak membesar kami sudah mengimbau agar petani memasukkan apapun ke dalam lubang," katanya, dikutip Antara.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 19:18 WIB

Polresta Pekalongan amankan 180 ton batu bara

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 19:12 WIB

Rupiah terus menguat jadi Rp14.586

Megapolitan | 19 November 2018 - 19:08 WIB

DKI Jakarta diharapkan gelar sayembara atasi Kali Item

Hukum | 19 November 2018 - 18:56 WIB

Ahmad Dhani harap Jaksa beri kepastian hukum

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 18:46 WIB

Arcandra: Investasi satu sumur bisa capai Rp1,5 triliun

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 18:33 WIB

Ratusan prajurit Kostrad jalani tes urine

Elshinta.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengantisipasi fenomena sejumlah titik tanah ambles dengan menutupnya untuk mengantisipasi meluasnya tanah ambles saat musim hujan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul, Edy Basuki di Gunung Kidul, Selasa (11/9) mengatakan, fenomena tanah ambles di Gunung Kidul muncul di beberapa titik pada awal Februari 2018, seperti di Kecamatan Rongkop ada 17 titik dengan diameter bervariasi dari mulai 2 meter hingga ada yang mencapai 7 meter. "Fenomena alam tanah ambles di Gunung Kidul terjadi pada Februari 2018 lalu, saat musim hujan. Sampai saat ini belum ada penambahan, baik luasan maupun jumlahnya," kata Edy.

Tanah ambles di Rongkop itu dilaporkan mulai ada sejak akhir Januari lalu. Setelah terjadinya hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Selain Rongkop, sebelumnya juga dilaporkan ada 4 lubang tanah ambles yang muncul di Kecamatan Ponjong.

Edy mengatakan, munculnya fenomena berupa tanah ambles itu juga sudah dikoordinasikan dengan Badan Geologi. Rekomendasinya agar tak ditutupi dengan sampah, melainkan memakai jerami. Selain itu juga diberi papan informasi terkait fenomena tanah ambles. Pihaknya telah memasang papan informasi sebagai petunjuk bagi masyarakat di titik-titik tanah ambles. "Selain jerami, kami juga memasang pengamanan berupa plastik," kata dia. 

Menurut dia, fenomena tanah ambles ini memang karakteristik Gunung Kidul yang merupakan pegunungan karst. Di lahan karst banyak cekungan atau celah tanah dan juga terdapat sungai bawah tanah. "Tahun-tahun dulu juga ada peristiwa seperti ini. Hanya tidak banyak. Kalau orang-orang tua pasti tahu cekungan itu di mana saja," ucapnya.

Kepala Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Sarju mengatakan, di desanya ada sekitar 7 titik tanah ambles yang berada di 5 dusun yakni, Dusun Siono, Dadapan, Ngurak-urak, dan Ngelo. Amblesan tanah terjadi pada akhir Januari lalu. Sebagian besar terjadi di tengah area ladang milik warga. "Dampak dari munculnya lubang-lubang ini, sejumlah area persawahan milik para petani tidak dapat lagi ditanami. Kalaupun bisa ditanami, mereka takut menanaminya, karena khawatir lubang semakin membesar," katanya.

Fenomena ini, menurut dia, terjadi dikarenakan geografis desanya yang merupakan daerah karst (batuan kapur). Di daerah tersebut, area bawah tanah memiliki rongga. Untuk mengantisipasi lubang semakin besar, pihaknya mengimbau para petani untuk memasukkan tanah, jerami, pohon jagung, dan pohon pisang, bahkan sampah. "Agar tidak membesar kami sudah mengimbau agar petani memasukkan apapun ke dalam lubang," katanya, dikutip Antara.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 19 November 2018 - 18:08 WIB

Polisi masih selidiki kasus mayat dalam drum

Senin, 19 November 2018 - 17:27 WIB

Polisi identifikasi penumpang Lion Air JT 610

Senin, 19 November 2018 - 16:53 WIB

Korban pembunuhan dalam tong mantan wartawan

Senin, 19 November 2018 - 16:02 WIB

Polisi bekuk pelaku penipuan rekrutmen PT KAI

Senin, 19 November 2018 - 15:27 WIB

Polisi ungkap prostitusi online `Sukabumi Asyik`

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com