Sabtu, 17 November 2018 | 02:05 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Ekonomi

Pengamat nilai ekonomi Indonesia lebih unggul dibanding negara berkembang lain

Selasa, 11 September 2018 - 18:40 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2QkRGdu
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2QkRGdu

Elshinta.com - President Director Center for Banking Crisis (CBC), Deni Daruri menilai perekonomian Indonesia lebih unggul ketimbang kondisi perekonomian negara berkembang lain, seperti India, Turki dan Argentina.

"Regulasi sektor keuangan Indonesia lebih rapi dan sinkron. Jadi, tidak perlu kekhawatiran krisis moneter 1998 bakal terulang di 2018," kata dia dalam keterangan pers yang diterima Antara di Jakarta, Selasa (11/9).

Deni mengatakan, Indonesia merupakan negara yang paling sinkron dalam kebijakan menjaga stabilitas sektor keuangan, bahkan jika juga dibandingkan dengan Amerika Serikat.

Deni menyebut, Presiden AS Donald Trump berupaya agar nilai dolar AS melemah. Namun, gubernur bank sentral AS justru menciptakan kebijakan moneter yang membuat dolar AS menguat. Sehingga, upaya Trump untuk meningkatkan daya saing perekonomian Amerika Serikat menjadi tidak terwujud.

"Hal yang sama juga terjadi di India, Turki dan Argentina dimana selalu terlihat adanya perbedaan yang cenderung berlawanan antara kebijakan moneter, keuangan dan fiskal," katanya.

Di India, Argentina dan Turki, lanjutnya, kebijakan moneter tidak peduli dengan pelemahan mata uangnya. Padahal, defisit dalam anggaran pendapatan dan belanja, jauh lebih besar ketimbang Indonesia. "Sementara itu harmonisasi kebijakan di Indonesia justru semakin mantap dengan terpilihnya Ketua OJK dan Gubernur BI yang baru-baru ini," papar Deni.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Arestasi | 16 November 2018 - 21:50 WIB

Polsek Pangkalan Brandan ringkus bandar dan pengedar narkoba

Hukum | 16 November 2018 - 21:38 WIB

Penyerang anggota Polsek Penjaringan jalani tes kejiwaan

Event | 16 November 2018 - 21:24 WIB

Andik siap habis-habisan hadapi Thailand

Politik | 16 November 2018 - 21:07 WIB

DPR: Polemik politik masih jauh dari etika

Megapolitan | 16 November 2018 - 20:55 WIB

Atasi genangan air, Sudin SDA pasang `sheetpile` Kali BGR

Elshinta.com - President Director Center for Banking Crisis (CBC), Deni Daruri menilai perekonomian Indonesia lebih unggul ketimbang kondisi perekonomian negara berkembang lain, seperti India, Turki dan Argentina.

"Regulasi sektor keuangan Indonesia lebih rapi dan sinkron. Jadi, tidak perlu kekhawatiran krisis moneter 1998 bakal terulang di 2018," kata dia dalam keterangan pers yang diterima Antara di Jakarta, Selasa (11/9).

Deni mengatakan, Indonesia merupakan negara yang paling sinkron dalam kebijakan menjaga stabilitas sektor keuangan, bahkan jika juga dibandingkan dengan Amerika Serikat.

Deni menyebut, Presiden AS Donald Trump berupaya agar nilai dolar AS melemah. Namun, gubernur bank sentral AS justru menciptakan kebijakan moneter yang membuat dolar AS menguat. Sehingga, upaya Trump untuk meningkatkan daya saing perekonomian Amerika Serikat menjadi tidak terwujud.

"Hal yang sama juga terjadi di India, Turki dan Argentina dimana selalu terlihat adanya perbedaan yang cenderung berlawanan antara kebijakan moneter, keuangan dan fiskal," katanya.

Di India, Argentina dan Turki, lanjutnya, kebijakan moneter tidak peduli dengan pelemahan mata uangnya. Padahal, defisit dalam anggaran pendapatan dan belanja, jauh lebih besar ketimbang Indonesia. "Sementara itu harmonisasi kebijakan di Indonesia justru semakin mantap dengan terpilihnya Ketua OJK dan Gubernur BI yang baru-baru ini," papar Deni.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com