Minggu, 18 November 2018 | 13:57 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Waspadai akun palsu adu domba antaragama di medsos

Rabu, 12 September 2018 - 08:21 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2HSXCpC
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2HSXCpC

Elshinta.com - Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai adu domba antaragama di media sosial (medsos).

Hal itu dikemukakan Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Selasa (11/9).

"Karena itu, sebaiknya jangan pernah langsung percaya jika mendapatkan screenshot status, percakapan di medsos," ucap Hariqo. 

Menurut dia, dikutip Antara, harus ditelusuri apakah akun itu akun asli atau palsu mengingat bukan sesuatu yang sulit untuk membuat akun palsu. "Jika asli laporkan ke aparat dan jangan melakukan generalisasi seakan satu mewakili semua," jelasnya.

Hariqo menuturkan, bisa saja seseorang membuat akun twitter dan instagram dengan nama yang identik dengan identitas kekristenan. Akun palsu ini kemudian menghina Allah SWT, Al Quran, ataupun Nabi Muhammad SAW, dan lain-lain. Orang yang sama juga bisa membuat akun facebook, YouTube palsu dengan identitas keislaman, lalu melecehkan Yesus Kristus, Natal, Nabi Isa, dan lain-lain.

"Para pengadu domba juga bisa menjadi Hindu, Buddha, Konghuchu, Yahudi, Sunni, Syiah, Wahabi, dan lain-lain. Tinggal membuat akun dan konten saja di media sosial," kata Hariqo.

Kaget melihat di media sosial, pengguna media sosial agama tertentu mencetak layar (screenshot) posting-an di twitter yang melecehkan agama yang dia anut. Demikian juga dengan penganut agama lain, akhirnya penganut kedua agama berbeda itu menyebarkan screenshot itu di komunitas agamanya masing-masing. 

Berikutnya isu itu pun menjadi viral, terjadi generalisasi, menjelma isu panas di warung, pasar serta rumah ibadah, tertanam kebencian massal kepada kalagan lain yang bisa meledak.

"Situasi akan memburuk jika media memberitakan dengan judul menuduh meskipun isinya mempertanyakan," kata Hariqo.

Ia mengakui tidak semua orang bisa mengecek suatu akun asli atau palsu. Pengecekan mendalam hanya bisa dilakukan mereka yang punya telepon genggam dengan spesifikasi tertentu, kuota data, dan waktu luang berlebih.

Menurut Hariqo, memperketat syarat pembuatan akun medsos, mendisiplinkan pengusaha media sosial, penegakan hukum yang adil, literasi digital yang benar dan berkelanjutan adalah beberapa cara terbaik untuk pencegahan.

Apalagi menjelang Pemilu 2019 banyak konten tak bertuan beredar. Ada poster menghina agama A, tapi tidak jelas siapa yang membuatnya, apakah tim sukses pasangan A atau pasangan B, atau pihak lain yang ingin NKRI bubar.

"Akun-akun yang mengadu-domba ini mudah ditemukan. Namun, jika sudah viral akun tersebut berganti nama, menghapus unggahannya atau menghapus permanen akunnya guna menghilangkan jejak," pungkas Hariqo. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 13:50 WIB

Wali Kota ajak masyarakat waspada DBD

Musibah | 18 November 2018 - 13:39 WIB

Tagana diminta petakan daerah rawan banjir

Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 13:29 WIB

Menhub RI tutup Diklat Pemberdayaan Masyarakat di Tangerang

Pembangunan | 18 November 2018 - 13:19 WIB

Rohidin ajak seluruh masyarakat bahu-membahu membangun Bengkulu

Aktual Luar Negeri | 18 November 2018 - 12:52 WIB

Militer Rusia: 18 prajurit Suriah tewas dalam serangan oleh gerilyawan

Kriminalitas | 18 November 2018 - 12:24 WIB

Polisi ringkus WNA transaksi narkoba di perbatasan

Elshinta.com - Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai adu domba antaragama di media sosial (medsos).

Hal itu dikemukakan Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Selasa (11/9).

"Karena itu, sebaiknya jangan pernah langsung percaya jika mendapatkan screenshot status, percakapan di medsos," ucap Hariqo. 

Menurut dia, dikutip Antara, harus ditelusuri apakah akun itu akun asli atau palsu mengingat bukan sesuatu yang sulit untuk membuat akun palsu. "Jika asli laporkan ke aparat dan jangan melakukan generalisasi seakan satu mewakili semua," jelasnya.

Hariqo menuturkan, bisa saja seseorang membuat akun twitter dan instagram dengan nama yang identik dengan identitas kekristenan. Akun palsu ini kemudian menghina Allah SWT, Al Quran, ataupun Nabi Muhammad SAW, dan lain-lain. Orang yang sama juga bisa membuat akun facebook, YouTube palsu dengan identitas keislaman, lalu melecehkan Yesus Kristus, Natal, Nabi Isa, dan lain-lain.

"Para pengadu domba juga bisa menjadi Hindu, Buddha, Konghuchu, Yahudi, Sunni, Syiah, Wahabi, dan lain-lain. Tinggal membuat akun dan konten saja di media sosial," kata Hariqo.

Kaget melihat di media sosial, pengguna media sosial agama tertentu mencetak layar (screenshot) posting-an di twitter yang melecehkan agama yang dia anut. Demikian juga dengan penganut agama lain, akhirnya penganut kedua agama berbeda itu menyebarkan screenshot itu di komunitas agamanya masing-masing. 

Berikutnya isu itu pun menjadi viral, terjadi generalisasi, menjelma isu panas di warung, pasar serta rumah ibadah, tertanam kebencian massal kepada kalagan lain yang bisa meledak.

"Situasi akan memburuk jika media memberitakan dengan judul menuduh meskipun isinya mempertanyakan," kata Hariqo.

Ia mengakui tidak semua orang bisa mengecek suatu akun asli atau palsu. Pengecekan mendalam hanya bisa dilakukan mereka yang punya telepon genggam dengan spesifikasi tertentu, kuota data, dan waktu luang berlebih.

Menurut Hariqo, memperketat syarat pembuatan akun medsos, mendisiplinkan pengusaha media sosial, penegakan hukum yang adil, literasi digital yang benar dan berkelanjutan adalah beberapa cara terbaik untuk pencegahan.

Apalagi menjelang Pemilu 2019 banyak konten tak bertuan beredar. Ada poster menghina agama A, tapi tidak jelas siapa yang membuatnya, apakah tim sukses pasangan A atau pasangan B, atau pihak lain yang ingin NKRI bubar.

"Akun-akun yang mengadu-domba ini mudah ditemukan. Namun, jika sudah viral akun tersebut berganti nama, menghapus unggahannya atau menghapus permanen akunnya guna menghilangkan jejak," pungkas Hariqo. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Minggu, 18 November 2018 - 13:50 WIB

Wali Kota ajak masyarakat waspada DBD

Minggu, 18 November 2018 - 12:05 WIB

BMKG: Hujan lebat berpotensi terjadi di Jabodetabek

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com