Sabtu, 17 November 2018 | 02:11 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Pemilu / Pemilihan Presiden 2019

Pengamat: Pilpres 2019 akan mencuat isu Jokowi-Aseng vs Prabowo-Pribumi

Rabu, 12 September 2018 - 13:47 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Administrator
Sumber foto: https://bit.ly/2x6B8x6
Sumber foto: https://bit.ly/2x6B8x6

Elshinta.com - Pemerhati masalah sosial politik Rahman Sabon Nama menilai penempatan Erick Thohir di posisi puncak Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin bisa dipakai sebagai isu pertarungan "Jokowi-Aseng" versus "Prabowo-Pribumi" pada kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Hal itu menanggapi munculnya berbagai sorotan terkait Erick Thohir yang merupakan pengusaha muda WNI keturunan Tiongkok asal Lampung itu dalam posisinya yang begitu penting dan strategis. Dia menjelaskan, beberapa pihak menilai hal itu untuk meredam kekecewaan golongan non muslim dan WNI keturunan Tiongkok pendukung Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) atas terpilihnya Maruf Amin sebagai Cawapres pendamping Joko Widodo. 

“Ini bakal mencuat di sela-sela kampanye, karena UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 memberi celah pada pihak lawan Jakowi-Ma’ruf untuk mengkampanyekan isu semacam ini, sudut pandangnya dari  ketahanan kurang menguntungkan, maka juru kampanye tim nasional Jokowi-Ma’ruf sejak dini sudah harus menyiapkan jurus-jurus kampanye menghadapi isu politik semacam itu," kata dia sebagaimana dilaporkan Kontributor Elshinta Efendi Murdiono, Rabu (12/9).

Selain isu Erick, kata Rahman, isu imigran gelap dan tenaga kerja asal Tiongkok akan menjadi isu seksi kampanye lawan. Bahwa di periode pertama pemerintahan Jokowi, Indonesia dibanjiri imigran gelap dan tenaga kerja Tiongkok, dan proyek-proyek infrastruktur juga dikuasai oleh investor dari Tiongkok. “Di situ tematik kampanyenya adalah: Kalau Jokowi kembali berkuasa pada periode berikutnya, maka dominasi aseng akan lebih dahsyat, karena ketua Timsesnya adalah pengusaha keturunan China,” ujar dia.

Isu lain yang bakal menyeruak menurutnya adalah seputar masalah agama. Bahwa akan ada isu tentang kerukunan hidup umat beragama yang terkoyak-koyak lantaran ada Islam phobia dan kriminalisasi terhadap ulama. Juga akan ada isu bahwa KH Ma’ruf Amin hanya dijadikan perisai untuk menjaring suara pemilih umat Islam. Dalih dari isu ini, bahwa pada pemerintahan Jokowi bersama Jusuf Kalla justru terjadi Islam phobia.

Dalam konteks isu kampanye, kebhinekaan Indonesia harus dipahami dengan benar untuk menjaga keseimbangan persaingan yang sehat dalam sebuah kontestasi politik. "Apabila kebhinekaan kita ditunggangi pihak yang tidak ingin Indonesia damai dan kuat, maka kampanye Pilpres 2019 mendatang bisa berpotensi mengobarkan pertentangan antar umat beragama maupun antar etnis yang berujung porak-poranda bahkan perang antar sesama anak bangsa. Tolong jangan sampai hal ini terjadi. Ayolah kita bangun dan rawat bangsa ini dalam kedamaian dan kesentosaan dengan asas ukhuwah wathoniyah, persaudaraan sebangsa,” tegas dia.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Arestasi | 16 November 2018 - 21:50 WIB

Polsek Pangkalan Brandan ringkus bandar dan pengedar narkoba

Hukum | 16 November 2018 - 21:38 WIB

Penyerang anggota Polsek Penjaringan jalani tes kejiwaan

Event | 16 November 2018 - 21:24 WIB

Andik siap habis-habisan hadapi Thailand

Politik | 16 November 2018 - 21:07 WIB

DPR: Polemik politik masih jauh dari etika

Megapolitan | 16 November 2018 - 20:55 WIB

Atasi genangan air, Sudin SDA pasang `sheetpile` Kali BGR

Elshinta.com - Pemerhati masalah sosial politik Rahman Sabon Nama menilai penempatan Erick Thohir di posisi puncak Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin bisa dipakai sebagai isu pertarungan "Jokowi-Aseng" versus "Prabowo-Pribumi" pada kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Hal itu menanggapi munculnya berbagai sorotan terkait Erick Thohir yang merupakan pengusaha muda WNI keturunan Tiongkok asal Lampung itu dalam posisinya yang begitu penting dan strategis. Dia menjelaskan, beberapa pihak menilai hal itu untuk meredam kekecewaan golongan non muslim dan WNI keturunan Tiongkok pendukung Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) atas terpilihnya Maruf Amin sebagai Cawapres pendamping Joko Widodo. 

“Ini bakal mencuat di sela-sela kampanye, karena UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 memberi celah pada pihak lawan Jakowi-Ma’ruf untuk mengkampanyekan isu semacam ini, sudut pandangnya dari  ketahanan kurang menguntungkan, maka juru kampanye tim nasional Jokowi-Ma’ruf sejak dini sudah harus menyiapkan jurus-jurus kampanye menghadapi isu politik semacam itu," kata dia sebagaimana dilaporkan Kontributor Elshinta Efendi Murdiono, Rabu (12/9).

Selain isu Erick, kata Rahman, isu imigran gelap dan tenaga kerja asal Tiongkok akan menjadi isu seksi kampanye lawan. Bahwa di periode pertama pemerintahan Jokowi, Indonesia dibanjiri imigran gelap dan tenaga kerja Tiongkok, dan proyek-proyek infrastruktur juga dikuasai oleh investor dari Tiongkok. “Di situ tematik kampanyenya adalah: Kalau Jokowi kembali berkuasa pada periode berikutnya, maka dominasi aseng akan lebih dahsyat, karena ketua Timsesnya adalah pengusaha keturunan China,” ujar dia.

Isu lain yang bakal menyeruak menurutnya adalah seputar masalah agama. Bahwa akan ada isu tentang kerukunan hidup umat beragama yang terkoyak-koyak lantaran ada Islam phobia dan kriminalisasi terhadap ulama. Juga akan ada isu bahwa KH Ma’ruf Amin hanya dijadikan perisai untuk menjaring suara pemilih umat Islam. Dalih dari isu ini, bahwa pada pemerintahan Jokowi bersama Jusuf Kalla justru terjadi Islam phobia.

Dalam konteks isu kampanye, kebhinekaan Indonesia harus dipahami dengan benar untuk menjaga keseimbangan persaingan yang sehat dalam sebuah kontestasi politik. "Apabila kebhinekaan kita ditunggangi pihak yang tidak ingin Indonesia damai dan kuat, maka kampanye Pilpres 2019 mendatang bisa berpotensi mengobarkan pertentangan antar umat beragama maupun antar etnis yang berujung porak-poranda bahkan perang antar sesama anak bangsa. Tolong jangan sampai hal ini terjadi. Ayolah kita bangun dan rawat bangsa ini dalam kedamaian dan kesentosaan dengan asas ukhuwah wathoniyah, persaudaraan sebangsa,” tegas dia.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Tulis komentar Anda di sini kalau hanya ketua tiem kampaye yg kebetulan orang Cina,,lalu di kira nanti kalau pak Jokowi menang akan kebanjiran orang2 Cina. LANTAS,,APA JADINYA KALAU YG JADI PRESIDEN, YG BENAR2 ORANG CINA....?
Alloh sdh menetapkan, akan adanya perang akhir zaman. Perang antara kegelapan dan cahaya.Tidak seorang manusia atau malaikat pun yang mampu mencegahnya. Silahkan pilih.
loading...

Jumat, 16 November 2018 - 07:36 WIB

Polda Papua Barat intensifkan koordinasi jelang Pemilu

Jumat, 16 November 2018 - 07:28 WIB

PMII ajak warga jaga kondusivitas daerah

Jumat, 16 November 2018 - 06:25 WIB

KPU Pekalongan masih butuh 4.270 kotak suara

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com