Selasa, 13 November 2018 | 01:59 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Ekonomi

Menkeu jelaskan imbas penguatan dolar AS pada rupiah

Rabu, 12 September 2018 - 15:14 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati. Sumber foto: https://bit.ly/2MIE3WR
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati. Sumber foto: https://bit.ly/2MIE3WR

Elshinta.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengemukakan, imbas dari penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat kepada rupiah bukan pada hutangnya tetapi pada Defisit Transaksi Berjalan/Current Account Defisit.

“Apa yang membedakan setiap negara adalah kerentanan terhadap faktor eksternal. Indonesia bukan pada hutangnya, namun pada defisit transaksi berjalan,” kata Sri Mulyani dalam wawancara dengan Bloomberg di sela kegiatan World Economic Forum (WEF) untuk ASEAN di Hanoi, Vietnam,  Rabu (12/9), seperti diinformasikan melalui laman resmi Setkab

Menkeu mengingatkan, undang-undang di Indonesia mengatur bahwa Defisit Transaksi Berjalan tidak boleh melewati angka 3 persen dari Product Domestic Product (PDB). “Angka tersebut masih dalam kendali,” tegasnya.

Menurut Menkeu, ketika Amerika Serikat memiliki sentimen terhadap negara berkembang di belahan dunia lain, hal itu menciptakan dinamika. Melihat tantangan tersebut, pemerintah menurunkan defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan, diatasi dengan membatasi impor secara selektif untuk menjaga momentum.

Selain itu, jelas Menkeu, pemerintah juga tengah berupaya meredam gejolak dinamika ekonomi global dengan membuat kebijakan yang memperhatikan faktor psikologis atau sentimen pasar disertai dengan aktif mengkomunikasikan kebijakan kepada para pemangku kepentingan. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Politik | 12 November 2018 - 22:38 WIB

Relawan bergerak kompak menangkan Jokowi - Ma'ruf di Sumsel

Politik | 12 November 2018 - 22:27 WIB

Pengamat: PSI bisa jadi role model milenial di pentas politik

Liga Inggris | 12 November 2018 - 21:40 WIB

Eden Hazard mengaku senang meski merasa lelah

Liga Inggris | 12 November 2018 - 21:28 WIB

Juan Mata menyebut MU jalani pekan yang tidak menentu

Kesehatan | 12 November 2018 - 21:12 WIB

Dua puskesmas di Kudus akan dinaikan status jadi rumah sakit

Elshinta.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengemukakan, imbas dari penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat kepada rupiah bukan pada hutangnya tetapi pada Defisit Transaksi Berjalan/Current Account Defisit.

“Apa yang membedakan setiap negara adalah kerentanan terhadap faktor eksternal. Indonesia bukan pada hutangnya, namun pada defisit transaksi berjalan,” kata Sri Mulyani dalam wawancara dengan Bloomberg di sela kegiatan World Economic Forum (WEF) untuk ASEAN di Hanoi, Vietnam,  Rabu (12/9), seperti diinformasikan melalui laman resmi Setkab

Menkeu mengingatkan, undang-undang di Indonesia mengatur bahwa Defisit Transaksi Berjalan tidak boleh melewati angka 3 persen dari Product Domestic Product (PDB). “Angka tersebut masih dalam kendali,” tegasnya.

Menurut Menkeu, ketika Amerika Serikat memiliki sentimen terhadap negara berkembang di belahan dunia lain, hal itu menciptakan dinamika. Melihat tantangan tersebut, pemerintah menurunkan defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan, diatasi dengan membatasi impor secara selektif untuk menjaga momentum.

Selain itu, jelas Menkeu, pemerintah juga tengah berupaya meredam gejolak dinamika ekonomi global dengan membuat kebijakan yang memperhatikan faktor psikologis atau sentimen pasar disertai dengan aktif mengkomunikasikan kebijakan kepada para pemangku kepentingan. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com