Minggu, 18 November 2018 | 09:41 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Hukum

Polri ingatkan penyebar hoax bisa dipidana

Kamis, 13 September 2018 - 09:20 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Setyo Wasisto. Sumber foto: https://bit.ly/2y0VsUk
Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Setyo Wasisto. Sumber foto: https://bit.ly/2y0VsUk

Elshinta.com - Polri memprediksi praktik penyebaran hoax dan ujaran kebencian akan makin masif menjelang tahun 2019. Polri kembali mengingatkan agar masyarakat tidak menyebar hoax dan ujaran kebencian.

Demikian dikemukakan Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Setyo Wasisto dalam keterangannya, Rabu (12/9), seperti diinformasikan melalui laman resmi NTMC Polri. 

Oleh sebab itu, kata dia, perlu edukasi untuk masyarakat terkait penyebaran pesan baik lewat dunia maya atau dunia nyata yang berkonten hoax atau ujaran kebencian.

“Prediksi jelang 2019 akan banyak (praktik penyebaran hoax dan ujaran kebencian). Perlu antisipasi dan edukasi,” ucapnya. 

Setyo memaparkan, Polri sudah sejak awal berusaha melawan hoax dengan membuat tim untuk menangkalnya. Bahkan, untuk menghadapi Pilpres 2019 sudah ada Satgas Nusantara agar suasana tetap kondusif saat tahun politik.

“Terkait jelang Pemilu 2019, kita sudah antisipasi, bahkan Polri bentuk Satgas Nusantara, antisipasi, agar masyarakat supaya sejuk, supaya aman, damai memasuki gelaran kontentasi Pilpres dan Pileg,” ungkapnya. 

Setyo menyebutkan, para pembuat atau penyebar hoax serta ujaran kebencian sangat bisa dijerat dengan Undang-undang Informasi Transaksi Elektronik dan terancam hukuman 6 tahun penjara hingga denda sampai Rp1 miliar.

“Penyebar hoax yang ujaran kebencian bisa 6 tahun penjara dan denda sampai Rp 1 miliar, UU ITE pasal 28,” jelas Setyo.

Pesan yang patut diduga hoax, jelas Setyo, biasanya diawali atau diakhiri dengan kata-kata ‘sebarkanlah’ atau sejenisnya. Untuk memastikan kebenarannya bisa cek di sejumlah media mainstream.

“Ciri hoax, setelah atau sebelum berita dituliskan tolong sebarkan, itu tanda-tanda hoax. Coba cek di media mainstream, online atau televisi. Kalau tidak ada ya patut diduga,” pungkasnya. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pemilihan Presiden 2019 | 18 November 2018 - 09:36 WIB

Sandiaga Uno akan buka lapangan kerja seluas-luasnya

Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 09:24 WIB

Polda DIY dan Banten naik jadi Polda tipe A

Bencana Alam | 18 November 2018 - 09:13 WIB

Basarnas siagakan tim di lokasi banjir Tasikmalaya

Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 08:55 WIB

KTT APEC akan bahas konektivitas untuk pertumbuhan inklusif

Kriminalitas | 18 November 2018 - 08:45 WIB

Menolak saat memberikan HP remaja dibacok orang tak dikenal

Travel | 18 November 2018 - 08:29 WIB

Yogyakarta siapkan dua kegiatan libur akhir tahun

Elshinta.com - Polri memprediksi praktik penyebaran hoax dan ujaran kebencian akan makin masif menjelang tahun 2019. Polri kembali mengingatkan agar masyarakat tidak menyebar hoax dan ujaran kebencian.

Demikian dikemukakan Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Setyo Wasisto dalam keterangannya, Rabu (12/9), seperti diinformasikan melalui laman resmi NTMC Polri. 

Oleh sebab itu, kata dia, perlu edukasi untuk masyarakat terkait penyebaran pesan baik lewat dunia maya atau dunia nyata yang berkonten hoax atau ujaran kebencian.

“Prediksi jelang 2019 akan banyak (praktik penyebaran hoax dan ujaran kebencian). Perlu antisipasi dan edukasi,” ucapnya. 

Setyo memaparkan, Polri sudah sejak awal berusaha melawan hoax dengan membuat tim untuk menangkalnya. Bahkan, untuk menghadapi Pilpres 2019 sudah ada Satgas Nusantara agar suasana tetap kondusif saat tahun politik.

“Terkait jelang Pemilu 2019, kita sudah antisipasi, bahkan Polri bentuk Satgas Nusantara, antisipasi, agar masyarakat supaya sejuk, supaya aman, damai memasuki gelaran kontentasi Pilpres dan Pileg,” ungkapnya. 

Setyo menyebutkan, para pembuat atau penyebar hoax serta ujaran kebencian sangat bisa dijerat dengan Undang-undang Informasi Transaksi Elektronik dan terancam hukuman 6 tahun penjara hingga denda sampai Rp1 miliar.

“Penyebar hoax yang ujaran kebencian bisa 6 tahun penjara dan denda sampai Rp 1 miliar, UU ITE pasal 28,” jelas Setyo.

Pesan yang patut diduga hoax, jelas Setyo, biasanya diawali atau diakhiri dengan kata-kata ‘sebarkanlah’ atau sejenisnya. Untuk memastikan kebenarannya bisa cek di sejumlah media mainstream.

“Ciri hoax, setelah atau sebelum berita dituliskan tolong sebarkan, itu tanda-tanda hoax. Coba cek di media mainstream, online atau televisi. Kalau tidak ada ya patut diduga,” pungkasnya. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Minggu, 18 November 2018 - 09:24 WIB

Polda DIY dan Banten naik jadi Polda tipe A

Minggu, 18 November 2018 - 07:34 WIB

Kemenpan-RB tetapkan nilai ambang batas CPNS sebesar 298

Sabtu, 17 November 2018 - 21:27 WIB

AHY: Penyebar hoax atau fitnah musuh bersama bangsa

Sabtu, 17 November 2018 - 21:15 WIB

AHY: Muslim Indonesia rahmatanlil`alamin

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com