Senin, 19 November 2018 | 19:23 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Bulan Suro, jasa pelayanan pencucian pusaka diminati kolektor

Kamis, 13 September 2018 - 14:38 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Sumber foto: Fendi Lesmana/Radio Elshinta
Sumber foto: Fendi Lesmana/Radio Elshinta

Elshinta.com - Tidak banyak orang yang memiliki keahlian atau keterampilan untuk  maranggi (mencuci) pusaka, keterampilan ini biasanya dimiliki oleh seseorang karena mempunyai keterkaitan dengan leluhurnya dulu yang sebelumnya memang ahli dibidangnya.

Sudah kurang lebih 10 tahun lamanya, Beny Saferi (30) warga Perumahan Puri Asri, Kelurahan Kaliombo, Kota Kediri membuka pelayanan jasa mencuci pusaka. Pada momentum bulan Suro seperti sekarang ini tentunya menjadi berkah bagi Beny Saferi, karena keahlian dan keterampilan yang dimilikinya tersebut dibutuhkan banyak orang. 

Bapak dua anak ini mengaku pada momentum bulan Suro banyak orang datang berkunjung ke rumahnya sekedar meminta tolong untuk mencucikan pusaka miliknya. "Alhamdulilah mas peningkatannya bisa 100 persen, biasanya normal satu bulan 200 keris. Kalau sekarang 400 sampai 500 keris," ujarnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana, Kamis (13/9). 

Kebanyakan pelanggan yang membutuhkan jasanya berasal dari wilayah Kerisidenan Kediri meliputi Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Nganjuk dan sekitarnya. Pusaka yang dicuci bukan hanya keris, melainkan juga pusaka lainnya seperti tombak dan sebagainya. "Kalau bulan Suro ini di wilayah Kerisidenan Kediri saja, biasanya kalau orang Jawa pusakanya dicuci pada bulan Suro," terangnya.

Tarif untuk mencuci satu bilah keris dikenakan biaya Rp50 ribu, dari sekian banyak keris yang sudah ia cuci, Beny pernah mencuci keris jenis Singo Barong yang harganya mencapai Rp250 juta. Proses pencucian keris membutuhkan waktu dua sampai tiga hari. "Prosesnya dari kotor dibersihkan, dicuci, diputihkan sampai finishing dimasukan ke warangan. Dua sampai tiga hari itu kalau normal mas," ujarnya. 

Selesai pencucian, ukiran-ukiran yang ada di dalam batang keris nampak timbul dan memancarkan pamor aura yang bersinar.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 19:18 WIB

Polresta Pekalongan amankan 180 ton batu bara

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 19:12 WIB

Rupiah terus menguat jadi Rp14.586

Megapolitan | 19 November 2018 - 19:08 WIB

DKI Jakarta diharapkan gelar sayembara atasi Kali Item

Hukum | 19 November 2018 - 18:56 WIB

Ahmad Dhani harap Jaksa beri kepastian hukum

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 18:46 WIB

Arcandra: Investasi satu sumur bisa capai Rp1,5 triliun

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 18:33 WIB

Ratusan prajurit Kostrad jalani tes urine

Elshinta.com - Tidak banyak orang yang memiliki keahlian atau keterampilan untuk  maranggi (mencuci) pusaka, keterampilan ini biasanya dimiliki oleh seseorang karena mempunyai keterkaitan dengan leluhurnya dulu yang sebelumnya memang ahli dibidangnya.

Sudah kurang lebih 10 tahun lamanya, Beny Saferi (30) warga Perumahan Puri Asri, Kelurahan Kaliombo, Kota Kediri membuka pelayanan jasa mencuci pusaka. Pada momentum bulan Suro seperti sekarang ini tentunya menjadi berkah bagi Beny Saferi, karena keahlian dan keterampilan yang dimilikinya tersebut dibutuhkan banyak orang. 

Bapak dua anak ini mengaku pada momentum bulan Suro banyak orang datang berkunjung ke rumahnya sekedar meminta tolong untuk mencucikan pusaka miliknya. "Alhamdulilah mas peningkatannya bisa 100 persen, biasanya normal satu bulan 200 keris. Kalau sekarang 400 sampai 500 keris," ujarnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana, Kamis (13/9). 

Kebanyakan pelanggan yang membutuhkan jasanya berasal dari wilayah Kerisidenan Kediri meliputi Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Nganjuk dan sekitarnya. Pusaka yang dicuci bukan hanya keris, melainkan juga pusaka lainnya seperti tombak dan sebagainya. "Kalau bulan Suro ini di wilayah Kerisidenan Kediri saja, biasanya kalau orang Jawa pusakanya dicuci pada bulan Suro," terangnya.

Tarif untuk mencuci satu bilah keris dikenakan biaya Rp50 ribu, dari sekian banyak keris yang sudah ia cuci, Beny pernah mencuci keris jenis Singo Barong yang harganya mencapai Rp250 juta. Proses pencucian keris membutuhkan waktu dua sampai tiga hari. "Prosesnya dari kotor dibersihkan, dicuci, diputihkan sampai finishing dimasukan ke warangan. Dua sampai tiga hari itu kalau normal mas," ujarnya. 

Selesai pencucian, ukiran-ukiran yang ada di dalam batang keris nampak timbul dan memancarkan pamor aura yang bersinar.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 19 November 2018 - 19:18 WIB

Polresta Pekalongan amankan 180 ton batu bara

Senin, 19 November 2018 - 19:12 WIB

Rupiah terus menguat jadi Rp14.586

Senin, 19 November 2018 - 19:08 WIB

DKI Jakarta diharapkan gelar sayembara atasi Kali Item

Senin, 19 November 2018 - 18:56 WIB

Ahmad Dhani harap Jaksa beri kepastian hukum

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com