Indonesia pelajari penanganan teroris di Marawi
Kamis, 13 September 2018 - 21:27 WIB | Penulis : Angga Kusuma | Editor : Administrator
Para prajurit berjaga di depan sebuah bangunan rusak setelah pasukan pemerintah mengamankan daerah tersebut dari kelompok militan pro-Islamic State di kota Bangolo, Marawi, selatan Filipina. Sumber foto: https://bit.ly/2MnIkus

Elshinta.com - Indonesia dan Malaysia bersama-sama mempelajari penanganan teroris di Kota Marawi, Mindanao, Filipina, guna mendapatkan strategi penanganan terorisme yang lebih menyeluruh.

"Kita bisa pelajari strategi operasi hingga teknis di lapangan yang diterapkan untuk penanganan terorisme dan pelakunya secara menyeluruh hingga penanganan kepada dampak psikologisnya bagi masyarakat," kata Kepala Badan Diklat Kementerian Pertahanan RI Mayjen TNI Ida Bagus Purwalaksana di Markas Brigade 103 Infanteri (Haribon) Angkatan Bersenjata Filipina di Marawi, Kamis (13/9).

Kelompok Abu Sayyaf yang berbasis di Pulau Mindanao bagian selatan, telah menculik ratusan orang Filipina dan orang asing sejak awal 1990-an, demi mendapatkan uang tebusan. AS telah mencantumkan nama kelompok itu sebagai organisasi teroris. Pengamat menyebutkan, Abu Sayyaf, Maute, dan kelompok garis keras lainnya mengklaim ingin membuat sebuah kekhalifahan Islam di selatan untuk ISIS. "Ini tentu akan berdampak kepada Indonesia. Karena itu, kita perlu bekerja sama dan mempelajari bersama penanganannya," kata Ida Bagus

Sementara Menteri Pertahanan Malaysia Mohammad Bin Sabu mengatakan pemberantasan terorisme tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan militeristik. Pendekatan militeristik hanya cocok memberantas para teroris, bukan terorisme. Pemberantasan terorisme membutuhkan penyadaran yang mampu menghapus ideologi keras ini. "Semisal beberapa ajaran dalam agama yang disalahpahami. Dalam Islam ada ajaran jihad dan mati syahid, yang dianggap membenarkan aksi-aksi keras teroris. Pemahaman ini yang harus menjadi sasaran kita untuk diluruskan, dikalahkan. Ini penting," katanya.

Sementara Komando Militer Mindanao Wilayah Barat Letjen Arnel B Dela Vega mengatakan penanganan terorisme perlu dilakukan bersama-sama. "Tidak mungkin terorisme hanya dihadapi oleh militer. Butuh kerja sama semua pihak," ujarnya.

Program latihan bersama antara Indonesia, Filipina dan Malaysia terus berjalan dan akan ditingkatkan dan diperluas cakupannya, demikian Antara.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Selasa, 26 Maret 2019 - 19:43 WIB
Elshinta.com -Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama memberikan sanksi kepada ...
Selasa, 26 Maret 2019 - 19:35 WIB
Elshinta.com - Lembaga survei Indomedia Poll membongkar profil dan visi kebangsaan caleg-caleg ...
Selasa, 26 Maret 2019 - 17:46 WIB
Elshinta.com - Konsumsi elpiji non subsidi di wilayah DI Yogyakarta mengalami tren peningk...
Selasa, 26 Maret 2019 - 15:43 WIB
Elshinta.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini, Selasa (26/3) melakukan pemeri...
Selasa, 26 Maret 2019 - 15:25 WIB
Elshinta.com -Bupati Majalengka, Karna Sobahi, resmi meluncurkan `Majalengka Raharja Quick Resp...
Selasa, 26 Maret 2019 - 14:55 WIB
Elshinta.com -Wakil Bupati Lumajang Jawa Timur, Indah Amperawati mengatakan orang yang mendapat...
Selasa, 26 Maret 2019 - 14:05 WIB
Elshinta.com - Hakim Konstitusi Aswanto hari ini, Selasa (26/3) mengucapkan sumpah sebagai...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:44 WIB
Elshinta.com - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo sangat kecewa atas sikap Uni Eropa dalam meng...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:34 WIB
Elshinta.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata u...
Selasa, 26 Maret 2019 - 11:59 WIB
Elshinta.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengimbau kepada seluruh penyelenggara n...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)