Minggu, 18 November 2018 | 09:40 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Zulkifli ajak masyarakat mencontoh Muhammadiyah

Jumat, 14 September 2018 - 07:11 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Dewi Rusiana
Ketua MPR Zulkifli Hasan menegaskan perguruan Muhammadiyah telah sejak lama melakasanakan pengamalan empat pilar berbangsa dan bernegara khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat dan pendidikan. Sumber foto: https://bit.ly/2CT2ahz
Ketua MPR Zulkifli Hasan menegaskan perguruan Muhammadiyah telah sejak lama melakasanakan pengamalan empat pilar berbangsa dan bernegara khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat dan pendidikan. Sumber foto: https://bit.ly/2CT2ahz

Elshinta.com - Ketua MPR Zulkifli Hasan menegaskan perguruan Muhammadiyah telah sejak lama melaksanakan pengamalan empat pilar berbangsa dan bernegara khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat dan pendidikan.

Dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (14/9), Zulkifli menjelaskan hal tersebut saat sosialisasi empat pilar di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur di Jl Juanda, Samarinda, Kalimantan Timur. "Muhammadiyah sudah melaksanakan Empat Pilar," katanya.

Zulkifli mencontohkan, sekolah dan perguruan tinggi yang dikelola Muhammadiyah, terutama yang berada di Indonesia bagian timur, peserta didiknya tak hanya ummat Muslim, ummat yang lain pun juga ada. "Bahkan di Indonesia timur peserta didik perguruan Muhammadiyah mayoritas adalah non-Muslim," ungkapnya.

Jadi dari sini Muhammadiyah hadir untuk bangsa dan negara. Tak hanya itu yang dicontohkan oleh pria asal Lampung itu. Dalam memilih ketua, menurut Zulkifli Hasan, Muhammadiyah menggunakan jalan musyawarah untuk mufakat sehingga tak ada unsur intimidasi atau iming-iming. Dari semua yang sudah dilakukan oleh organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu maka dirinya menyebut, kalau Indonesia mau maju, belajarlah pada Muhammadiyah.

Dalam sosialisasi yang diliput oleh beragam media, pria yang mempunyai hobby joging itu mengungkapkan bahwa Indonesia didirikan oleh kaum intelektual. Karena didirikan oleh kaum intelektual maka gagasan berbangsa dan bernegara sangat maju ke depan. "Tahun 1945 kita sudah memikirkan negara kesejahteraan," paparnya.

Masalah ini menurutnya baru dibicarakan oleh negara lain 20 tahun kemudian. Sebagai kaum intelektual, para pendiri bangsa benar-benar memikirkan bangsa, negara, dan rakyat. 

Agus Salim, salah satu pendiri bangsa bahkan menyebut, menjadi pemimpin adalah jalan menderita. Keteladanan dari para pendiri bangsa dikatakan Zulkifli Hasan tak hanya dalam kepemimpinan. Dalam pergaulan, sikap para intelektual itu dikatakan perlu ditiru. "Meski IJ Kasimo dari Partai Katolik dan Natsir dari Masyumi namun mereka bersahabat," ungkapnya.

Meski Buya Hamka dan Soekarno pernah berseteru namun ketika Soekarno wafat, Hamka yang menyolatkan. Sikap para pendiri bangsa itu menurut Bang Zul sesuai dengan cita-cita Indonesia merdeka, yakni bersatu, berdaulat, adil, dan setara.

Setelah Indonesia merdeka 73 tahun, dirinya merasakan apa yang diteladankan para pendiri bangsa itu mulai pudar. "Kepemimpinan kita sekarang berbeda dengan masa lalu," paparnya.

Zulkifli Hasan mengharap para pemimpin atau pejabat melayani rakyat. Hal demikian perlu sebab mereka disumpah untuk taat pada konstitusi. "Taat pada konstitusi adalah mencerdaskah kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut menciptakan perdamaian dunia," pungkasnya, demikian Antara.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pemilihan Presiden 2019 | 18 November 2018 - 09:36 WIB

Sandiaga Uno akan buka lapangan kerja seluas-luasnya

Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 09:24 WIB

Polda DIY dan Banten naik jadi Polda tipe A

Bencana Alam | 18 November 2018 - 09:13 WIB

Basarnas siagakan tim di lokasi banjir Tasikmalaya

Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 08:55 WIB

KTT APEC akan bahas konektivitas untuk pertumbuhan inklusif

Kriminalitas | 18 November 2018 - 08:45 WIB

Menolak saat memberikan HP remaja dibacok orang tak dikenal

Travel | 18 November 2018 - 08:29 WIB

Yogyakarta siapkan dua kegiatan libur akhir tahun

Elshinta.com - Ketua MPR Zulkifli Hasan menegaskan perguruan Muhammadiyah telah sejak lama melaksanakan pengamalan empat pilar berbangsa dan bernegara khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat dan pendidikan.

Dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (14/9), Zulkifli menjelaskan hal tersebut saat sosialisasi empat pilar di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur di Jl Juanda, Samarinda, Kalimantan Timur. "Muhammadiyah sudah melaksanakan Empat Pilar," katanya.

Zulkifli mencontohkan, sekolah dan perguruan tinggi yang dikelola Muhammadiyah, terutama yang berada di Indonesia bagian timur, peserta didiknya tak hanya ummat Muslim, ummat yang lain pun juga ada. "Bahkan di Indonesia timur peserta didik perguruan Muhammadiyah mayoritas adalah non-Muslim," ungkapnya.

Jadi dari sini Muhammadiyah hadir untuk bangsa dan negara. Tak hanya itu yang dicontohkan oleh pria asal Lampung itu. Dalam memilih ketua, menurut Zulkifli Hasan, Muhammadiyah menggunakan jalan musyawarah untuk mufakat sehingga tak ada unsur intimidasi atau iming-iming. Dari semua yang sudah dilakukan oleh organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu maka dirinya menyebut, kalau Indonesia mau maju, belajarlah pada Muhammadiyah.

Dalam sosialisasi yang diliput oleh beragam media, pria yang mempunyai hobby joging itu mengungkapkan bahwa Indonesia didirikan oleh kaum intelektual. Karena didirikan oleh kaum intelektual maka gagasan berbangsa dan bernegara sangat maju ke depan. "Tahun 1945 kita sudah memikirkan negara kesejahteraan," paparnya.

Masalah ini menurutnya baru dibicarakan oleh negara lain 20 tahun kemudian. Sebagai kaum intelektual, para pendiri bangsa benar-benar memikirkan bangsa, negara, dan rakyat. 

Agus Salim, salah satu pendiri bangsa bahkan menyebut, menjadi pemimpin adalah jalan menderita. Keteladanan dari para pendiri bangsa dikatakan Zulkifli Hasan tak hanya dalam kepemimpinan. Dalam pergaulan, sikap para intelektual itu dikatakan perlu ditiru. "Meski IJ Kasimo dari Partai Katolik dan Natsir dari Masyumi namun mereka bersahabat," ungkapnya.

Meski Buya Hamka dan Soekarno pernah berseteru namun ketika Soekarno wafat, Hamka yang menyolatkan. Sikap para pendiri bangsa itu menurut Bang Zul sesuai dengan cita-cita Indonesia merdeka, yakni bersatu, berdaulat, adil, dan setara.

Setelah Indonesia merdeka 73 tahun, dirinya merasakan apa yang diteladankan para pendiri bangsa itu mulai pudar. "Kepemimpinan kita sekarang berbeda dengan masa lalu," paparnya.

Zulkifli Hasan mengharap para pemimpin atau pejabat melayani rakyat. Hal demikian perlu sebab mereka disumpah untuk taat pada konstitusi. "Taat pada konstitusi adalah mencerdaskah kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut menciptakan perdamaian dunia," pungkasnya, demikian Antara.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Minggu, 18 November 2018 - 09:24 WIB

Polda DIY dan Banten naik jadi Polda tipe A

Minggu, 18 November 2018 - 07:34 WIB

Kemenpan-RB tetapkan nilai ambang batas CPNS sebesar 298

Sabtu, 17 November 2018 - 21:27 WIB

AHY: Penyebar hoax atau fitnah musuh bersama bangsa

Sabtu, 17 November 2018 - 21:15 WIB

AHY: Muslim Indonesia rahmatanlil`alamin

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com