Sabtu, 22 September 2018 | 11:17 WIB

Daftar | Login

kuping kiri paragames
emajels

Dalam Negeri / Ekonomi

Menkeu perkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,14-5,21 persen

Jumat, 14 September 2018 - 09:25 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Dewi Rusiana
Menteri Keuangan Sri Mulyani Sri. Sumber foto: https://bit.ly/2p7reHO
Menteri Keuangan Sri Mulyani Sri. Sumber foto: https://bit.ly/2p7reHO

Elshinta.com - Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 berada pada kisaran 5,14-5,21 persen, seiring masih besarnya ketidakpastian global yang berpengaruh pada perekonomian negara-negara berkembang.

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR membahas asumsi makro RAPBN 2019 di Jakarta, Kamis (13/9) kemarin mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I-2018 baru mencapai 5,17 persen. Selanjutnya, pada triwulan I tumbuh 5,06 persen dan triwulan II tumbuh 5,27 persen. Sementara, pada triwulan III, ekonomi diperkirakan tumbuh di kisaran 5,13-5,25 persen dan pada triwulan III di kisaran 5,1-5,23 persen. "Total seluruh tahun 2018, proyeksi kami dalam range 5,14-5,21 persen," ujarnya.

Menurut Sri Mulyani, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di level 5,2 persen dengan dinamika ekonomi global yang terjadi. Konsumsi diprediksi masih akan tumbuh di atas lima persen di paruh kedua tahun ini. Sementara itu, investasi diyakini akan tumbuh lebih tinggi lagi dibandingkan triwulan kedua yang sempat menurun dibandingkan triwulan pertama.

"PMTB yang merupakan investasi di Q2 (kuartal kedua) cukup turun. Tadinya, kami lihat bisa di atas tujuh persen, namun tidak terjadi karena dampak libur yang cukup panjang. Investasi akan recover dekati tujuh persen yakni 6,7-6,9 persen," kata Sri Mulyani.

Selain itu, ekspor juga diperkirakan akan tetap stabil dan berada di kisaran tujuh persen. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebutkan, berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pada triwulan kedua lalu banyak importir melakukan penundaan impor.

"Jadi Q3 (kuartal ketiga) impor masih cukup tinggi meski mulai merendah karena depresiasi rupiah," ujar Sri Mulyani.

Kendati demikian, lanjutnya, proyeksi tersebut bisa saja meleset menjadi lebih rendah karena ada risiko yang merugikan atau downside risks-nya, antara lain, menurunnya impor akibat dari tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. "Downside risks-nya adalah kemungkinan growth bisa meleset ke 5,15 persen karena impor makin melemah karena depresiasi rupiah. Investasi dan konsumsi akan terpengaruh. Kalau itu terjadi, ekonomi turun ke 5,15 persen," jelas Sri Mulyani, dikutip Antara. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Arestasi | 22 September 2018 - 11:12 WIB

Polisi ringkus perampok-pemerkosaan di rumah WN Jerman

Aktual Dalam Negeri | 22 September 2018 - 10:48 WIB

Anak Krakatau keluarkan 44 letusan

Musibah | 22 September 2018 - 10:24 WIB

Tim SAR gabungan hentikan pencarian turis Korsel di Lombok

Megapolitan | 22 September 2018 - 10:12 WIB

Trans Patriot siap beroperasi di Bekasi tahun ini

Musibah | 22 September 2018 - 09:48 WIB

BPBD: Api di Gunung Sumbing sudah padam

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Sabtu, 22 September 2018 - 10:48 WIB

Anak Krakatau keluarkan 44 letusan

Sabtu, 22 September 2018 - 10:12 WIB

Trans Patriot siap beroperasi di Bekasi tahun ini

Sabtu, 22 September 2018 - 09:15 WIB

APT2PHI: Jokowi harus tegas terkait kisruh impor beras

Sabtu, 22 September 2018 - 08:37 WIB

Bupati-Wakil Bupati Kudus terpilih dilantik 24 September

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com