Minggu, 18 November 2018 | 09:45 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Penelitian: Sebagian masyarakat belum mampu deteksi hoax

Jumat, 14 September 2018 - 11:03 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Dewi Rusiana
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2xbj7yp
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2xbj7yp

Elshinta.com - Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 44 persen masyarakat di Tanah Air belum mampu mendeteksi berita bohong atau hoax, sehingga banyak warga yang masih terpengaruh oleh berita tersebut, demikian riset yang dilakukan oleh DailySocial.id.

"Riset ini mencoba mendalami bagaimana distribusi berita bohong di platform digital dan menjadi referensi bagi pihak- pihak terkait untuk membantu menekan penyebaran hoax," ujar Pimpinan DailySocial.id, Amir Karimuddin, seperti dikutip dari Antara, Jumat (14/9).

Amir menambahkan, masih banyak warga yang belum mampu mencerna informasi dengan benar dan sepenuhnya, tetapi memiliki keinginan untuk segera membagikannya dengan yang lain, khususnya melalui laman sosial yang kita banyak gunakan saat ini. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil riset yang menyatakan bahwa 72 persen responden memiliki kecenderungan untuk membagikan informasi yang bagi mereka adalah penting dan tapi hanya sekitar 55 persen dari responden yang memverifikasi keakuratan berita.

Riset distribusi hoaks di media sosial 2018 memaparkan saluran terbanyak penyebar berita bohong dijumpai di media sosial yaitu di laman Facebook sebanyak 82 persen, disusul WhatsApp sebanyak 57 persen dan sebanyak 29 persen dari Instagram yang diambil dari 2032 responden yang menggunakan telepon genggam di penjuru Indonesia. Oleh sebab itu, Amir mengatakan bahwa hoaks adalah suatu permasalahan yang dihadapi masyarakat, media dan pemerintah saat ini.

"Salah satu cara yang dilakukan adalah memahami terlebih dahulu bagaimana persebaran hoax," ujar Amir Banyak pihak- pihak yang mencoba untuk menahan penyebaran berita bohong atau hoaks tersebut seperti pemerintah yang meregulasi melalui UU ITE dan pengembang platform berusaha menyediakan fitur pelaporan berita.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pemilihan Presiden 2019 | 18 November 2018 - 09:36 WIB

Sandiaga Uno akan buka lapangan kerja seluas-luasnya

Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 09:24 WIB

Polda DIY dan Banten naik jadi Polda tipe A

Bencana Alam | 18 November 2018 - 09:13 WIB

Basarnas siagakan tim di lokasi banjir Tasikmalaya

Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 08:55 WIB

KTT APEC akan bahas konektivitas untuk pertumbuhan inklusif

Kriminalitas | 18 November 2018 - 08:45 WIB

Menolak saat memberikan HP remaja dibacok orang tak dikenal

Travel | 18 November 2018 - 08:29 WIB

Yogyakarta siapkan dua kegiatan libur akhir tahun

Elshinta.com - Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 44 persen masyarakat di Tanah Air belum mampu mendeteksi berita bohong atau hoax, sehingga banyak warga yang masih terpengaruh oleh berita tersebut, demikian riset yang dilakukan oleh DailySocial.id.

"Riset ini mencoba mendalami bagaimana distribusi berita bohong di platform digital dan menjadi referensi bagi pihak- pihak terkait untuk membantu menekan penyebaran hoax," ujar Pimpinan DailySocial.id, Amir Karimuddin, seperti dikutip dari Antara, Jumat (14/9).

Amir menambahkan, masih banyak warga yang belum mampu mencerna informasi dengan benar dan sepenuhnya, tetapi memiliki keinginan untuk segera membagikannya dengan yang lain, khususnya melalui laman sosial yang kita banyak gunakan saat ini. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil riset yang menyatakan bahwa 72 persen responden memiliki kecenderungan untuk membagikan informasi yang bagi mereka adalah penting dan tapi hanya sekitar 55 persen dari responden yang memverifikasi keakuratan berita.

Riset distribusi hoaks di media sosial 2018 memaparkan saluran terbanyak penyebar berita bohong dijumpai di media sosial yaitu di laman Facebook sebanyak 82 persen, disusul WhatsApp sebanyak 57 persen dan sebanyak 29 persen dari Instagram yang diambil dari 2032 responden yang menggunakan telepon genggam di penjuru Indonesia. Oleh sebab itu, Amir mengatakan bahwa hoaks adalah suatu permasalahan yang dihadapi masyarakat, media dan pemerintah saat ini.

"Salah satu cara yang dilakukan adalah memahami terlebih dahulu bagaimana persebaran hoax," ujar Amir Banyak pihak- pihak yang mencoba untuk menahan penyebaran berita bohong atau hoaks tersebut seperti pemerintah yang meregulasi melalui UU ITE dan pengembang platform berusaha menyediakan fitur pelaporan berita.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Minggu, 18 November 2018 - 09:24 WIB

Polda DIY dan Banten naik jadi Polda tipe A

Minggu, 18 November 2018 - 07:34 WIB

Kemenpan-RB tetapkan nilai ambang batas CPNS sebesar 298

Sabtu, 17 November 2018 - 21:27 WIB

AHY: Penyebar hoax atau fitnah musuh bersama bangsa

Sabtu, 17 November 2018 - 21:15 WIB

AHY: Muslim Indonesia rahmatanlil`alamin

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com