Selasa, 13 November 2018 | 02:02 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

APTRI kecewa gula rafinasi digelontorkan ke Lumajang

Jumat, 14 September 2018 - 17:45 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Istimewa. Foto: Efendi Murdiono/Radio Elshinta
Istimewa. Foto: Efendi Murdiono/Radio Elshinta

Elshinta.com - Ketua DPD Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PTPN Xl Budi Susilo mengaku kecewa dengan adanya temuan gula rafinasi yang digelontorkan di Kabupaten Lumajang Jawa Timur, dimana wilayah tersebut merupakan daerah lumbung tanaman tebu.

Dikatakan Budi, kondisi ini menjadi petani tebu panik karena gula yang peruntukannya pada pabrik produksi makanan dan minuman, pada Kamis (13/09) kemarin satu kontainer diturunkan di pinggir jalan nasional di wilayah kecamatan Pasirian dipindahkan ke kendaraan pick up.

Budi Susilo menjelaskan ada dugaan kuat gula rafinasi beredar di pasaran sebagai konsumsi masyarakat Lumajang, sebab hasil laporan yang diterima pick up pengangkut gula rafinasi mengarahkan kendaraan ke wilayah Candipuro padahal peruntukannya sudah jelas pemenuhan bahan baku produksi makanan dan minuman. Menurutnya aparat berwenang untuk melakukan tindakan tegas selain kendaraan yang digunakan bukan milik perusahaan produksi makanan dan minuman juga dampaknya di petani hancurkan ekonomi masyarakat.

Lanjut Budi, kondisi saat ini gula petani di gudang pabrik gula tertimbun karena mulai tidak ada tawaran lagi dan gula yang sudah terbeli Bulog pun tidak lunas dibayar. Merosotnya ekonomi petani tebu ditengarai pemerintah terus melakukan impor gula yang tidak diikuti data akan kebutuhan gula rafinasi atau gula mentah dalam negeri.

Budi mendesak pemerintah yang berwenang dari pusat sampai daerah adanya kebocoran gula sampai ke pasaran agar dikoreksi tata niaganya karena ancaman serius matinya sektor pertanian tebu di Tanah Air. 

Pihaknya selaku pemegang amanat pengurus APTRI PTPN Xl mendukung lelang gula rafinasi dilakukan secara online guna memastikan gula yang datang dari luar negeri masuk memenuhi kebutuhan pabrik produksi makanan dan minuman sesuai dengan kebutuhannya.

Tiga tahun terakhir petani tebu tidak menyicipi manisnya hasil panen yang dirasakan "tahun ini yang menjadikan petani terpuruk," pungkas Budi seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Politik | 12 November 2018 - 22:38 WIB

Relawan bergerak kompak menangkan Jokowi - Ma'ruf di Sumsel

Politik | 12 November 2018 - 22:27 WIB

Pengamat: PSI bisa jadi role model milenial di pentas politik

Liga Inggris | 12 November 2018 - 21:40 WIB

Eden Hazard mengaku senang meski merasa lelah

Liga Inggris | 12 November 2018 - 21:28 WIB

Juan Mata menyebut MU jalani pekan yang tidak menentu

Kesehatan | 12 November 2018 - 21:12 WIB

Dua puskesmas di Kudus akan dinaikan status jadi rumah sakit

Elshinta.com - Ketua DPD Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PTPN Xl Budi Susilo mengaku kecewa dengan adanya temuan gula rafinasi yang digelontorkan di Kabupaten Lumajang Jawa Timur, dimana wilayah tersebut merupakan daerah lumbung tanaman tebu.

Dikatakan Budi, kondisi ini menjadi petani tebu panik karena gula yang peruntukannya pada pabrik produksi makanan dan minuman, pada Kamis (13/09) kemarin satu kontainer diturunkan di pinggir jalan nasional di wilayah kecamatan Pasirian dipindahkan ke kendaraan pick up.

Budi Susilo menjelaskan ada dugaan kuat gula rafinasi beredar di pasaran sebagai konsumsi masyarakat Lumajang, sebab hasil laporan yang diterima pick up pengangkut gula rafinasi mengarahkan kendaraan ke wilayah Candipuro padahal peruntukannya sudah jelas pemenuhan bahan baku produksi makanan dan minuman. Menurutnya aparat berwenang untuk melakukan tindakan tegas selain kendaraan yang digunakan bukan milik perusahaan produksi makanan dan minuman juga dampaknya di petani hancurkan ekonomi masyarakat.

Lanjut Budi, kondisi saat ini gula petani di gudang pabrik gula tertimbun karena mulai tidak ada tawaran lagi dan gula yang sudah terbeli Bulog pun tidak lunas dibayar. Merosotnya ekonomi petani tebu ditengarai pemerintah terus melakukan impor gula yang tidak diikuti data akan kebutuhan gula rafinasi atau gula mentah dalam negeri.

Budi mendesak pemerintah yang berwenang dari pusat sampai daerah adanya kebocoran gula sampai ke pasaran agar dikoreksi tata niaganya karena ancaman serius matinya sektor pertanian tebu di Tanah Air. 

Pihaknya selaku pemegang amanat pengurus APTRI PTPN Xl mendukung lelang gula rafinasi dilakukan secara online guna memastikan gula yang datang dari luar negeri masuk memenuhi kebutuhan pabrik produksi makanan dan minuman sesuai dengan kebutuhannya.

Tiga tahun terakhir petani tebu tidak menyicipi manisnya hasil panen yang dirasakan "tahun ini yang menjadikan petani terpuruk," pungkas Budi seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com