Mahkamah Agung nyatakan mantan napi korupsi boleh nyaleg
Jumat, 14 September 2018 - 20:52 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Administrator
Sumber Foto: https://bit.ly/2NcBg93

Elshinta.com - Mahkamah Agung (MA) melalui putusan uji materi Peraturan KPU No. 20 Tahun 2018 menyatakan mantan narapidana kasus tindak pidana korupsi diperbolehkan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten-kota.

"Uji materi tersebut sudah diputus dan dikabulkan oleh MA," ujar Juru Bicara MA Suhadi di Jakarta, Jumat (14/9), seperti dikutip Antara.

Uji materi terkait larangan mantan narapidana kasus korupsi, bandar narkoba, kejahatan seksual terhadap anak untuk menjadi bakal calon anggota legislatif (bacaleg) dalam Pemilu 2019 sudah diputus oleh MA pada Kamis (13/9). "Jadi, pasal yang diujikan itu sekarang sudah tidak berlaku lagi," jelas Suhadi.

Dalam pertimbangannya, MA menyatakan bahwa ketentuan yang digugat oleh para pemohon bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi, yaitu UU 7/2017 (UU Pemilu).

Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa mantan terpidana kasus korupsi diperbolehkan mencalonkan diri sebagai anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten-kota asalkan memenuhi beberapa persyaratan. "Sesuai dengan UU Pemilu karena ada persyaratan setelah lima tahun yang bersangkutan menjalani hukuman, dia boleh mencalonkan diri," tambah Suhadi.

Selain itu Suhadi menjelaskan putusan MA tersebut juga mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait uji UU Pemilu yang menyebutkan bahwa mantan terpidana diperbolehkan mencalonkan diri sebagai anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten-kota asalkan yang bersangkutan mengakui kesalahannya di depan publik.

"Jadi, mengacu ke sana (putusan MK) karena itu peraturan yang lebih tinggi, dan pada dasarnya ketentuan itu memang sudah bertentangan dengan peraturan di atasnya, yaitu UU 7/2018," kata Suhadi.

Adapun perkara uji materi yang dimohonkan oleh Wa Ode Nurhayati dan KPU ini diperiksa dan diputus oleh tiga hakim agung, yaitu Irfan Fachrudin, Yodi Martono, dan Supandi, dengan nomor perkara 45 P/HUM/2018.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca dulu artikelnya baru jawab, emang siapa yang mau cari presiden...? Kan udah ada dua kandidat

Baca Juga
 
Sabtu, 20 April 2019 - 19:39 WIB
Elshinta.com - Perempuan Tangguh Pilih Jokowi (Pertiwi) pendukung pasangan Jokowi-Ma`ruf A...
Sabtu, 20 April 2019 - 14:21 WIB
Elshinta.com - Wali Kota Bogor periode 2019-2024, Bima Arya Sugiarto, menegaskan hubungan ...
Sabtu, 20 April 2019 - 13:54 WIB
Elshinta.com - Jajaran pengurus DPP Partai Amanat Nasional (PAN) tidak hadir di acara pela...
Rabu, 10 April 2019 - 10:50 WIB
Elshinta.com - Anggota DPR RI dari fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso telah ditetapkan seb...
Senin, 08 April 2019 - 20:07 WIB
Elshinta.com - Survei yang dilakukan oleh Indodata menunjukkan pemilih muslim lebih condong unt...
Senin, 01 April 2019 - 12:06 WIB
Elshinta.com - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane mengatakan, KPK p...
Senin, 01 April 2019 - 07:12 WIB
Elshinta.com - Presiden Joko Widodo menyatakan prihatin dengan praktik politik yang tidak ...
Kamis, 28 Maret 2019 - 14:07 WIB
Elshinta.com - Memasuki putaran akhir musim kampanye pemilihan anggota legislatif (Pileg) 2019,...
Kamis, 28 Maret 2019 - 13:56 WIB
Elshinta.com - Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara  mengatakan terdap...
Kamis, 28 Maret 2019 - 11:19 WIB
Elshinta.com - Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily mengatakan, Partai Golkar tidak...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)