Senin, 19 November 2018 | 19:29 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Bencana Alam

157 titik panas terdeteksi di Sumatera

Sabtu, 15 September 2018 - 15:53 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2LOu69M/Elshinta.
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2LOu69M/Elshinta.

Elshinta.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 157 titik panas melalui sensor modis satelit yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatera.

"Kalau di Aceh nihil titik panas, tapi sejumlah provinsi di Sumatera hari ini terdapat 157 titik," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Blang Bintang, Zakaria Ahmad di Aceh Besar, Sabtu (15/9).

Hasil pantauan sensor modis, lanjut dia, ada 60 titik panas di antaranya sebagai titik api dengan tingkat kepercayaan lebih dari 81 persen untuk setiap titiknya.

Lalu 36 titik panas di antaranya patut diduga sebagai titik api dengan tingkat kepercayaan di atas 71 persen, dan 37 titik mengkhawatirkan karena tingkat kepercayaannya 61 persen. "Untuk titik api dan diduga titik api mayoritas di Sumatera Selatan lalu Lampung, Bangka Belitung, dan Riau," terang dia, seperti dikutip Antara.

Sedangkan sisanya sebanyak 24 titik panas dalam kategori aman karena tingkat kepercayaan 51 persen. "Selain di empat provinsi, titik panas hari ini juga terpantau di Jambi dan Sumatera Barat dalam jumlah yang sedikit," tutur Zakaria.

Pemerintah terus mengawal ketat wilayah rawan kebaran hutan dan lahan, sehingga berhasil menurunkan jumlah titik api hingga 96,5 persen di seluruh Indonesia dalam periode 2015-2017.

"Berdasarkan data hasil pantauan satelit milik NOAA, jumlah titik api di 2015 mencapai 21.929, sedangkan di 2016 menurun menjadi 3.915. Pada 2017, jumlah titik api kembali menurun menjadi 2.257," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Raffles B Panjaitan.

KLHK mencatat luas area hutan dan lahan yang terbakar di 2015 mencapai 2.611.411 hektare (ha). Angka ini menurun menjadi 438.360 ha di 2016, lalu turun lagi menjadi 165.464 ha di 2017. "Sejak 2016, perusahaan tidak berani lagi melakukan pembukaan lahan dengan membakar, ini berpengaruh. Kalau pun ada yang terbakar itu hanya spot-spot kecil saja karena kelalaian," ujar Raffles.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 19:24 WIB

Boeing dinilai tidak transparan terkait potensi error

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 19:18 WIB

Polresta Pekalongan amankan 180 ton batu bara

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 19:12 WIB

Rupiah terus menguat jadi Rp14.586

Megapolitan | 19 November 2018 - 19:08 WIB

DKI Jakarta diharapkan gelar sayembara atasi Kali Item

Hukum | 19 November 2018 - 18:56 WIB

Ahmad Dhani harap Jaksa beri kepastian hukum

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 18:46 WIB

Arcandra: Investasi satu sumur bisa capai Rp1,5 triliun

Elshinta.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 157 titik panas melalui sensor modis satelit yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatera.

"Kalau di Aceh nihil titik panas, tapi sejumlah provinsi di Sumatera hari ini terdapat 157 titik," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Blang Bintang, Zakaria Ahmad di Aceh Besar, Sabtu (15/9).

Hasil pantauan sensor modis, lanjut dia, ada 60 titik panas di antaranya sebagai titik api dengan tingkat kepercayaan lebih dari 81 persen untuk setiap titiknya.

Lalu 36 titik panas di antaranya patut diduga sebagai titik api dengan tingkat kepercayaan di atas 71 persen, dan 37 titik mengkhawatirkan karena tingkat kepercayaannya 61 persen. "Untuk titik api dan diduga titik api mayoritas di Sumatera Selatan lalu Lampung, Bangka Belitung, dan Riau," terang dia, seperti dikutip Antara.

Sedangkan sisanya sebanyak 24 titik panas dalam kategori aman karena tingkat kepercayaan 51 persen. "Selain di empat provinsi, titik panas hari ini juga terpantau di Jambi dan Sumatera Barat dalam jumlah yang sedikit," tutur Zakaria.

Pemerintah terus mengawal ketat wilayah rawan kebaran hutan dan lahan, sehingga berhasil menurunkan jumlah titik api hingga 96,5 persen di seluruh Indonesia dalam periode 2015-2017.

"Berdasarkan data hasil pantauan satelit milik NOAA, jumlah titik api di 2015 mencapai 21.929, sedangkan di 2016 menurun menjadi 3.915. Pada 2017, jumlah titik api kembali menurun menjadi 2.257," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Raffles B Panjaitan.

KLHK mencatat luas area hutan dan lahan yang terbakar di 2015 mencapai 2.611.411 hektare (ha). Angka ini menurun menjadi 438.360 ha di 2016, lalu turun lagi menjadi 165.464 ha di 2017. "Sejak 2016, perusahaan tidak berani lagi melakukan pembukaan lahan dengan membakar, ini berpengaruh. Kalau pun ada yang terbakar itu hanya spot-spot kecil saja karena kelalaian," ujar Raffles.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 19 November 2018 - 18:08 WIB

Polisi masih selidiki kasus mayat dalam drum

Senin, 19 November 2018 - 17:27 WIB

Polisi identifikasi penumpang Lion Air JT 610

Senin, 19 November 2018 - 16:53 WIB

Korban pembunuhan dalam tong mantan wartawan

Senin, 19 November 2018 - 16:02 WIB

Polisi bekuk pelaku penipuan rekrutmen PT KAI

Senin, 19 November 2018 - 15:27 WIB

Polisi ungkap prostitusi online `Sukabumi Asyik`

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com