Sabtu, 17 November 2018 | 02:07 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Jangan menikah karena lima alasan ini

Sabtu, 15 September 2018 - 21:48 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2Oq22r4
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2Oq22r4

Elshinta.com - Menikah adalah sebuah keputusan besar dan penuh tanggung jawab. Banyak yang akhirnya memutuskan menikah atas dasar cinta. Alasan lainnya mungkin karena telah menemukan sosok pendamping hidup.

Namun sayangnya, ada pula yang memutuskan menikah karena alasan-alasan yang kurang tepat. Berikut lima alasan yang salah saat memutuskan untuk menikah.

  • Sudah umurnya menikah

Umur tidak bisa dijadikan patokan bagi seseorang untuk menikah. Umur juga tidak pernah dapat mementukan apakah seseorang siap atau tidak untuk menikah.

Karena, menurut psikolog klinis dewasa, Sri Juwita Kusumawardhani, tidak semua orang memiliki usia mental yang berjalan sama dengan usia kronologisnya. "Misalnya usia 27 tahun, bisa jadi usia mentalnya di bawah atau di atas itu," ujar perempuan yang akrab disapa Wita itu, dalam talkshow "Ready to Say I Do," di Jakarta, Sabtu (15/9), seperti dikutip Antara.

  • Durasi pacaran yang sudah terlalu lama

Wita mengatakan lamanya waktu berpacaran tidak menentukan kualitas hubungan dari pasangan tersebut. "Kualitas dan kuantitas hubungan tidak selalu berbanding lurus, bisa jadi berbanding terbalik," kata dia.

  • Ingin lepas dari beban masalah

Banyak orang yang beranggapan bahwa menikah merupakan jalan pintas untuk terlepas dari masalah. Namun, kenyataan tidak demikian. "Karena menikah tidak pernah jadi jawaban dari masalah. Kalau pasangan tepat tentunya akan meringankan, tapi kalau tidak tepat, pasti akan semakin berat," ujar Wita.

  • Ingin melarikan diri dari keluarga asal

Bagi seseorang yang mendapat banyak tuntutan dari keluarga, menganggap bahwa pernikahan menjadi cara agar tidak berurusan dengan orang tua. "Bisa jadi (cara ini) berhasil, kalau kualitas hubungan dengan pasangan baik. Kalau tidak, belum tentu dia bahagia keluar dari keluarga asli," kata Wita.

  • Pasrah dengan seseorang yang kebetulan ada

Panik saat mantan pacar sudah menikah. Perasaan ini banyak memicu orang untuk segera menikah, yang menyebabkan terburu-buru dalam memilih pasangan.

Jika ini terjadi, mereka cenderung menikah dengan orang yang tidak begitu dikenalnya. Dalam situasi ini, psikolog Wita mengatakan, kebanyakan orang hanya melihat pasangan dari faktor eksternal-nya saja, seperti kemapanan. "Padahal itu hanya bungkus faktor. Memang tidak ada pasangan 100 persen cocok, tidak ada yang ideal. Tapi, untuk sesuatu yang long lasting tidak bisa dari packaging-nya saja," ujar dia.

"Kalau kita enggak kenal dalamnya terlalu berisiko," tambah dia.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Arestasi | 16 November 2018 - 21:50 WIB

Polsek Pangkalan Brandan ringkus bandar dan pengedar narkoba

Hukum | 16 November 2018 - 21:38 WIB

Penyerang anggota Polsek Penjaringan jalani tes kejiwaan

Event | 16 November 2018 - 21:24 WIB

Andik siap habis-habisan hadapi Thailand

Politik | 16 November 2018 - 21:07 WIB

DPR: Polemik politik masih jauh dari etika

Megapolitan | 16 November 2018 - 20:55 WIB

Atasi genangan air, Sudin SDA pasang `sheetpile` Kali BGR

Elshinta.com - Menikah adalah sebuah keputusan besar dan penuh tanggung jawab. Banyak yang akhirnya memutuskan menikah atas dasar cinta. Alasan lainnya mungkin karena telah menemukan sosok pendamping hidup.

Namun sayangnya, ada pula yang memutuskan menikah karena alasan-alasan yang kurang tepat. Berikut lima alasan yang salah saat memutuskan untuk menikah.

  • Sudah umurnya menikah

Umur tidak bisa dijadikan patokan bagi seseorang untuk menikah. Umur juga tidak pernah dapat mementukan apakah seseorang siap atau tidak untuk menikah.

Karena, menurut psikolog klinis dewasa, Sri Juwita Kusumawardhani, tidak semua orang memiliki usia mental yang berjalan sama dengan usia kronologisnya. "Misalnya usia 27 tahun, bisa jadi usia mentalnya di bawah atau di atas itu," ujar perempuan yang akrab disapa Wita itu, dalam talkshow "Ready to Say I Do," di Jakarta, Sabtu (15/9), seperti dikutip Antara.

  • Durasi pacaran yang sudah terlalu lama

Wita mengatakan lamanya waktu berpacaran tidak menentukan kualitas hubungan dari pasangan tersebut. "Kualitas dan kuantitas hubungan tidak selalu berbanding lurus, bisa jadi berbanding terbalik," kata dia.

  • Ingin lepas dari beban masalah

Banyak orang yang beranggapan bahwa menikah merupakan jalan pintas untuk terlepas dari masalah. Namun, kenyataan tidak demikian. "Karena menikah tidak pernah jadi jawaban dari masalah. Kalau pasangan tepat tentunya akan meringankan, tapi kalau tidak tepat, pasti akan semakin berat," ujar Wita.

  • Ingin melarikan diri dari keluarga asal

Bagi seseorang yang mendapat banyak tuntutan dari keluarga, menganggap bahwa pernikahan menjadi cara agar tidak berurusan dengan orang tua. "Bisa jadi (cara ini) berhasil, kalau kualitas hubungan dengan pasangan baik. Kalau tidak, belum tentu dia bahagia keluar dari keluarga asli," kata Wita.

  • Pasrah dengan seseorang yang kebetulan ada

Panik saat mantan pacar sudah menikah. Perasaan ini banyak memicu orang untuk segera menikah, yang menyebabkan terburu-buru dalam memilih pasangan.

Jika ini terjadi, mereka cenderung menikah dengan orang yang tidak begitu dikenalnya. Dalam situasi ini, psikolog Wita mengatakan, kebanyakan orang hanya melihat pasangan dari faktor eksternal-nya saja, seperti kemapanan. "Padahal itu hanya bungkus faktor. Memang tidak ada pasangan 100 persen cocok, tidak ada yang ideal. Tapi, untuk sesuatu yang long lasting tidak bisa dari packaging-nya saja," ujar dia.

"Kalau kita enggak kenal dalamnya terlalu berisiko," tambah dia.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com