Rabu, 24 Oktober 2018 | 04:37 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Politik

PPTI tidak mempermasalahkan Ijtima Ulama II

Senin, 17 September 2018 - 19:56 WIB    |    Penulis : Sigit Kurniawan    |    Editor : Administrator
PPTI tidak mempermasalahkan Ijtima Ulama II. Foto: Efendi Murdiono/Elshinta.
PPTI tidak mempermasalahkan Ijtima Ulama II. Foto: Efendi Murdiono/Elshinta.

Elshinta.com - Ijtima ulama ll merupakan hasil keputusan terhadap pilihannya dalam kontribusi suara Presiden dan Wakil Presiden 2019. Kesamaan fikirian itu untuk Indonesia lebih baik utamanya perlindungan keamanan, pangan, kesehatan, pendidikan dan lainnya. Demikian dikatakan Ketua Umum Persatuan Pengamal Tharekat Islam (PPTI) Ormas Kino Kino Sekber Golkar Rahman Sabon Nama, Senin (17/9). 

"Saya coba memberikan pencerahan dari  sudut pandang saya untuk kepentingan negara dan bangsa bahwa agama itu tidak tergantung hasil pemilu 2019, demikian pula tidak tergantung menang atau kalahnya salah satu kandidat pasangan capres-cawapres karena agama tetap menjadi keyakinan dari rakyat Indonesia. Lahirnya Ijtima Ulama ll dilakukan untuk menghadapi tantangan pembangunan nasional terkini dan kedepan, karena di era pemerintahan sekarang dirasakan adanya agenda pemiskinan rakyat Indonesia melalui jorjoran impor pangan tanpa mengindahkan UU pangan, ketidakadilan di bidang ekonomi, tenaga kerja dan imigran gelap asal China menyerbu lapangan kerja Indonesia, ekonomi pribumi  terpinggirkan karena hegemoni asing dan aseng, perlakuan tidak adil terhadap ulama dan umat Islam adanya kriminilisasi ulama/Islam phobia", kata Rahman kepada Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.

Dijelaskan Rahman tidak dipungkiri bahwa peranan  para ulama/kyai itu sangatlah besar dalam pembangunan nasional, membimbing masyarakat. Maka seharusnya diperlukan kesatuan sikap antara ulama dan umaro/pemerintah, malahan oleh sebagian umat dianggap  sebaliknya. 
Oleh karena itu lahirlah Ijtima Ulama II di Grand Cempaka Hotel, Minggu (16/9-2018) adalah untuk memilih pemimpin yang lebih memahami aspirasi umat Islam. 

Menurut Rahman, sikap dan tindakan para kyai, pendeta, pastor dan tokoh agama/pemuka agama sangat mempengaruhi masyarakat sekitar, sehingga dapat digunakan sebagai landasan untuk membangunan kerukunan hidup beragama dan untuk mensukseskan pembangunan nasional dan merupakan tugas kita bersama. "Ini yang seharusnya dipahami oleh pemerintahan Jokowi," tandasnya.  

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 21:26 WIB

Kemenpar akan mendata agen perjalanan asing atasi paket wisata murah

Hukum | 23 Oktober 2018 - 21:15 WIB

DPRD Medan ingatkan Pemko terkait lokasi reklame

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 20:55 WIB

Presiden minta dana kelurahan tak dihubungkan dengan politik

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 20:37 WIB

AMAN klaim kebangkitan masyarakat adat di Jayapura positif

Elshinta.com - Ijtima ulama ll merupakan hasil keputusan terhadap pilihannya dalam kontribusi suara Presiden dan Wakil Presiden 2019. Kesamaan fikirian itu untuk Indonesia lebih baik utamanya perlindungan keamanan, pangan, kesehatan, pendidikan dan lainnya. Demikian dikatakan Ketua Umum Persatuan Pengamal Tharekat Islam (PPTI) Ormas Kino Kino Sekber Golkar Rahman Sabon Nama, Senin (17/9). 

"Saya coba memberikan pencerahan dari  sudut pandang saya untuk kepentingan negara dan bangsa bahwa agama itu tidak tergantung hasil pemilu 2019, demikian pula tidak tergantung menang atau kalahnya salah satu kandidat pasangan capres-cawapres karena agama tetap menjadi keyakinan dari rakyat Indonesia. Lahirnya Ijtima Ulama ll dilakukan untuk menghadapi tantangan pembangunan nasional terkini dan kedepan, karena di era pemerintahan sekarang dirasakan adanya agenda pemiskinan rakyat Indonesia melalui jorjoran impor pangan tanpa mengindahkan UU pangan, ketidakadilan di bidang ekonomi, tenaga kerja dan imigran gelap asal China menyerbu lapangan kerja Indonesia, ekonomi pribumi  terpinggirkan karena hegemoni asing dan aseng, perlakuan tidak adil terhadap ulama dan umat Islam adanya kriminilisasi ulama/Islam phobia", kata Rahman kepada Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.

Dijelaskan Rahman tidak dipungkiri bahwa peranan  para ulama/kyai itu sangatlah besar dalam pembangunan nasional, membimbing masyarakat. Maka seharusnya diperlukan kesatuan sikap antara ulama dan umaro/pemerintah, malahan oleh sebagian umat dianggap  sebaliknya. 
Oleh karena itu lahirlah Ijtima Ulama II di Grand Cempaka Hotel, Minggu (16/9-2018) adalah untuk memilih pemimpin yang lebih memahami aspirasi umat Islam. 

Menurut Rahman, sikap dan tindakan para kyai, pendeta, pastor dan tokoh agama/pemuka agama sangat mempengaruhi masyarakat sekitar, sehingga dapat digunakan sebagai landasan untuk membangunan kerukunan hidup beragama dan untuk mensukseskan pembangunan nasional dan merupakan tugas kita bersama. "Ini yang seharusnya dipahami oleh pemerintahan Jokowi," tandasnya.  

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com