Crowde, startup investasi sahabat petani
Elshinta
Rabu, 19 September 2018 - 18:45 WIB | Penulis : Syahid | Editor : Administrator
Crowde, startup investasi sahabat petani
Yohanes Sugihtononugroho, pendiri Crowde. Sumber foto: Reza/Elshinta.com

Elshinta.com - Dorongan untuk bisa berkontribusi secara nyata membantu kehidupan para petani sudah muncul di dalam diri Yohanes Sugihtononugroho sejak masih kuliah. Saat itu, ia mengikuti program KKN di sebuah desa di Jawa Barat. Yohanes mendapat tugas membantu perekonomian seorang ibu yang suaminya baru saja meninggal. Ia dan teman-temannya lantas mencari cara bagaimana bisa membantu si ibu. Idenya pada saat itu adalah dengan mengajaknya membubidayakan jamur tiram. Mereka bawakan bibitnya, mengajarkan cara membubidayakan, hingga mencarikan pihak yang mau membeli jamur tiram tersebut. 

Enam bulan kemudian, saat Yohanes sudah kembali ke Jakata, sang ibu menelpon, mengabarkan bahwa usaha jamur tiramnya berhasil. Perekonomian sang ibu meningkat hingga bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah perawat. Pengalaman tersebut membuat ia merasa senang bisa membantu secara nyata sebuah keluarga petani . 

Selesai kuliah, Yohanes melihat bahwa sektor pertanian dan peternakan merupakan salah satu sektor industri yang memiliki opportunity besar. Ia pun sempat memulai bisnis peternakan ayam dan cukup berhasil. Namun, pada saat itu ada kejadian di mana harga ayam turun drastis akibat ulah beberapa pelaku industri peternakan ayam yang menjual ayam sakit dengan harga murah. Usahanya pun bangkrut dan ia merasakan betapa tekanan itu sangat besar. 

Membantu akses permodalan petani

“Kita waktu itu mikir, gimana kalau kita aja yang boleh dibilang kelas menengah, bisa tertekan habis-habisan gini. Bagaimana dengan pemain-pemain kecil?” ujar Yohanes. Setelah kejadian yang ia alami, Yohanes justru semakin tertarik untuk mencari cara bagaimana meningkatkan daya saing petani-petani kecil. 

Yohanes, menghabiskan waktu lebih dari tiga bulan keliling dari satu desa ke desa lain untuk mengetahui apa yang sebenarnya ia bisa bantu untuk petani. Sampai akhirnya ia bertemu seorang bapak di sebuah desa di Jawa Tengah, yang mendapatkan pinjaman sebesar dua juta rupiah dari seorang rentenir. Yang menyedihkan, pinjaman dari rentenir tersebut harus dibayar mahal dengan jaminan anak gadisnya. Pengalaman menyaksikan hal itu membuat Yohanes kaget dan terketuk hatinya. “Saya pikir masa pinjem dua juta jaminannya anak perempuannya dia. Ada something kalau buat kita gak wajar, dan nggak masuk di otak aja. Ngeri ya?” ujar lulusan Universitas Prasetya Mulya tersebut. 

Kembali ke Jakarta, Ia kemudian menggagas sebuah startup peer to peer (P2P) lending yang mengkhususkan diri pada pemberian akses permodalan bagi para petani bernama Crowde.  P2P Lending merupakan salah satu dari sekian banyak layanan fintech atau financial technology yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Dengan pemanfaatan teknologi, layanan P2P Lending mampu menyelenggarakan layanan investasi dan kredit pinjaman yang lebih sederhana, cepat dan transparan. 

Dalam aplikasi berbasis app dan website tersebut, para petani dipertemukan dengan pemodal yang siap menginvestasikan uangnya pada proyek-proyek pertanian yang tersedia. Menurut Yohanes, Crowde menggunakan konsep crowfunding di mana orang-orang bisa ikut patungan mendanai sebuah proyek pertanian dan akan mendapatkan profit dari bagi hasil proyek tersebut. “Simpelnya adalah gimana caranya kita bisa patungan untuk bantuin si petani.” Ujar Yohannes. 

Modal memang menjadi salah satu masalah klasik bagi dunia pertanian. Lemahnya akses petani terhadap sumber-sumber modal formal disebabkan oleh prosedur yang tidak sederhana. Sementara skala usaha petani yang relatif kecil membuat bank berpikir seribu kali sebelum menyalurkan dana kredit. Belum lagi sektor pertanian dianggap sebagai sektor yang beresiko tinggi akibat faktor alam seperti bencana banjir, kekeringan atau serangan hama yang sewaktu-waktu bisa terjadi. 

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan pada April 2016, penyaluran pembiayaan atau kredit ke sektor pertanian baru tercatat sebesar Rp257,8 triliun atau sekitar 6,4% dari Total Kredit Perbankan nasional yang sebesar Rp4.003,1 triliun. Angka tersebut menunjukkan masih minimnya dukungan lembaga keuangan formal pada petani. 
Selama tiga tahun berdiri, Crowde telah membantu lebih dari 14 ribu petani yang semula hanya sekitar 30 petani . Sudah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia kecuali Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.  Sementara itu,  jumlah investor yang terlibat tercatat mencapai lebih dari 20 ribu investor.  

Lebih dari sekadar P2P Lending

crowde user interface

Sebagai layanan teknologi yang bermitrakan petani, Crowde memiliki tantangan tersendiri yang berbeda dengan startup atau platform P2P Lending lainnya. Misalnya pada kemampuan petani dalam mengelola modal. Yohannes menuturkan, 90% masalah pertanian terletak pada kesalahan manajemen keuangan. 
Banyak petani yang belum mampu mengalokasikan modal pertanian yang ia punya secara efektif dan efisien sehingga menghasilkan profit yang besar. Selain itu, rendahnya literasi keuangan seringkali membuat petani mencampuradukkan dana pribadi dan dana usaha sehingga nantinya, pertanggungjawabannya akan sulit.

Karena itulah, Crowde menyalurkan modal ke petani tidak dalam bentuk cash, tetapi barang seperti bibit, pupuk dan sebagainya. “Kita bikin ekosistem yang enggak pake cash. Karena 90% masalah pertanian adalah karena miss management of money.” ujar Yohannes.

Selain masalah pengelolaan modal, Crowde juga membantu sampai pada tahap pemasarannya. Secara tradisional, para petani akan menjual hasil panennya ke tengkulak-tengkulak dengan harga yang seringkali tidak banyak menguntungkan para petani. Untuk itu, Crowde membantu menghubungkan secara langsung ke eksportir, pasar tradisional, swalayan, sampai pelaku-pelaku UMKM. 

Sistem bagi hasil

Menurut Yohannes, pihaknya lebih menekankan pada sistem bagi hasil ketimbang bunga yang dibebankan di awal perjanjian. “Kita sebenarnya nggak pake bunga, artinya kita lebih ke sharing profit. Kita punya program syariah di mana kaya musyarokah, murobahah, gimana akadnya, gimana bagi hasilnya”. ujar Yohannes.

Untuk penyalurannya, Crowde lebih memilih untuk memberikannya pada komunitas ketimbang petani individu. “Setiap petani yang mau bekerjasama dengan kita wajib tergabung dalam komunitasnya dulu. Jadi kita building communitynya dulu.” ujar Yohannes. Setelahnya, para petani diberikan pelatihan-pelatihan dan baru kemudian bisa mengajukan pinjaman.  

Sementara untuk investor, mereka diberikan kebebasan dalam memilih proyek pertanian mana yang ia masuki. Ada banyak jenis proyek pertanian dan peternakan yang bisa investor pilih mulai dari sayuran, buah-buahan, kopi, sampai peternakan seperti ikan, bebek dan ayam. Crowde menyediakan data lengkap kondisi petani, estimasi profit dan resikonya sehingga investasi lebih terukur.

Yohannes saat ini fokus untuk melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah lain di Indonesia. Menurutnya, ada 26,1 juta petani di Indonesia dan yang baru bekerjasama dengan Crowde masih sekitar 14 ribu petani. “Itu yang menjadi fokus kita saat ini, jadi gimana caranya semua petani bisa join ke komunitas kita.”. ujarnya. Yohannes percaya teknologi bisa meningkatkan daya saing petani-petani kecil sehingga mereka sebagai produsen kebutuhan pangan kita sehari-hari bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi.

***

Artikel Crowde dan pelaku usaha digital lainnya dapat Anda baca pada eMajels edisi September 2018. Klik di sini untuk membaca atau kunjungi elshinta.com/majalah-elshinta untuk edisi lainnya. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Startup ini ubah krisis di masa pandemi jadi peluang bisnis
Jumat, 19 Juni 2020 - 09:34 WIB
Pandemi virus corona telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, dimana acara - acara offline berskala ...
Wujudkan pertanian untuk semua, startup pertanian ini gelar TaniHack
Sabtu, 14 Maret 2020 - 09:18 WIB
TaniHub Group, perusahaan digital rintisan (startup) di bidang pertanian, terus berupaya melakukan t...
Kerja sama RI-Korea diharapkan dongkrak pertumbuhan startup
Senin, 02 Desember 2019 - 14:18 WIB
Kementerian Perindustrian mendorong penguatan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di bidang ekono...
4 tips sederhana untuk sukses memulai bisnis startup
Jumat, 25 Oktober 2019 - 14:36 WIB
Para milenial ramai-ramai terjun ke bidang bisnis startup. Potensi yang besar membuat sejumlah kalan...
Ini minuman dan kuliner khas inovasi anak Presiden
Selasa, 22 Oktober 2019 - 15:32 WIB
Tren ragam kuliner mancanegara mulai menjadi santapan sehari-hari hingga gaya hidup masyarakat urban...
Startup asal Jerman ini bernama Kontool, warganet Indonesia geger
Selasa, 03 September 2019 - 17:55 WIB
Jagat maya kembali heboh. Kali ini lantaran kehadiran startup asal Jerman yang dinamai Kontool. Kare...
BAKTI ajak startup e-commerce dan UMKM digital gali potensi daerah 3T
Selasa, 03 September 2019 - 16:14 WIB
Badan Aksesibililitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika me...
Ngampooz, startup besutan anak bangsa untuk segala masalah di kampus
Senin, 26 Agustus 2019 - 09:25 WIB
Satu lagi aplikasi yang hadir untuk menjawab kebutuhan banyak orang. Kali ini aplikasi ini mampu men...
Dapat kucuran Rp71 M, startup Goola milik Gibran siap ekspansi ke Asia Tenggara
Senin, 19 Agustus 2019 - 16:30 WIB
Perusahaan rintisan bidang kuliner Goola, yang memproduksi kreasi minuman tradisional Indonesia, men...
Startup asal Indonesia ini ikuti netpreneur training di markas Alibaba
Selasa, 13 Agustus 2019 - 10:19 WIB
Program ini merupakan kerja sama dengan Kadin Indonesia dan didukung Badan Ekonomi Kreatif (Bekfraf)...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV