Minggu, 16 Desember 2018 | 07:18 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Sosbud

Sunat perempuan dianggap kekerasan terhadap anak

Jumat, 21 September 2018 - 03:15 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Dewi Rusiana
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2DqG5Yf
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2DqG5Yf

Elshinta.com - Sunat pada bayi perempuan sampai saat ini masih menjadi kontroversi, dan Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Eni Gustina, MPH mengatakan bahwa hal tersebut masuk dalam kategori kekerasan terhadap anak.

Eni menuturkan bahwa di Indonesia praktik sunat perempuan persentasenya cukup tinggi. Meskipun, katanya, para bidan sudah sepakat dan berkomitmen untuk tidak melayani permintaan sunat pada anak perempuan.

"Ini terkait kekerasan anak. Di UNICEF, Indonesia cukup tinggi sehingga kita di judge sebagai pelaku kekerasan terhadap anak karena sunat perempuan. Melalui kongres IBI (Ikatan Bidan Indonesia) sudah disampaikan bahwa bidan-bidan tidak boleh melakukan sunat perempuan," ujar Eni ditemui dalam workshop `Pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu Anak dan Gizi dalam Memperkuat Suplementasi Vitamin A` di Jakarta.

Menurut Eni, praktik sunat anak perempuan di Indonesia masih masuk dalam budaya turun-menurun. Namun, pada sisi kesehatan, sunat ini tidak ada manfaatnya.

"Ini bagian dari budaya, ini kayak mitos. Sunat enggak ada manfaatnya sama sekali untuk perempuan. Bahkan sekarang menyentuh kulit kelamin anak saja enggak boleh," terang dia.

Meski belum ditemukan bahaya dari sunat perempuan, bagi Eni, praktik sunat perempuan bisa mendatangkan infeksi jika tidak dilakukan dengan benar.

"Itu organ dilukai bisa terjadi infeksi. Itu kan bagian tubuh paling sensitif untuk berhubungan seksual, bayangin kalau harus dibuang. Di Indonesia ada yang ringan sunatnya, cuma digores, disayat sampai dipotong. Tapi itu tidak boleh dan itu masuk pada kekerasan terhadap anak dan perempuan," tutup Eni, dikutip Antara

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Bencana Alam | 16 Desember 2018 - 07:12 WIB

Longsor akibatkan 3 rumah di Ponorogo rusak

Aktual Dalam Negeri | 16 Desember 2018 - 06:49 WIB

Suami kalahkan isteri dalam Pilkades di Kotim

Liga Italia | 16 Desember 2018 - 06:26 WIB

Penalti Icardi amankan kemenangan Inter atas Udinese

Aktual Dalam Negeri | 16 Desember 2018 - 06:16 WIB

TNI minta masyarakat Sulbar jaga kondusifitas Natal

Peristiwa Hari Ini | 15 Desember 2018 - 23:56 WIB

Kabar duka, Rois Syuriah PCNU Malang, KH Buchori Amin meninggal dunia

Elshinta.com - Sunat pada bayi perempuan sampai saat ini masih menjadi kontroversi, dan Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Eni Gustina, MPH mengatakan bahwa hal tersebut masuk dalam kategori kekerasan terhadap anak.

Eni menuturkan bahwa di Indonesia praktik sunat perempuan persentasenya cukup tinggi. Meskipun, katanya, para bidan sudah sepakat dan berkomitmen untuk tidak melayani permintaan sunat pada anak perempuan.

"Ini terkait kekerasan anak. Di UNICEF, Indonesia cukup tinggi sehingga kita di judge sebagai pelaku kekerasan terhadap anak karena sunat perempuan. Melalui kongres IBI (Ikatan Bidan Indonesia) sudah disampaikan bahwa bidan-bidan tidak boleh melakukan sunat perempuan," ujar Eni ditemui dalam workshop `Pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu Anak dan Gizi dalam Memperkuat Suplementasi Vitamin A` di Jakarta.

Menurut Eni, praktik sunat anak perempuan di Indonesia masih masuk dalam budaya turun-menurun. Namun, pada sisi kesehatan, sunat ini tidak ada manfaatnya.

"Ini bagian dari budaya, ini kayak mitos. Sunat enggak ada manfaatnya sama sekali untuk perempuan. Bahkan sekarang menyentuh kulit kelamin anak saja enggak boleh," terang dia.

Meski belum ditemukan bahaya dari sunat perempuan, bagi Eni, praktik sunat perempuan bisa mendatangkan infeksi jika tidak dilakukan dengan benar.

"Itu organ dilukai bisa terjadi infeksi. Itu kan bagian tubuh paling sensitif untuk berhubungan seksual, bayangin kalau harus dibuang. Di Indonesia ada yang ringan sunatnya, cuma digores, disayat sampai dipotong. Tapi itu tidak boleh dan itu masuk pada kekerasan terhadap anak dan perempuan," tutup Eni, dikutip Antara

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com