Selasa, 23 Oktober 2018 | 19:53 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Perempuan / Aktual Perempuan

Cerita mantan TKW yang sukses membuka usaha tenun ikat

Selasa, 25 September 2018 - 18:58 WIB    |    Penulis : Sigit Kurniawan    |    Editor : Sigit Kurniawan
Foto: Fendi Lesmana.
Foto: Fendi Lesmana.

Elshinta.com - Bekerja selama dua tahun menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi membuat mental Siti Ruqoyah (49) warga Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, menjadi lebih tangguh. Betapa tidak, hanya dengan modal uang 25 juta hasil jerih payahnya bekerja disana ia kini sudah memiliki empat  tempat usaha Tenun Ikat Tradisional Khas Kediri. 

Dikisahkan ibu dua anak ini, semula sejak tahun 1989 dirinya sudah merintis usaha tenun Ikat. Namun seiring berjalanya waktu,menginjak tahun 1998 Indonesia diguncang krisis moneter sehingga usahanya tersebut terpaksa ditutup. Selama itu, timbul keinginannya untuk adu peruntungan mencari nafkah di negeri orang.

"Ketika itu, sebenarnya berat karena suami sempat melarang. Tetapi karena keadaan saya akhirnya nekat berangkat," ujar Siti Ruqoyah Selasa (25/9) kepada Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana.

Selepas masa krisis Moneter, pasca  dua tahun merantau di luar negeri, terbesit keinginannya untuk kembali ke kampung halaman sekaligus  merintis kembali usahanya tersebut. 

"Sisa uang hasil kerja saya saat itu cuman 25 juta," tuturnya. 

Berbekal tekad dan kemauan yang sangat tinggi, perlahan ia merintis kembali usahanya tersebut bersama sang suami bernama Munawar (68). Lambat laun hasil ketelatenan dan kerja keras Siti Ruqoyah membuahkan hasil. 

Awal kembali buka usaha, saat itu Siti Ruqoyah hanya mampu menghidupi hanya lima orang karyawan. Namun saat ini jumlah pekerjanya terus bertambah hingga bisa mempekerjakan sembilan puluh delapan orang dan memiliki alat tenun bukan mesin sebanyak 60 unit. 

"Dulu waktu awal bikin, alat tenunya cuma tiga unit," kenangnya. 

Secara komulatif, Siti Ruqoyah mengaku dalam waktu satu hari ia bisa memproduksi enam puluh pesanan diantaranya baju jenis katun,sarung tenun, syal dan kain sutera. 

Tarifnya bervariatif untuk baju jenis katun satu potong, dihargai Rp315 ribu. Kain Sutra Rp440 ribu, semi sutra Rp320 ribu, syal Rp90 ribu, sarung kualitas A agak lebih mahal dibanderol Rp225 ribu. Sementara sarung kualitas B Rp 185 ribu. 

"Kalau pesan 100 potong, pengerjaanya butuh waktu satu bulan. Paling cepat tiga minggu. Pesanan paling banyak terutama, ketika mendekati momentum Lebaran. Kalau sudah gitu, numpuk pengerjaanya baru selesai setelah lebaran," ceritanya. 

Karena produksi tenun ikat garapannya dinilai konsumen  memiliki kualitas sangat baik, ia sering mendapat order dari dalam mau pun luar kota Kediri. "Dari Papua, mau pun NTT juga pernah pesan disini," imbuhnya. Bahkan ia juga sering diundang pameran UMKM di berbagai daerah mewakili pemda setempat. Tidak hanya itu,  ia juga acap kali menerima piagam penghargaan dan memenangkan lomba.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 19:46 WIB

Evaluasi empat tahun Jokowi-JK, PSI: Pertumbuhan ekonomi semakin berkualitas

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 19:35 WIB

Menkes sebut angka kekerdilan turun jadi 30,8 persen

Aktual Pemilu | 23 Oktober 2018 - 19:12 WIB

Wapres: Tidak ada dasar hukum pemerintah biayai saksi parpol

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 18:56 WIB

Wiranto: Umat Islam tidak mungkin sengaja bakar Bendera Tauhid

Aktual Pemilu | 23 Oktober 2018 - 18:47 WIB

Kemenkumham: Dana kampanye harus masuk pembukuan khusus

Elshinta.com - Bekerja selama dua tahun menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi membuat mental Siti Ruqoyah (49) warga Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, menjadi lebih tangguh. Betapa tidak, hanya dengan modal uang 25 juta hasil jerih payahnya bekerja disana ia kini sudah memiliki empat  tempat usaha Tenun Ikat Tradisional Khas Kediri. 

Dikisahkan ibu dua anak ini, semula sejak tahun 1989 dirinya sudah merintis usaha tenun Ikat. Namun seiring berjalanya waktu,menginjak tahun 1998 Indonesia diguncang krisis moneter sehingga usahanya tersebut terpaksa ditutup. Selama itu, timbul keinginannya untuk adu peruntungan mencari nafkah di negeri orang.

"Ketika itu, sebenarnya berat karena suami sempat melarang. Tetapi karena keadaan saya akhirnya nekat berangkat," ujar Siti Ruqoyah Selasa (25/9) kepada Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana.

Selepas masa krisis Moneter, pasca  dua tahun merantau di luar negeri, terbesit keinginannya untuk kembali ke kampung halaman sekaligus  merintis kembali usahanya tersebut. 

"Sisa uang hasil kerja saya saat itu cuman 25 juta," tuturnya. 

Berbekal tekad dan kemauan yang sangat tinggi, perlahan ia merintis kembali usahanya tersebut bersama sang suami bernama Munawar (68). Lambat laun hasil ketelatenan dan kerja keras Siti Ruqoyah membuahkan hasil. 

Awal kembali buka usaha, saat itu Siti Ruqoyah hanya mampu menghidupi hanya lima orang karyawan. Namun saat ini jumlah pekerjanya terus bertambah hingga bisa mempekerjakan sembilan puluh delapan orang dan memiliki alat tenun bukan mesin sebanyak 60 unit. 

"Dulu waktu awal bikin, alat tenunya cuma tiga unit," kenangnya. 

Secara komulatif, Siti Ruqoyah mengaku dalam waktu satu hari ia bisa memproduksi enam puluh pesanan diantaranya baju jenis katun,sarung tenun, syal dan kain sutera. 

Tarifnya bervariatif untuk baju jenis katun satu potong, dihargai Rp315 ribu. Kain Sutra Rp440 ribu, semi sutra Rp320 ribu, syal Rp90 ribu, sarung kualitas A agak lebih mahal dibanderol Rp225 ribu. Sementara sarung kualitas B Rp 185 ribu. 

"Kalau pesan 100 potong, pengerjaanya butuh waktu satu bulan. Paling cepat tiga minggu. Pesanan paling banyak terutama, ketika mendekati momentum Lebaran. Kalau sudah gitu, numpuk pengerjaanya baru selesai setelah lebaran," ceritanya. 

Karena produksi tenun ikat garapannya dinilai konsumen  memiliki kualitas sangat baik, ia sering mendapat order dari dalam mau pun luar kota Kediri. "Dari Papua, mau pun NTT juga pernah pesan disini," imbuhnya. Bahkan ia juga sering diundang pameran UMKM di berbagai daerah mewakili pemda setempat. Tidak hanya itu,  ia juga acap kali menerima piagam penghargaan dan memenangkan lomba.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com