Selasa, 23 Oktober 2018 | 17:46 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Musibah

Lima warga Bojonegoro meninggal akibat DBD

Jumat, 28 September 2018 - 10:05 WIB    |    Penulis : Rizky Sandra    |    Editor : Dewi Rusiana
Pengasapan DBD di Bojonegoro. Sumber foto: https://bit.ly/2xUXlie
Pengasapan DBD di Bojonegoro. Sumber foto: https://bit.ly/2xUXlie

Elshinta.com - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merenggut nyawa lima warga di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Dari 247 penderita sejak 1 Januari 2018, merenggut nyawa lima orang warga di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kata Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Wheny Dyah, di Bojonegoro, Jumat (28/9).

Menurutnya, jumlah korban meninggal atas kasus penyakit DBD ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Hanya saja, jumlah penderita yang alami penyakit DBD tahun ini mengalami peningkatan sebesar 30 persen dibandingkan tahun 2017.

Data korban yang meninggal dunia karena penyakit DBD ini lokasinya di Desa Cendono, kecamatan Padangan, Desa Nglumber, Kecamatan Kepohbaru, Desa Tembeling, Kecamatan Kasiman, Desa Sumberarum, Kecamatan Kasiman dan Desa Kalicilik, Kecamatan Sukosewu.

"Empat korban meninggal akibat DBD semuanya anak-anak dengan usia berkisar 3 hingga 9 tahun. Satu korban lainnya berusia 38 tahun," ucapnya, dikutip Antara.

Ia mengatakan, datangnya musim penghujan tidak berpengaruh dengan meningkatnya jumlah penderita penyakit DBD. 

Nyamuk "aedes aegypti" itu muncul jika ada sarang nyamuk dan genangan air bersih.

Ia mengaku, jumlah data pasien bulan September yang alami penyakit DBD belum sepenuhnya diterima. tetapi jumlah penderita DBD pada bulan Juli tercatat ada 22 penderita DBD, kemudian di bulan Agustus naik menjadi 25 penderita DBD.

"Yang jelas pada September ada kecenderungan jumlah penderita DBD meningkat dibandingkan bulan sebelumnya," ujarnya.

Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan memberantas sarang nyamuk aedes aegypti  dengan cara melakukan gerakan 3 M yaitu (menguras, menutup, mengubur).

Pemberantasan sarang nyamuk lebih baik dilakukan seminggu sekali secara kontinyu, terutama dilakukan pada saat sebelum musim penularan terjadi.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 17:46 WIB

Menko Polhukam gelar rakorsus terkait pembakaran Bendera Tauhid

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 17:27 WIB

Wapres: Dana Kelurahan tidak untuk mencakup semua kelurahan

Inspirasi | 23 Oktober 2018 - 17:01 WIB

Gadjian, aplikasi bantu UKM mengelola administrasi

Elshinta.com - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merenggut nyawa lima warga di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Dari 247 penderita sejak 1 Januari 2018, merenggut nyawa lima orang warga di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kata Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Wheny Dyah, di Bojonegoro, Jumat (28/9).

Menurutnya, jumlah korban meninggal atas kasus penyakit DBD ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Hanya saja, jumlah penderita yang alami penyakit DBD tahun ini mengalami peningkatan sebesar 30 persen dibandingkan tahun 2017.

Data korban yang meninggal dunia karena penyakit DBD ini lokasinya di Desa Cendono, kecamatan Padangan, Desa Nglumber, Kecamatan Kepohbaru, Desa Tembeling, Kecamatan Kasiman, Desa Sumberarum, Kecamatan Kasiman dan Desa Kalicilik, Kecamatan Sukosewu.

"Empat korban meninggal akibat DBD semuanya anak-anak dengan usia berkisar 3 hingga 9 tahun. Satu korban lainnya berusia 38 tahun," ucapnya, dikutip Antara.

Ia mengatakan, datangnya musim penghujan tidak berpengaruh dengan meningkatnya jumlah penderita penyakit DBD. 

Nyamuk "aedes aegypti" itu muncul jika ada sarang nyamuk dan genangan air bersih.

Ia mengaku, jumlah data pasien bulan September yang alami penyakit DBD belum sepenuhnya diterima. tetapi jumlah penderita DBD pada bulan Juli tercatat ada 22 penderita DBD, kemudian di bulan Agustus naik menjadi 25 penderita DBD.

"Yang jelas pada September ada kecenderungan jumlah penderita DBD meningkat dibandingkan bulan sebelumnya," ujarnya.

Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan memberantas sarang nyamuk aedes aegypti  dengan cara melakukan gerakan 3 M yaitu (menguras, menutup, mengubur).

Pemberantasan sarang nyamuk lebih baik dilakukan seminggu sekali secara kontinyu, terutama dilakukan pada saat sebelum musim penularan terjadi.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com