Ahli geologi AS sebut likuifaksi Sulteng menyeramkan
Rabu, 03 Oktober 2018 - 19:54 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Sigit Kurniawan
Sumber Foto: https://bit.ly/2DTL9nW

Elshinta.com - Peristiwa likuifaksi bagi banyak ahli maupun peneliti kebumian merupakan hal biasa, namun yang terjadi di Kabupaten Sigi dan Palu sesaat setelah gempa dengan magnitudo 7.4 menggoncang timur laut Donggala pada Jumat (28/9), dianggap cukup menyeramkan.

"Itu adalah contoh likuifaksi yang paling menyeramkan yang pernah saya lihat. Banyak suara-suara aneh terdengar," kata Ahli Geologi dari Saint Louis University John Encarnacion menanggapi video-video peristiwa likuifaksi yang terjadi di Kabupaten Sigi dan Kota Palu, seperti dikutip Antara, Rabu (3/10).

Pada awalnya justru ia sempat berpikir peristiwa di dalam salah satu video yang sempat viral di media sosial tersebut adalah tsunami.

Ia menduga seluruh kawasan di dalam video tersebut sebenarnya berada di atas endapan lumpur dan pasir dari pesisir atau sungai yang tidak terkonsolidasi dan jenuh dalam air. Ketika material itu terguncang oleh gempa bumi maka "mencair".

Usia endapan pasir dan lumpur tersebut, menurut perkiraannya dapat mencapai ribuan hingga puluhan ribu tabun.

"(Usia) itu sangat muda dan tidak cukup waktu untuk berubah menjadi batu. (Likuifaksi) ini sebenarnya adalah situasi yang sama terjadi di banyak wilayah pesisir," ujar dia.

Saat ditanya kaitan antara likuifaksi dan tsunami, ia mengatakan mereka adalah dua fenomena yang berbeda. Tsunami dimulai karena permukaan laut terganggu, baik oleh gerakan patahan atau tanah longsor di bawah laut.

Sedangkan likuifaksi terjadi karena sendimen yang kaya air terguncang hebat oleh gempa.

Sebelumnya diberitakan bahwa sejumlah lokasi di Kota Palu dan Sigi mengalami fenomena likuifaksi pascagempa magnitudo 7.4. Tidak hanya rumah yang "tertelan" saat peristiwa "pencairan tanah", tersebut terjadi tetapi juga sebagian penduduk yang tinggal di atasnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Selasa, 18 Desember 2018 - 10:54 WIB
Elshinta.com - Siklon tropis Kenanga yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk ...
Selasa, 18 Desember 2018 - 05:45 WIB
Elshinta.com - Gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 5,0, Selasa (18/12) pagi, pukul 06.29 ...
Senin, 17 Desember 2018 - 14:45 WIB
Elshinta.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan hasil capaian ...
Senin, 17 Desember 2018 - 09:16 WIB
Elshinta.com - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogya...
Senin, 17 Desember 2018 - 06:47 WIB
Elshinta.com - Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, masih da...
Minggu, 16 Desember 2018 - 19:52 WIB
Elshinta.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Papua menyatakan gempa ...
Minggu, 16 Desember 2018 - 18:10 WIB
Elshinta.com - Gempa berkekuatan Magnitude (M) 6,1 mengguncang Arso, Kabupaten Keerom, Pap...
Minggu, 16 Desember 2018 - 15:27 WIB
Elshinta.com - Tim SAR gabungan yang terdiri atas Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan warga, m...
Minggu, 16 Desember 2018 - 09:55 WIB
Elshinta.com - Gunung Soputan yang berada di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, ...
Minggu, 16 Desember 2018 - 09:43 WIB
Elshinta.com - Bencana tanah longsor di kawasan perkebunan Gunung Gambir, Desa Gelang, Kab...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)