Rabu, 12 Desember 2018 | 02:24 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Bencana Alam

BMKG tegaskan pentingnya Indonesia punya satelit deteksi bencana

Senin, 08 Oktober 2018 - 21:46 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Dewi Rusiana
Sebuah ekskavator terlihat tengah membuka jalan utama di Petobo, Palu Selatan, Kota Palu. Sumber foto: https://bit.ly/2RAkcss
Sebuah ekskavator terlihat tengah membuka jalan utama di Petobo, Palu Selatan, Kota Palu. Sumber foto: https://bit.ly/2RAkcss

Elshinta.com - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwi Korita Karnawati mendesak agar Indonesia dapat segera memiliki satelit khusus untuk memantau bencana karena kebutuhan teknologi ini sudah cukup mendesak.

Menurut Korita, posisi indonesia yang berada di wilayah rawan bencana alam membuat pemanfaatan teknologi satelit merupakan hal penting dalam rangka penanggulangan bencana. 

"Harusnya bisa dipercepat karena bencananya tidak mau menunggu. Sudah saatnya (punya satelit bencana). Karena kita dengan kondisi bencana yang sangat beragam dan jutaan manusia yang tinggal (di daerah rawan bencana), perlu ada teknologi yang bisa mengamankan," kata Korita di Jakarta, Senin (8/10).

Menurutnya, memiliki satelit bencana sangat penting agar data lebih mudah didapatkan dan dapat memprediksi terjadinya bencana sehingga jumlah korban bisa ditekan seminimal mungkin. Diakuinya, pihaknya sudah memasang sensor pendeteksi gempa di sejumlah provinsi rawan gempa, namun peralatan ini tidak cukup memberikan data yang lengkap karena sensor tersebut bisa dalam keadaan rusak atau terjadi kegagalan dalam mengirimkan data ke pusat sehingga adanya satelit bencana penting untuk dapat dijadikan sebagai penyedia data tambahan selain data dari sensor tersebut. 

"Seperti kasus di Palu, sensornya menyala, tidak rusak, tapi gagal kirim informasi. Kalau di-back up dengan satelit khusus, kan terdeteksi gelombangnya sampai mana," katanya.

Selain kebutuhan yang mendesak untuk memiliki satelit pendeteksi bencana, menurut dia, hal lain yang perlu dilakukan adalah perbaikan pengelolaan tata ruang di kawasan rawan bencana. "Di daerah yang rawan bencana, pemerintah harus menyiapkan shelter. Lalu pelan-pelan masyarakat dipindahkan, jangan tinggal di lokasi tersebut," katanya, dikutip Antara.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pendidikan | 11 Desember 2018 - 22:25 WIB

Di Kudus, masih ada SD dimerger formasi CPNS

Politik | 11 Desember 2018 - 22:01 WIB

PSI puji Risma percantik Surabaya

Pileg 2019 | 11 Desember 2018 - 21:59 WIB

Tommy Soehato dikukuhkan sebagai anak adat Sentani

Aktual Pemilu | 11 Desember 2018 - 21:49 WIB

290 penyandang disabilitas tercatat di DPTHP-2 Binjai

Musibah | 11 Desember 2018 - 21:38 WIB

Hanyut tenggelam, bocah SD ditemukan meninggal

Aktual Pemilu | 11 Desember 2018 - 21:26 WIB

KPU Purwakarta tetapkan DPT Pemilu 2019

Elshinta.com - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwi Korita Karnawati mendesak agar Indonesia dapat segera memiliki satelit khusus untuk memantau bencana karena kebutuhan teknologi ini sudah cukup mendesak.

Menurut Korita, posisi indonesia yang berada di wilayah rawan bencana alam membuat pemanfaatan teknologi satelit merupakan hal penting dalam rangka penanggulangan bencana. 

"Harusnya bisa dipercepat karena bencananya tidak mau menunggu. Sudah saatnya (punya satelit bencana). Karena kita dengan kondisi bencana yang sangat beragam dan jutaan manusia yang tinggal (di daerah rawan bencana), perlu ada teknologi yang bisa mengamankan," kata Korita di Jakarta, Senin (8/10).

Menurutnya, memiliki satelit bencana sangat penting agar data lebih mudah didapatkan dan dapat memprediksi terjadinya bencana sehingga jumlah korban bisa ditekan seminimal mungkin. Diakuinya, pihaknya sudah memasang sensor pendeteksi gempa di sejumlah provinsi rawan gempa, namun peralatan ini tidak cukup memberikan data yang lengkap karena sensor tersebut bisa dalam keadaan rusak atau terjadi kegagalan dalam mengirimkan data ke pusat sehingga adanya satelit bencana penting untuk dapat dijadikan sebagai penyedia data tambahan selain data dari sensor tersebut. 

"Seperti kasus di Palu, sensornya menyala, tidak rusak, tapi gagal kirim informasi. Kalau di-back up dengan satelit khusus, kan terdeteksi gelombangnya sampai mana," katanya.

Selain kebutuhan yang mendesak untuk memiliki satelit pendeteksi bencana, menurut dia, hal lain yang perlu dilakukan adalah perbaikan pengelolaan tata ruang di kawasan rawan bencana. "Di daerah yang rawan bencana, pemerintah harus menyiapkan shelter. Lalu pelan-pelan masyarakat dipindahkan, jangan tinggal di lokasi tersebut," katanya, dikutip Antara.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 11 Desember 2018 - 21:38 WIB

Hanyut tenggelam, bocah SD ditemukan meninggal

Selasa, 11 Desember 2018 - 19:21 WIB

Dua anggota TNI korban KKSB dievakuasi ke Wamena

Selasa, 11 Desember 2018 - 18:25 WIB

Basarnas evakuasi korban banjir yang alami keguguran

Selasa, 11 Desember 2018 - 17:55 WIB

Sindikat pembobol Singapore Airlines diciduk

Selasa, 11 Desember 2018 - 14:45 WIB

Mobil tangki LPG terguling di Kebumen

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com