Kamis, 18 Oktober 2018 | 19:46 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Peristiwa Hari Ini

9 Oktober: Geger Pecinan di Batavia 10.000 warga China tewas

Selasa, 09 Oktober 2018 - 10:10 WIB    |    Penulis : Widodo    |    Editor : Administrator
Geger Pecinan di Batavia 9 Oktober 1740/bit.ly/2Pp3Jpw
Geger Pecinan di Batavia 9 Oktober 1740/bit.ly/2Pp3Jpw

Elshinta.com - Peristiwa penting yang terjadi di Tanah Air sekali itu, berlangsung saat bangsa Indonesia belum merdeka. Indonesia masih dikuasai Belanda.

1740
Geger Pecinan di Batavia

Peristiwa yang disebut juga “Geger Pecinan”, terjadi pada 9 Oktober 1740. Lebih kurang 10.000. warga China menjadi korban pembantaian yang dilakukan oleh pasukan VOC Belanda. 

National Geographic, melaporkan kerusuhan dipicu oleh turunnya harga gula. Jumlah penggangguran yang meningkat di Batavia, dan kota yang dipenuhi warga keturunan China. 

Oleh Gubernur Jenderal VOC, Adriaan Valckenier para pengangguran dan warga China yang berlebihan itu dikirim ke Sri Langka. Kebetulan di sana, VOC sedang mendirikan benteng dan kota untuk persinggahan.

Di Batavia, isu yang beredar orang-orang China yang dikirim ke Sri Langka, bukan dipekerjakan melainkan dibunuh dengan diceburkan ke laut. Warga keturunan China pun berontak. Mereka marah dan mengangkat senjata.

Catatan lain menceritakan, kerusuhan dipicu oleh kejadian 7 Oktober 1740. Hari itu ratusan warga keturunan China --kebanyakan buruh pabrik gula-- membunuh 50 pasukan Belanda, dan Adriaan Valckenier memutuskan akan menindak tegas setiap pemberontakan. 

G. Bernhard Schwarzen, salah seorang pelaku pembantaian dan perampokan, dalam bukunya yang berjudul Reise in Ost-Indien, terbit tahun 1751menyebut kerusuhan dan pembantaian berhenti setelah empat hari.

Banyaknya korban akibat pembantaian digambarkan oleh G. Bernhard Schwarzen dengan begitu seram. “Seluruh jalanan dan gang-gang dipenuhi mayat. Kanal penuh dengan mayat, Bahkan kaki kita tak akan basah saat menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu”. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Manajemen | 18 Oktober 2018 - 19:45 WIB

Ini kemampuan yang harus dimiliki oleh founder startup

Aplikasi | 18 Oktober 2018 - 19:36 WIB

Twitter lakukan pembaruan pada tweet yang dilaporkan

Sosbud | 18 Oktober 2018 - 19:25 WIB

Santri dan warga Sukoharjo gelar Salat Istisqo

Aktual Dalam Negeri | 18 Oktober 2018 - 19:15 WIB

Pedagang Pasar Setono Betek keluhkan dagangan tak laku ke Wali Kota Kediri

Aktual Sepakbola | 18 Oktober 2018 - 18:58 WIB

Sadio Mane jalani operasi tangan

Aktual Pemilu | 18 Oktober 2018 - 18:47 WIB

Fahri Hamzah: Dana saksi dibiayai negara hindari persaingan tak sehat

Elshinta.com - Peristiwa penting yang terjadi di Tanah Air sekali itu, berlangsung saat bangsa Indonesia belum merdeka. Indonesia masih dikuasai Belanda.

1740
Geger Pecinan di Batavia

Peristiwa yang disebut juga “Geger Pecinan”, terjadi pada 9 Oktober 1740. Lebih kurang 10.000. warga China menjadi korban pembantaian yang dilakukan oleh pasukan VOC Belanda. 

National Geographic, melaporkan kerusuhan dipicu oleh turunnya harga gula. Jumlah penggangguran yang meningkat di Batavia, dan kota yang dipenuhi warga keturunan China. 

Oleh Gubernur Jenderal VOC, Adriaan Valckenier para pengangguran dan warga China yang berlebihan itu dikirim ke Sri Langka. Kebetulan di sana, VOC sedang mendirikan benteng dan kota untuk persinggahan.

Di Batavia, isu yang beredar orang-orang China yang dikirim ke Sri Langka, bukan dipekerjakan melainkan dibunuh dengan diceburkan ke laut. Warga keturunan China pun berontak. Mereka marah dan mengangkat senjata.

Catatan lain menceritakan, kerusuhan dipicu oleh kejadian 7 Oktober 1740. Hari itu ratusan warga keturunan China --kebanyakan buruh pabrik gula-- membunuh 50 pasukan Belanda, dan Adriaan Valckenier memutuskan akan menindak tegas setiap pemberontakan. 

G. Bernhard Schwarzen, salah seorang pelaku pembantaian dan perampokan, dalam bukunya yang berjudul Reise in Ost-Indien, terbit tahun 1751menyebut kerusuhan dan pembantaian berhenti setelah empat hari.

Banyaknya korban akibat pembantaian digambarkan oleh G. Bernhard Schwarzen dengan begitu seram. “Seluruh jalanan dan gang-gang dipenuhi mayat. Kanal penuh dengan mayat, Bahkan kaki kita tak akan basah saat menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu”. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Kamis, 18 Oktober 2018 - 14:45 WIB

Mensos pastikan ada jaminan hidup korban bencana

Kamis, 18 Oktober 2018 - 13:00 WIB

Gempa M 5,3 kembali guncang Aceh Barat

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com