Selasa, 23 Oktober 2018 | 13:25 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Ekonomi

BI sudah antisipasi risiko kurs pendanaan infrastruktur

Selasa, 09 Oktober 2018 - 13:54 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Dewi Rusiana
Sumber foto: https://bit.ly/2RBVbgb
Sumber foto: https://bit.ly/2RBVbgb

Elshinta.com - Bank Indonesia mengatakan, masifnya pendanaan infrastruktur dari pihak swasta akan turut menimbulkan risiko, di antaranya risiko kerugian kurs, namun hal tersebut akan diantisipasi dengan diversifikasi produk lindung nilai (hedging).

Dihimpun dari Antara, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Forum Infrastruktur Indonesia di rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Conrad Hotel , Bali, Selasa (9/10), mengatakan dengan penerapan paradigma baru pembangunan infrastruktur yang akan lebih banyak melibatkan swasta, akan terdapat risiko dari sisi kurs, risiko likuiditas dan juga risiko suku bunga.

"Salah satu komitmen Bank Sentral dalam hal infrastruktur untuk memastikan manajemen risiko pasar dalam pembiayaan. Jangan lupa, Kita sudah maju dalam 'foreign exchange swap' (penukaran valas dengan rupiah)," kata Perry dalam forum yang akan melibatkan 21 BUMN untuk menyerap investasi sekitar Rp200 triliun sebagai pendanaan infrastruktur itu.

Perry mengatakan, upaya terbaru lindung nilai utang valas swasta juga telah lahir dengan adanya pasar valas berjangka domestik (Domestik Non-Deliverable Forwatrds/DNDF). Transaksi DNDF mengakomdir pihak swasta untuk melakukan transaksi derivatif valuta asing (valas) terhadap rupiah yang standar (plain vanilla) berupa transaksi forward (berjangka) dengan mekanisme fixing yang dilakukan di pasar domestik dengan denomasi rupiah.

Untuk memitigasi risiko suku bunga (interest risk) dari penarikan valas, Perry mengatakan, Bank Sentral sedang mengembangkan Overnight Index Swap (OIS) yang akan menjadi acuan suku bunga untuk transaksi keuangan. Pembentukkan OIS setelah penerapan suku bunga pasar uang tenor satu hari, Indonesia, benar-benar menjadi acuan pelaku pasar.

Untuk risiko likuiditas, Bank Sentral bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satu upayanya dengan meningkatkan frekuensi pembukaan transaksi "repo" bagi perbankan untuk menjaga kondisi likuiditasnya. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:12 WIB

Dinas perikanan bina dua unit koperasi nelayan

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:05 WIB

DPR: Korban gempa Sulteng masih perlu bantuan

Ekonomi | 23 Oktober 2018 - 12:57 WIB

Bappenas: Cegah korupsi dengan pemerintahan terbuka

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 12:48 WIB

Rizal Ramli datangi KPK adukan dugaan korupsi

Hukum | 23 Oktober 2018 - 12:37 WIB

Tb Chaeri Wardana diperiksa KPK kembali

Hukum | 23 Oktober 2018 - 12:26 WIB

KPK periksa lagi Bupati Bangkalan

Elshinta.com - Bank Indonesia mengatakan, masifnya pendanaan infrastruktur dari pihak swasta akan turut menimbulkan risiko, di antaranya risiko kerugian kurs, namun hal tersebut akan diantisipasi dengan diversifikasi produk lindung nilai (hedging).

Dihimpun dari Antara, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Forum Infrastruktur Indonesia di rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Conrad Hotel , Bali, Selasa (9/10), mengatakan dengan penerapan paradigma baru pembangunan infrastruktur yang akan lebih banyak melibatkan swasta, akan terdapat risiko dari sisi kurs, risiko likuiditas dan juga risiko suku bunga.

"Salah satu komitmen Bank Sentral dalam hal infrastruktur untuk memastikan manajemen risiko pasar dalam pembiayaan. Jangan lupa, Kita sudah maju dalam 'foreign exchange swap' (penukaran valas dengan rupiah)," kata Perry dalam forum yang akan melibatkan 21 BUMN untuk menyerap investasi sekitar Rp200 triliun sebagai pendanaan infrastruktur itu.

Perry mengatakan, upaya terbaru lindung nilai utang valas swasta juga telah lahir dengan adanya pasar valas berjangka domestik (Domestik Non-Deliverable Forwatrds/DNDF). Transaksi DNDF mengakomdir pihak swasta untuk melakukan transaksi derivatif valuta asing (valas) terhadap rupiah yang standar (plain vanilla) berupa transaksi forward (berjangka) dengan mekanisme fixing yang dilakukan di pasar domestik dengan denomasi rupiah.

Untuk memitigasi risiko suku bunga (interest risk) dari penarikan valas, Perry mengatakan, Bank Sentral sedang mengembangkan Overnight Index Swap (OIS) yang akan menjadi acuan suku bunga untuk transaksi keuangan. Pembentukkan OIS setelah penerapan suku bunga pasar uang tenor satu hari, Indonesia, benar-benar menjadi acuan pelaku pasar.

Untuk risiko likuiditas, Bank Sentral bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satu upayanya dengan meningkatkan frekuensi pembukaan transaksi "repo" bagi perbankan untuk menjaga kondisi likuiditasnya. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 23 Oktober 2018 - 13:12 WIB

Dinas perikanan bina dua unit koperasi nelayan

Selasa, 23 Oktober 2018 - 13:05 WIB

DPR: Korban gempa Sulteng masih perlu bantuan

Selasa, 23 Oktober 2018 - 12:57 WIB

Bappenas: Cegah korupsi dengan pemerintahan terbuka

Selasa, 23 Oktober 2018 - 12:48 WIB

Rizal Ramli datangi KPK adukan dugaan korupsi

Selasa, 23 Oktober 2018 - 12:37 WIB

Tb Chaeri Wardana diperiksa KPK kembali

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com