Rabu, 12 Desember 2018 | 04:40 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Menteri Susi prihatin harga ikan nelayan di Bali merosot

Rabu, 10 Oktober 2018 - 16:27 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2QF5pLw
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2QF5pLw

Elshinta.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan prihatin dengan harga ikan nelayan Kabupaten Jembrana, Bali, yang merosot saat hasil tangkap mereka melimpah.

"Harusnya harga ikan nelayan saat tangkapan melimpah seperti sekarang bisa diatas Rp10 ribu perkilogram, tapi sekarang hanya Rp9.000," katanya saat mengunjungi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Rabu (10/10).

Untuk mengatasi merosotnya harga ikan, ia mengajak semua pihak mulai dari BUMN hingga pemerintah daerah lewat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk menampung ikan nelayan saat panen hasil tangkap.

Selain BUMN dan BUMD, ia melihat sistem penjualan di tempat pelelangan ikan PPN Pengambengan belum berjalan sebagaimana mestinya, sehingga juga harus dievaluasi dan diperbaiki. "Proses penjualan di tempat pelelangan tidak berjalan sebagaimana pelelangan, karena sistemnya masih tertutup. Kalau sistemnya tertutup rawan kecurangan, manipulasi, kompromi-kompromi yang bisa merugikan nelayan," katanya, seperti dikutip Antara.

Menurutnya, dengan harga ikan Rp9.000 perkilogram masih terlalu rendah, karena sebelum panen besar seperti saat ini harga masih menyentuh Rp15.000 perkilogram.

Dengan sistem pelelangan terbuka, serta adanya pembeli dari banyak latar belakang baik swasta maupun badan usaha milik pemerintah, menurutnya, bisa membuat harga ikan nelayan stabil.

"Jika sistem pelelangan lebih baik serta ada badan pemerintah yang membeli ikan nelayan, tengkulak atau pembeli ikan tidak bisa mempermainkan harga ikan nelayan. Tugas badan usaha milik pemerintah itu seperti Bulog, yang menampung hasil panen dengan menetapkan harga beli terendah yang layak bagi nelayan," katanya.

Sistem pembayaran yang diterapkan antara nelayan Kabupaten Jembrana dengan pembeli juga menjadi sorotan Susi, karena pembayaran tidak langsung dilakukan begitu ikan selesai ditimbang.

Saat berkeliling di PPN Pengambengan dan berbicara dengan nelayan, ia mendapatkan informasi jika pembayaran dilakukan setiap terang bulan, bahkan ada yang berbulan-bulan belum dibayar. "Sudah harganya murah, pembayaran tidak langsung tunai dilakukan. Kalau yang membeli ikan bangkrut bisa-bisa tidak terbayar. Harus dipikirkan agar ikan nelayan langsung dibayar," katanya.

Keluhan nelayan terkait ketersediaan solar saat laut memberikan hasil tangkap yang melimpah juga ia tampung, dan berjanji akan mengkoordinasikan ke institusi terkait agar pasokan solar untuk nelayan diprioritaskan.

Terkait fasilitas kolam labuh bagi perahu nelayan juga ia perhatikan, dengan merencanakan memperpanjang "break water" tahun depan untuk mencegah pendangkalan kolam labuh yang sering dikeluhkan nelayan. "Saat ini, pengerukan terhadap kolam labuh agar tidak terjadi pendangkalan sudah dilakukan, tapi tanpa penambahan break water pendangkalan akan cepat terjadi. Tahun depan kami akan perpanjang break water untuk mencegah pendangkalan," katanya.

Fasilitas "docking" untuk perbaikan perahu menurutnya, juga perlu ada di PPN Pengambengan, karena docking yang ada saat ini tidak mampu menampung semua perahu yang hendak diperbaiki.

Selama berkeliling di PPN Pengambengan, Susi berinteraksi langsung dengan nelayan, termasuk dengan naik ke perahu yang sedang membongkar ikan dan berdialog dengan awak perahu. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pendidikan | 11 Desember 2018 - 22:25 WIB

Di Kudus, masih ada SD dimerger formasi CPNS

Politik | 11 Desember 2018 - 22:01 WIB

PSI puji Risma percantik Surabaya

Pileg 2019 | 11 Desember 2018 - 21:59 WIB

Tommy Soehato dikukuhkan sebagai anak adat Sentani

Aktual Pemilu | 11 Desember 2018 - 21:49 WIB

290 penyandang disabilitas tercatat di DPTHP-2 Binjai

Musibah | 11 Desember 2018 - 21:38 WIB

Hanyut tenggelam, bocah SD ditemukan meninggal

Aktual Pemilu | 11 Desember 2018 - 21:26 WIB

KPU Purwakarta tetapkan DPT Pemilu 2019

Elshinta.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan prihatin dengan harga ikan nelayan Kabupaten Jembrana, Bali, yang merosot saat hasil tangkap mereka melimpah.

"Harusnya harga ikan nelayan saat tangkapan melimpah seperti sekarang bisa diatas Rp10 ribu perkilogram, tapi sekarang hanya Rp9.000," katanya saat mengunjungi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Rabu (10/10).

Untuk mengatasi merosotnya harga ikan, ia mengajak semua pihak mulai dari BUMN hingga pemerintah daerah lewat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk menampung ikan nelayan saat panen hasil tangkap.

Selain BUMN dan BUMD, ia melihat sistem penjualan di tempat pelelangan ikan PPN Pengambengan belum berjalan sebagaimana mestinya, sehingga juga harus dievaluasi dan diperbaiki. "Proses penjualan di tempat pelelangan tidak berjalan sebagaimana pelelangan, karena sistemnya masih tertutup. Kalau sistemnya tertutup rawan kecurangan, manipulasi, kompromi-kompromi yang bisa merugikan nelayan," katanya, seperti dikutip Antara.

Menurutnya, dengan harga ikan Rp9.000 perkilogram masih terlalu rendah, karena sebelum panen besar seperti saat ini harga masih menyentuh Rp15.000 perkilogram.

Dengan sistem pelelangan terbuka, serta adanya pembeli dari banyak latar belakang baik swasta maupun badan usaha milik pemerintah, menurutnya, bisa membuat harga ikan nelayan stabil.

"Jika sistem pelelangan lebih baik serta ada badan pemerintah yang membeli ikan nelayan, tengkulak atau pembeli ikan tidak bisa mempermainkan harga ikan nelayan. Tugas badan usaha milik pemerintah itu seperti Bulog, yang menampung hasil panen dengan menetapkan harga beli terendah yang layak bagi nelayan," katanya.

Sistem pembayaran yang diterapkan antara nelayan Kabupaten Jembrana dengan pembeli juga menjadi sorotan Susi, karena pembayaran tidak langsung dilakukan begitu ikan selesai ditimbang.

Saat berkeliling di PPN Pengambengan dan berbicara dengan nelayan, ia mendapatkan informasi jika pembayaran dilakukan setiap terang bulan, bahkan ada yang berbulan-bulan belum dibayar. "Sudah harganya murah, pembayaran tidak langsung tunai dilakukan. Kalau yang membeli ikan bangkrut bisa-bisa tidak terbayar. Harus dipikirkan agar ikan nelayan langsung dibayar," katanya.

Keluhan nelayan terkait ketersediaan solar saat laut memberikan hasil tangkap yang melimpah juga ia tampung, dan berjanji akan mengkoordinasikan ke institusi terkait agar pasokan solar untuk nelayan diprioritaskan.

Terkait fasilitas kolam labuh bagi perahu nelayan juga ia perhatikan, dengan merencanakan memperpanjang "break water" tahun depan untuk mencegah pendangkalan kolam labuh yang sering dikeluhkan nelayan. "Saat ini, pengerukan terhadap kolam labuh agar tidak terjadi pendangkalan sudah dilakukan, tapi tanpa penambahan break water pendangkalan akan cepat terjadi. Tahun depan kami akan perpanjang break water untuk mencegah pendangkalan," katanya.

Fasilitas "docking" untuk perbaikan perahu menurutnya, juga perlu ada di PPN Pengambengan, karena docking yang ada saat ini tidak mampu menampung semua perahu yang hendak diperbaiki.

Selama berkeliling di PPN Pengambengan, Susi berinteraksi langsung dengan nelayan, termasuk dengan naik ke perahu yang sedang membongkar ikan dan berdialog dengan awak perahu. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 11 Desember 2018 - 22:25 WIB

Di Kudus, masih ada SD dimerger formasi CPNS

Selasa, 11 Desember 2018 - 22:01 WIB

PSI puji Risma percantik Surabaya

Selasa, 11 Desember 2018 - 21:02 WIB

TNI AU Suryadarma Kalijati bangun pos pangkalan udara

Selasa, 11 Desember 2018 - 21:01 WIB

Ketum PSI: Hoax dan kebencian ancam persatuan RI

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com