Kamis, 18 Oktober 2018 | 19:47 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Gaya Hidup / Kesehatan

Perhatikan! Dampak terlalu banyak gula bagi anak

Kamis, 11 Oktober 2018 - 05:11 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Dewi Rusiana
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2PrGStc
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2PrGStc

Elshinta.com - Anak yang mengonsumsi terlalu banyak gula, menurut penelitian, cenderung menjadi brutal, minum alkohol, dan merokok.

Tinjauan dari penelitian yang sudah ada menemukan bahwa makanan dan minuman yang mengandung banyak gula itu meningkatkan perilaku berisiko pada anak usia 11 hingga 15 tahun.

Anak-anak hampir tiga setengah kali lebih cenderung menjadi pengganggu bila mereka makan banyak permen dan minuman berenergi, sebuah penelitian menemukan fakta tersebut.

Penelitian lain mengungkapkan bahwa kadar gula tinggi membuat anak lebih berpotensi dua kali lebih banyak terlibat perkelahian, dan 95 persen lebih cenderung menjadi pemabuk, demikian laporan dailymail, seperti yang dikutip Antara, Rabu (10/10).

Para peneliti di belakang penelitian ini berkata bahwa minuman berenergi memperburuk perilaku anak lebih dari cokelat atau permen karena di dalamnya mengandung kafein juga.

Penelitian yang dilakukan oleh Bar Ilan University di Israel terhadap 137.284 anak usia 11, 13, atau 15 tahun dan hidup di 25 negara Eropa atau Kanada. 

Para peneliti membandingkan berapa banyak kadar gula yang dikonsumsi anak dengan berapa banyak mereka terlibat perkelahian, menganggu satu sama lain, mengisap rokok, minum alkohol, dan mabuk. Mereka menemukan ada korelasi yang kuat di antara keduanya.

Demikian juga penelitian di Inggris, anak-anak yang mengonsumsi banyak permen, cokelat, dan minuman berenergi itu 89 persen cenderung merokok dan 72 persen cenderung minum alkohol. Mereka juga 2,13 kali cenderung terlibat perkelahian dan memiliki peluang 69 persen lebih tinggi menjadi penganggu.

Penelitian ini untuk pertama kali melihat efek gula terhadap kekerasan dan penyalahgunaan zat pada anak.

Kendati tidak disebutkan kadar gula yang menjadi acuan penelitian, National Health Service (NHS) memiliki pedoman yang jelas.

Anak-anak usia di atas 11 tahun tidak mengonsumsi lebih dari 30 gram gula tambahan per hari—namun, terdapat makanan dengan kadar gula tinggi, seperti dalam minuman karbonasi (35 gram) dan cokelat bar (33 gram).

Sementara itu, untuk anak yang usianya lebih muda—usia 4 hingga 6 tahun itu tidak boleh mengonsumsi lebih dari 19 gram gula per hari.

Para penulis penelitian menuliskan bahwa hubungan antara minuman manis dan keterlibatan kekerasan di dalamnya adalah berasal dari permen dan cokelat.

“Karena minuman bergula juga sering mengandung banyak zat adiktif, termasuk kafein, termasuk gula yang dikombinasikan dengan beberapa zat adiktif yang terkandung dalam minuman ringan juga menjadi prediktor yang kuat atau konsisten,” pungkas mereka. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Manajemen | 18 Oktober 2018 - 19:45 WIB

Ini kemampuan yang harus dimiliki oleh founder startup

Aplikasi | 18 Oktober 2018 - 19:36 WIB

Twitter lakukan pembaruan pada tweet yang dilaporkan

Sosbud | 18 Oktober 2018 - 19:25 WIB

Santri dan warga Sukoharjo gelar Salat Istisqo

Aktual Dalam Negeri | 18 Oktober 2018 - 19:15 WIB

Pedagang Pasar Setono Betek keluhkan dagangan tak laku ke Wali Kota Kediri

Aktual Sepakbola | 18 Oktober 2018 - 18:58 WIB

Sadio Mane jalani operasi tangan

Aktual Pemilu | 18 Oktober 2018 - 18:47 WIB

Fahri Hamzah: Dana saksi dibiayai negara hindari persaingan tak sehat

Elshinta.com - Anak yang mengonsumsi terlalu banyak gula, menurut penelitian, cenderung menjadi brutal, minum alkohol, dan merokok.

Tinjauan dari penelitian yang sudah ada menemukan bahwa makanan dan minuman yang mengandung banyak gula itu meningkatkan perilaku berisiko pada anak usia 11 hingga 15 tahun.

Anak-anak hampir tiga setengah kali lebih cenderung menjadi pengganggu bila mereka makan banyak permen dan minuman berenergi, sebuah penelitian menemukan fakta tersebut.

Penelitian lain mengungkapkan bahwa kadar gula tinggi membuat anak lebih berpotensi dua kali lebih banyak terlibat perkelahian, dan 95 persen lebih cenderung menjadi pemabuk, demikian laporan dailymail, seperti yang dikutip Antara, Rabu (10/10).

Para peneliti di belakang penelitian ini berkata bahwa minuman berenergi memperburuk perilaku anak lebih dari cokelat atau permen karena di dalamnya mengandung kafein juga.

Penelitian yang dilakukan oleh Bar Ilan University di Israel terhadap 137.284 anak usia 11, 13, atau 15 tahun dan hidup di 25 negara Eropa atau Kanada. 

Para peneliti membandingkan berapa banyak kadar gula yang dikonsumsi anak dengan berapa banyak mereka terlibat perkelahian, menganggu satu sama lain, mengisap rokok, minum alkohol, dan mabuk. Mereka menemukan ada korelasi yang kuat di antara keduanya.

Demikian juga penelitian di Inggris, anak-anak yang mengonsumsi banyak permen, cokelat, dan minuman berenergi itu 89 persen cenderung merokok dan 72 persen cenderung minum alkohol. Mereka juga 2,13 kali cenderung terlibat perkelahian dan memiliki peluang 69 persen lebih tinggi menjadi penganggu.

Penelitian ini untuk pertama kali melihat efek gula terhadap kekerasan dan penyalahgunaan zat pada anak.

Kendati tidak disebutkan kadar gula yang menjadi acuan penelitian, National Health Service (NHS) memiliki pedoman yang jelas.

Anak-anak usia di atas 11 tahun tidak mengonsumsi lebih dari 30 gram gula tambahan per hari—namun, terdapat makanan dengan kadar gula tinggi, seperti dalam minuman karbonasi (35 gram) dan cokelat bar (33 gram).

Sementara itu, untuk anak yang usianya lebih muda—usia 4 hingga 6 tahun itu tidak boleh mengonsumsi lebih dari 19 gram gula per hari.

Para penulis penelitian menuliskan bahwa hubungan antara minuman manis dan keterlibatan kekerasan di dalamnya adalah berasal dari permen dan cokelat.

“Karena minuman bergula juga sering mengandung banyak zat adiktif, termasuk kafein, termasuk gula yang dikombinasikan dengan beberapa zat adiktif yang terkandung dalam minuman ringan juga menjadi prediktor yang kuat atau konsisten,” pungkas mereka. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
9,99 % perilaku anak & remaja konsumsi rokok & minuman beralkohol serta narkoba adalah faktor lingkungan
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com