Selasa, 23 Oktober 2018 | 13:25 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Kriminalitas

Polisi periksa psikologi tersangka kasus `swinger`

Rabu, 10 Oktober 2018 - 17:56 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Ilustrasi. Sumber foto:  https://bit.ly/2ye4sDa
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2ye4sDa

Elshinta.com - Kepolisian Daerah Jawa Timur memeriksa kondisi psikologi dari Eko, tersangka kasus pertukaran pasangan atau "swinger" yang melibatkan beberapa pasangan di Surabaya.

"Kami hari ini mendatang psikiater guna memeriksa psikologis tersangka. Sebab kasus seperti ini termasuk yang tidak biasa di Jatim," kata Kasubdit Renakta IV Ditreskrimum AKBP Festo Ari Permana di Mapolda Jatim Surabaya, Rabu (10/10).

Festo menuturkan, tersangka Eko tertarik melakukan "swinger" setelah mengikuti sebuah akun Twitter yang melakukan perdagangan manusia secara daring. "Awalnya melihat-lihat di akun Twitter ada BO (booking order). Dia melihat ada pasutri lalu mengubah akun pribadinya jadi @pasutri94," ujarnya.

Setelah itu, Eko mengambil gambar-gambar porno dari internet dan Twitter kemudian mengunggahnya seolah-olah foto itu adalah asli miliknya. Dia juga memasang tarif berkisar Rp750 ribu-Rp1 juta, seperti dikutip Antara.

Eko kemudian menawarkan kepada istrinya, DW apakah mau melakukan atau tidak setelah tarif sudah disepakati.

Selain itu sebelum bertemu untuk menggelar pesta seks, Eko mewajibkan pelanggannya mengirim foto. Mulai dari foto wajah sampai foto alat vital. "Setelah cocok, kemudian menentukan tempat pesta seks. Awalnya dia yang menentukan, tapi `customer` juga kadang minta di rumah mereka," katanya.

Festo menduga salah satu faktor dia melakukan "swinger" karena dia anak tunggal dan pengangguran yang kebutuhan sehari-harinya dicukupi orang tuanya yang hanya bekerja serabutan. "Untuk pelanggan syarat usianya 22-35 tahun. Latar belakangnya ada yang swasta, ada yang orang BUMN, wiraswasta. Juga harus suami-istri yang sah. Mereka selalu pakai kondom," katanya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:12 WIB

Dinas perikanan bina dua unit koperasi nelayan

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:05 WIB

DPR: Korban gempa Sulteng masih perlu bantuan

Ekonomi | 23 Oktober 2018 - 12:57 WIB

Bappenas: Cegah korupsi dengan pemerintahan terbuka

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 12:48 WIB

Rizal Ramli datangi KPK adukan dugaan korupsi

Hukum | 23 Oktober 2018 - 12:37 WIB

Tb Chaeri Wardana diperiksa KPK kembali

Hukum | 23 Oktober 2018 - 12:26 WIB

KPK periksa lagi Bupati Bangkalan

Elshinta.com - Kepolisian Daerah Jawa Timur memeriksa kondisi psikologi dari Eko, tersangka kasus pertukaran pasangan atau "swinger" yang melibatkan beberapa pasangan di Surabaya.

"Kami hari ini mendatang psikiater guna memeriksa psikologis tersangka. Sebab kasus seperti ini termasuk yang tidak biasa di Jatim," kata Kasubdit Renakta IV Ditreskrimum AKBP Festo Ari Permana di Mapolda Jatim Surabaya, Rabu (10/10).

Festo menuturkan, tersangka Eko tertarik melakukan "swinger" setelah mengikuti sebuah akun Twitter yang melakukan perdagangan manusia secara daring. "Awalnya melihat-lihat di akun Twitter ada BO (booking order). Dia melihat ada pasutri lalu mengubah akun pribadinya jadi @pasutri94," ujarnya.

Setelah itu, Eko mengambil gambar-gambar porno dari internet dan Twitter kemudian mengunggahnya seolah-olah foto itu adalah asli miliknya. Dia juga memasang tarif berkisar Rp750 ribu-Rp1 juta, seperti dikutip Antara.

Eko kemudian menawarkan kepada istrinya, DW apakah mau melakukan atau tidak setelah tarif sudah disepakati.

Selain itu sebelum bertemu untuk menggelar pesta seks, Eko mewajibkan pelanggannya mengirim foto. Mulai dari foto wajah sampai foto alat vital. "Setelah cocok, kemudian menentukan tempat pesta seks. Awalnya dia yang menentukan, tapi `customer` juga kadang minta di rumah mereka," katanya.

Festo menduga salah satu faktor dia melakukan "swinger" karena dia anak tunggal dan pengangguran yang kebutuhan sehari-harinya dicukupi orang tuanya yang hanya bekerja serabutan. "Untuk pelanggan syarat usianya 22-35 tahun. Latar belakangnya ada yang swasta, ada yang orang BUMN, wiraswasta. Juga harus suami-istri yang sah. Mereka selalu pakai kondom," katanya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 23 Oktober 2018 - 07:46 WIB

BMKG pasang 20 sensor gempa di Sulteng

Senin, 22 Oktober 2018 - 21:25 WIB

Polisi bekuk pembunuh wanita tanpa busana di Binjai

Senin, 22 Oktober 2018 - 19:46 WIB

Polresta Malang gerebek toko pembuat miras oplosan

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com