Senin, 22 Oktober 2018 | 22:26 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Perempuan / Aktual Perempuan

Jangan anggap remeh benjolan di payudara

Rabu, 10 Oktober 2018 - 20:12 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Ilustrasi. Sumber foto:  https://bit.ly/2yay8B1
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2yay8B1

Elshinta.com - Benjolan di payudara belum tentu merupakan kanker, namun Anda tetap perlu memeriksannya lebih lanjut pada dokter untuk memastikan benjolan itu hanya tumor jinak atau justru kanker. 

"Benjolan itu tumor, ada yang ganas dan jinak. Setiap ada benjolan harus waspada sampai dibuktikan itu kanker. Jangan dianggap remeh juga," ujar spesialis obstetri dan ginekologi dari Prodia Women's Health Centre, Dr. Raditya Wratsangka, SpOG (K) di Jakarta, Rabu (10/10).

Benjolan pertanda kanker biasanya terasa lebih keras dan permukaannya tidak rata, tidak bergerak, tidak menimbulkan rasa nyeri dan seringkali tak dapat dilihat namun bisa terasa. 

Dalam kesempatan berbeda, dr Siti Sundari Manopo dari RS Onkologi Surabaya pernah mengatakan, saat menemukan benjolan jangan lekas panik. Ulangi pemeriksaan di hari berikutnya. Jika memang masih ditemukan benjolan, Sundari menyarankan Anda melakukan USG. 

Anda bisa saja menemukan benjolan saat melakukan pemeriksaan payudara sendiri, oleh ahli kesehatan saat melakukan Sadanis atau bahkan USG. 

"USG disarankan untuk mereka di bawah usia 35 tahun karena jaringan payudara masih padat. Selain itu ada mamografi atau pemeriksaan menggunakan sinar rontgen dan ini efektif pada usia di atas 35 tahun," kata Raditya. 

Kemudian, pada kelompok risiko tinggi misalnya memiliki riwayat keluarga mengalami kanker payudara, mereka harus mendapatkan pemeriksaan secara lebih teliti misalnya dengan MRI payudara setiap tahun mulai usia 30 tahun.  

Sejumlah perilaku semisal kurang mengonsumsi buah dan sayuran, kurang beraktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol berlebihan ditambah paparan sinar ultraviolet, bakteri, virus dan parasit bisa menjadi faktor risiko seseorang terkena kanker payudara. 

Selain itu, khusus bagi wanita, ada faktor risiko tambahan yakni haid lebih muda atau kurang dari 12 tahun, tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama lebih dari usia 30 tahun, usia menopauase lebih dari usia 55 tahun, pernah mengalami tumor jinak di payudara dan mengalami stres berat, demikian dikutip Antara.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:22 WIB

Dua Babinsa jajaran Kodim 0201/BS gerebek pesta narkoba

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:10 WIB

Kudus darurat TBC

Hukum | 22 Oktober 2018 - 21:59 WIB

SP RSIS desak PN Sukoharjo laksanakan eksekusi putusan MA

Sosbud | 22 Oktober 2018 - 21:48 WIB

Malinau gelar Irau dalam rangka HUT ke-19

Arestasi | 22 Oktober 2018 - 21:25 WIB

Polisi bekuk pembunuh wanita tanpa busana di Binjai

Elshinta.com - Benjolan di payudara belum tentu merupakan kanker, namun Anda tetap perlu memeriksannya lebih lanjut pada dokter untuk memastikan benjolan itu hanya tumor jinak atau justru kanker. 

"Benjolan itu tumor, ada yang ganas dan jinak. Setiap ada benjolan harus waspada sampai dibuktikan itu kanker. Jangan dianggap remeh juga," ujar spesialis obstetri dan ginekologi dari Prodia Women's Health Centre, Dr. Raditya Wratsangka, SpOG (K) di Jakarta, Rabu (10/10).

Benjolan pertanda kanker biasanya terasa lebih keras dan permukaannya tidak rata, tidak bergerak, tidak menimbulkan rasa nyeri dan seringkali tak dapat dilihat namun bisa terasa. 

Dalam kesempatan berbeda, dr Siti Sundari Manopo dari RS Onkologi Surabaya pernah mengatakan, saat menemukan benjolan jangan lekas panik. Ulangi pemeriksaan di hari berikutnya. Jika memang masih ditemukan benjolan, Sundari menyarankan Anda melakukan USG. 

Anda bisa saja menemukan benjolan saat melakukan pemeriksaan payudara sendiri, oleh ahli kesehatan saat melakukan Sadanis atau bahkan USG. 

"USG disarankan untuk mereka di bawah usia 35 tahun karena jaringan payudara masih padat. Selain itu ada mamografi atau pemeriksaan menggunakan sinar rontgen dan ini efektif pada usia di atas 35 tahun," kata Raditya. 

Kemudian, pada kelompok risiko tinggi misalnya memiliki riwayat keluarga mengalami kanker payudara, mereka harus mendapatkan pemeriksaan secara lebih teliti misalnya dengan MRI payudara setiap tahun mulai usia 30 tahun.  

Sejumlah perilaku semisal kurang mengonsumsi buah dan sayuran, kurang beraktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol berlebihan ditambah paparan sinar ultraviolet, bakteri, virus dan parasit bisa menjadi faktor risiko seseorang terkena kanker payudara. 

Selain itu, khusus bagi wanita, ada faktor risiko tambahan yakni haid lebih muda atau kurang dari 12 tahun, tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama lebih dari usia 30 tahun, usia menopauase lebih dari usia 55 tahun, pernah mengalami tumor jinak di payudara dan mengalami stres berat, demikian dikutip Antara.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com