Selasa, 23 Oktober 2018 | 13:23 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Presiden pertanyakan hasil riset di depan dosen

Rabu, 10 Oktober 2018 - 20:52 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Presiden Joko Widodo beraudensi dengan seluruh pejabat eselon I, Eselon II, PTN dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI). Sumber Foto:  https://bit.ly/2A1Fh8n
Presiden Joko Widodo beraudensi dengan seluruh pejabat eselon I, Eselon II, PTN dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI). Sumber Foto: https://bit.ly/2A1Fh8n

Elshinta.com - Presiden Joko Widodo mempertanyakan hasil riset saat beraudensi dengan seluruh pejabat eselon I, Eselon II, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) di Lingkungan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi di Istana Negara Jakarta, Rabu (10/10).

"Riset kita sekarang ini setahun kira-kira sudah Rp26 triliun. Saya tanya pada kementerian-kementerian hasilnya mana? mana Rp600 miliar setahun hasilnya? Kalau saya blak-blakan Rp800 miliar untuk riset di kementerianmu mana," kata Presiden saat memberikan pengarahan.

Kepala Negara berharap ekosistem di dalam kampus harus dibenahi bersama-sama dan cara-cara baru harus dikembangkan, "Harus diberikan fasilitas dan dikembangkan. Inovasi memecahkan masalah dan memberikan nilai tambah harus didukung," katanya.

Jokowi tidak mau mendengar tugas eselon I, eselon II, dosen lebih sibuk mengisi form daripada mengajar dan para peneliti sibuk membuat SPJ daripada urus substansi penelitiannya. Untuk itu, Presiden meminta para Dirjen,pejabat eseolan I dan II kementerian Ristek Dikti untuk memangkas segala aturan yang memperlambat. "Wajib, urusan SPJ pangkas saja. Pak Dirjen, Direktur, pangkas. Saya cek nanti, saya cek ini, karena tahun depan kita sudah masuk ke (pembangunan) SDM," kata Presiden.

Jokowi juga menyatakan pemerintah akan membuat Badan Riset Nasional yang perannya sebesar 70-80 persen ada di Perguruan Tinggi. "Sehingga anggaran riset kita menjadi jelas, larinya ke mana, hasilnya apa, outputnya apa, outcomenya apa," kata Presiden.

Menteri Ristek Dikti M Nasir menyampaikan capaian bidang riset dan teknologi di tingkat negara ASEAN dalam hal publikasi hasil riset internasional sebelum 2015 tidak bisa melebihi Thailand, Singapura dan Malaysia.

"Per Oktober 2018 ini, Alhamdulillah, Indonesia sudah di angka 20.610 publikasi internasionalnya atau sudah mengungguli Thailand dan Singapura. kita sudah luar biasa peningkatannya," katanya.

Berdasarkan data Kemenristek Dikti, Thailand publikasi riset internasionalnya mencapai 12.374 dan Singapura 16.647, sedangkan Malaysia mencapai 22.070.

M Nasir juga menyebut 10 lembaga yang paling besar menyumbang publikasi riset adalan Institut Teknologi Bandung (ITS) sebanyak 10.090, Universitas Indonesia (UI) 9.348. Universitas Gadjah Mada (UGM) 6.465, Institut Pertanian Bogor (IPB) 4.181, Institut Teknologi Surabaya (ITS) 4.021, Universitas Diponegoro (Undip) 3.643, LIPI 3.576, Universitas Brawijaya Malang 2.566 dan Universitas Padjajaran (Unpad) 2.442. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:12 WIB

Dinas perikanan bina dua unit koperasi nelayan

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:05 WIB

DPR: Korban gempa Sulteng masih perlu bantuan

Ekonomi | 23 Oktober 2018 - 12:57 WIB

Bappenas: Cegah korupsi dengan pemerintahan terbuka

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 12:48 WIB

Rizal Ramli datangi KPK adukan dugaan korupsi

Hukum | 23 Oktober 2018 - 12:37 WIB

Tb Chaeri Wardana diperiksa KPK kembali

Hukum | 23 Oktober 2018 - 12:26 WIB

KPK periksa lagi Bupati Bangkalan

Elshinta.com - Presiden Joko Widodo mempertanyakan hasil riset saat beraudensi dengan seluruh pejabat eselon I, Eselon II, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) di Lingkungan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi di Istana Negara Jakarta, Rabu (10/10).

"Riset kita sekarang ini setahun kira-kira sudah Rp26 triliun. Saya tanya pada kementerian-kementerian hasilnya mana? mana Rp600 miliar setahun hasilnya? Kalau saya blak-blakan Rp800 miliar untuk riset di kementerianmu mana," kata Presiden saat memberikan pengarahan.

Kepala Negara berharap ekosistem di dalam kampus harus dibenahi bersama-sama dan cara-cara baru harus dikembangkan, "Harus diberikan fasilitas dan dikembangkan. Inovasi memecahkan masalah dan memberikan nilai tambah harus didukung," katanya.

Jokowi tidak mau mendengar tugas eselon I, eselon II, dosen lebih sibuk mengisi form daripada mengajar dan para peneliti sibuk membuat SPJ daripada urus substansi penelitiannya. Untuk itu, Presiden meminta para Dirjen,pejabat eseolan I dan II kementerian Ristek Dikti untuk memangkas segala aturan yang memperlambat. "Wajib, urusan SPJ pangkas saja. Pak Dirjen, Direktur, pangkas. Saya cek nanti, saya cek ini, karena tahun depan kita sudah masuk ke (pembangunan) SDM," kata Presiden.

Jokowi juga menyatakan pemerintah akan membuat Badan Riset Nasional yang perannya sebesar 70-80 persen ada di Perguruan Tinggi. "Sehingga anggaran riset kita menjadi jelas, larinya ke mana, hasilnya apa, outputnya apa, outcomenya apa," kata Presiden.

Menteri Ristek Dikti M Nasir menyampaikan capaian bidang riset dan teknologi di tingkat negara ASEAN dalam hal publikasi hasil riset internasional sebelum 2015 tidak bisa melebihi Thailand, Singapura dan Malaysia.

"Per Oktober 2018 ini, Alhamdulillah, Indonesia sudah di angka 20.610 publikasi internasionalnya atau sudah mengungguli Thailand dan Singapura. kita sudah luar biasa peningkatannya," katanya.

Berdasarkan data Kemenristek Dikti, Thailand publikasi riset internasionalnya mencapai 12.374 dan Singapura 16.647, sedangkan Malaysia mencapai 22.070.

M Nasir juga menyebut 10 lembaga yang paling besar menyumbang publikasi riset adalan Institut Teknologi Bandung (ITS) sebanyak 10.090, Universitas Indonesia (UI) 9.348. Universitas Gadjah Mada (UGM) 6.465, Institut Pertanian Bogor (IPB) 4.181, Institut Teknologi Surabaya (ITS) 4.021, Universitas Diponegoro (Undip) 3.643, LIPI 3.576, Universitas Brawijaya Malang 2.566 dan Universitas Padjajaran (Unpad) 2.442. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 23 Oktober 2018 - 13:12 WIB

Dinas perikanan bina dua unit koperasi nelayan

Selasa, 23 Oktober 2018 - 13:05 WIB

DPR: Korban gempa Sulteng masih perlu bantuan

Selasa, 23 Oktober 2018 - 12:57 WIB

Bappenas: Cegah korupsi dengan pemerintahan terbuka

Selasa, 23 Oktober 2018 - 12:48 WIB

Rizal Ramli datangi KPK adukan dugaan korupsi

Selasa, 23 Oktober 2018 - 12:37 WIB

Tb Chaeri Wardana diperiksa KPK kembali

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com