Kamis, 18 Oktober 2018 | 02:29 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Pemilu / Pemilihan Presiden 2019

Guru ngaji dan ustazah ini klaim dukung Jokowi-Ma'ruf

Rabu, 10 Oktober 2018 - 12:30 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Sumber foto: https://bit.ly/2yeom0X
Sumber foto: https://bit.ly/2yeom0X

Elshinta.com - Semarak pilpres di Banten makin terasa dengan meriahnya majelis-majelis taklim membahas isu politik dan pemilu. Tidak jarang jamaah pengajian menanyakan siapa pemimpin ideal yang pantas dipilih dan bagaimana memilih pemimpin menurut Islam.

Sebagai sarana taklim atau tempat belajar, majelis juga berfungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi jama'ahnya, karena itulah para pimpinan majelis taklim di Banten berkumpul membentuk forum komunikasi sebagai wahana tukar informasi dan media tabayyun dari meriahnya berita hoaks dan produksi fitnah yang banyak terjadi saat proses pilpres berlangsung.

Mereka juga tergerak untuk mengantisipasi munculnya konflik horizontal akibat politik identitas dijadikan isu kampanye. Dalam konteks itulah berlangsung pertemuan para pimpinan dan pengelola majelis taklim di Kota Serang, Provinsi Banten. Pertemuan yang digagas Ahmad Saefullah itu berhasil menghimpun beberapa majelis dan bersepakat untuk menjalankan pendidikan politik agar majelis taklim bisa memberi kontribusi bagi suksesnya pemilu serentak 2019.

Pendidikan politik yang dimaksud terutama adalah bagaimana agar memilih presiden dan wakil presiden berbasis pada program. Karenanya bedah visi misi dan bongkar rekam jejak menjadi prioritas. "Kita harus didik ummat agar memilih presiden bukan karena taqlid atau ikut-ikutan, apalagi ikut propaganda fitnah dan hasutan yang memecah belah. Memilih salah satu dari dua pasangan yang ada itu hukumnya mubah. Kalau ada yang memgharamkan memilih salah satunya, itu adalah kesesatan yang nyata," ujar Saefullah kepada media di lokasi pertemuan di Kota Serang, (10/10) seperti dalam rilis yang diterima Redaksi Elshinta.com.

Sementara itu ustazah Siti Badriyah salah satu pimpinan majelis taklim yang hadir menjelaskan, memilih pemimpin negara bukanlah perkara sederhana. Harus dicari pemimpin yang berpengalaman, punya kepedulian, sosok yang teruji karena kerja nyata dan bisa dilihat hasil kerjanya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Timnas Indonesia | 17 Oktober 2018 - 21:34 WIB

Indra Sjafri: Saya tidak perlu `striker` asal...

Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 21:23 WIB

Menhub segera kaji penerapan `panic button` taksi online

Peluang | 17 Oktober 2018 - 21:15 WIB

Langkah-langkah membuka TK atau PAUD

Hukum | 17 Oktober 2018 - 20:55 WIB

Menhub tegaskan akan atur taksi online

Arestasi | 17 Oktober 2018 - 20:47 WIB

Satreskrim Polres Langkat ringkus penjual togel

Elshinta.com - Semarak pilpres di Banten makin terasa dengan meriahnya majelis-majelis taklim membahas isu politik dan pemilu. Tidak jarang jamaah pengajian menanyakan siapa pemimpin ideal yang pantas dipilih dan bagaimana memilih pemimpin menurut Islam.

Sebagai sarana taklim atau tempat belajar, majelis juga berfungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi jama'ahnya, karena itulah para pimpinan majelis taklim di Banten berkumpul membentuk forum komunikasi sebagai wahana tukar informasi dan media tabayyun dari meriahnya berita hoaks dan produksi fitnah yang banyak terjadi saat proses pilpres berlangsung.

Mereka juga tergerak untuk mengantisipasi munculnya konflik horizontal akibat politik identitas dijadikan isu kampanye. Dalam konteks itulah berlangsung pertemuan para pimpinan dan pengelola majelis taklim di Kota Serang, Provinsi Banten. Pertemuan yang digagas Ahmad Saefullah itu berhasil menghimpun beberapa majelis dan bersepakat untuk menjalankan pendidikan politik agar majelis taklim bisa memberi kontribusi bagi suksesnya pemilu serentak 2019.

Pendidikan politik yang dimaksud terutama adalah bagaimana agar memilih presiden dan wakil presiden berbasis pada program. Karenanya bedah visi misi dan bongkar rekam jejak menjadi prioritas. "Kita harus didik ummat agar memilih presiden bukan karena taqlid atau ikut-ikutan, apalagi ikut propaganda fitnah dan hasutan yang memecah belah. Memilih salah satu dari dua pasangan yang ada itu hukumnya mubah. Kalau ada yang memgharamkan memilih salah satunya, itu adalah kesesatan yang nyata," ujar Saefullah kepada media di lokasi pertemuan di Kota Serang, (10/10) seperti dalam rilis yang diterima Redaksi Elshinta.com.

Sementara itu ustazah Siti Badriyah salah satu pimpinan majelis taklim yang hadir menjelaskan, memilih pemimpin negara bukanlah perkara sederhana. Harus dicari pemimpin yang berpengalaman, punya kepedulian, sosok yang teruji karena kerja nyata dan bisa dilihat hasil kerjanya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com