PB PMII nilai isu suap Kapolri pengalihan isu penanganan kasus Ratna
Kamis, 11 Oktober 2018 - 07:35 WIB | Penulis : Angga Kusuma | Editor : Administrator
Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Agus Mulyono Herlambang. Sumber foto: https://bit.ly/2RHy0Bb

Elshinta.com - Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Agus Mulyono Herlambang berpendapat bahwa beredarnya isu bahwa Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menerima suap dari importir Basuki Hariman terkait kasus korupsi daging sapi, adalah upaya untuk pengalihan isu penanganan kasus hoaks penganiayaan aktivis Ratna Sarumpaet yang tengah disidik Polri.

Dari siaran pers PB PMII, Kamis (11/10), PB PMII mempertanyakan munculnya isu tersebut di saat Polri sedang menangani kasus hoaks yang melibatkan Ratna Sarumpaet. Agus menduga ini adalah upaya untuk mengalihkan perhatian publik dengan memunculkan isu baru. "Dengan adanya pemberitaan ini, membuat Polri tidak dapat bekerja secara fokus untuk menangani kasus-kasus yang masuk, terutama kasus hoaks Ratna Sarumpaet. Hal ini sangat melemahkan posisi Polri sebagai penegak hukum," kata Agus. 

Terlebih, kata Agus, informasi keterlibatan Kapolri Tito dalam impor daging sapi, diungkit kembali di tengah-tengah masa kampanye Pilpres tahun 2019. "Informasi yang dikemukakan Amien Rais terlalu politis," katanya.

Sebab, kata Agus, jika hal itu benar, seharusnya mantan Ketua MPR Amien Rais tidak mengatakan hal itu melalui rilis yang dibuatnya, namun langsung melaporkannya ke KPK. "Tetapi, melaporkan langsung ke KPK atas keterlibatan Tito," katanya.

Agus pun mengomentari ungkapan mantan Wakil Ketua KPK Bambang Wijayanto kepada media yang mendesak KPK untuk segera bertindak. Menurut Agus, Bambang sebagai salah satu mantan pimpinan KPK, seharusnya melaporkan langsung ke KPK jika memang benar Tito terlibat karena Bambang sangat mengerti prosedur penanganan kasus di KPK. "Namun, lagi-lagi disayangkan, Bambang hanya mengungkapkannya di depan media. Dan ini tindakan ini bersifat politis," kata Agus.

Agus berharap agar Polri tetap fokus menangani berbagai kasus penting, terutama kasus berita bohong yang dibuat oleh Ratna Sarumpaet. "Saya kira biarkan publik yang menilai, dan saya yakin masyarakat Indonesia sudah cerdas dan mulai bosan dengan beragam skenario yang dilontarkan oleh pihak-pihak yang menyudutkan Kapolri," katanya, demikian Antara.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kamis, 25 April 2019 - 21:54 WIB
Elshinta.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa nilar tuka...
Kamis, 25 April 2019 - 21:12 WIB
Elshinta.com - Badan Pemenangan Provinsi (BPP) untuk pasangan calon presiden nomor urut 02...
Kamis, 25 April 2019 - 19:44 WIB
Elshinta.com - Wartawan atau awak media merupakan mitra strategis dalam penanggulangan ben...
Kamis, 25 April 2019 - 19:31 WIB
Elshinta.com - Mahkamah Konstitusi (MK) melalui putusannya yang diucapkan di Gedung MK Jak...
Kamis, 25 April 2019 - 19:17 WIB
Elshinta.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menambah kapal patroli, guna mengoptimal...
Kamis, 25 April 2019 - 18:15 WIB
Elshinta.com - Kepala kepolisian Resor (Kapolres) Cirebon Kota AKBP Roland Ronaldy memimpin pel...
Kamis, 25 April 2019 - 17:27 WIB
Elshinta.com - Kepolisian Resor Majalengka, Jawa Barat melaksanakan pembinaan rohani dan mental...
Kamis, 25 April 2019 - 17:19 WIB
Elshinta.com - Aliansi Pekerja Buruh Daerah (APBD) Sumatera Utara meminta Presiden RI dan ...
Kamis, 25 April 2019 - 16:55 WIB
Elshinta.com - Sejumlah ormas Islan di Kota Depok mendukung protes Pemkot Depok kepada Komisi P...
Kamis, 25 April 2019 - 16:48 WIB
Elshinta.com - Hingga Kamis (25/4) sore, pukul 16:30:05 WIB, data yang masuk di Sistem Informas...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)