Selasa, 23 Oktober 2018 | 13:25 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Pemilu / Aktual Pemilu

Fenomena mendukung capres bukti demokrasi telah bergeser

Kamis, 11 Oktober 2018 - 09:26 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Dewi Rusiana
Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Sumber foto: https://bit.ly/2INP4BL
Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Sumber foto: https://bit.ly/2INP4BL

Elshinta.com - Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr Ahmad Atang, MSi berpendapat fenomena dukung mendukung pasangan calon pada Pilpres 2019 membuktikan bahwa demokrasi Indonesia telah mengalami pergeseran.

"Fenomena dukung mendukung merupakan hal yang wajar dalam politik, tetapi harus dipahami bahwa demokrasi kita hari ini telah bergeser dari demokrasi representatif ke demokrasi partisipatif, dan dari demokrasi institusi ke demokrasi individu," kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Kamis (11/10).

Dia mengemukakan hal itu, ketika dimintai pandangan seputar fenomena politik menjelang Pilpres 2019, di mana banyak kader partai yang mendukung calon presiden-wakil presiden yang bukan diusung partainya. Mantan pembantu Rektor I UMK itu menambahkan, fenomena dukung mendukung pasangan calon pada pilpres mendatang merupakan hal yang wajar dalam politik.

Hal ini pula merujuk pada konsep politik yang terkait langsung dalam memahami politik adalah persepsi publik terhadap figur. "Semakin tinggi ekspektasi publik terhadap figur itu positif, akan mendorong publik memberikan dukungan kepadanya, begitu juga sebaliknya," tuturnya.

Dengan demikian, dari dua figur yang akan bertarung pada pilpres mendatang, menampakan fenomena partisan politik lokal memberi dukungan yang berbeda dengan sikap koalisi partai di pusat. Walaupun demikian, kasus banyaknya kepala daerah yang mendukung Jokowi, misalnya, sementara partainya mendukung Prabowo menunjukan adanya pembangkangan politik yang dilakukan oleh kader partai. "Di sini, kader daerah lebih melihat figur Jokowi bukan partai," ucapnya, dikutip Antara.

Menurut dia, jika dilihat dari aspek hirarkis organisasi politik, maka tindakan tersebut merupakan perlawanan internal. Namun, harus juga dipahami bahwa demokrasi hari ini telah bergeser dari demokrasi representatif ke demokrasi partisipatif dan dari demokrasi institusi ke demokrasi individu maka kader daerah lebih melihat figur Jokowi, bukan partai.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:12 WIB

Dinas perikanan bina dua unit koperasi nelayan

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:05 WIB

DPR: Korban gempa Sulteng masih perlu bantuan

Ekonomi | 23 Oktober 2018 - 12:57 WIB

Bappenas: Cegah korupsi dengan pemerintahan terbuka

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 12:48 WIB

Rizal Ramli datangi KPK adukan dugaan korupsi

Hukum | 23 Oktober 2018 - 12:37 WIB

Tb Chaeri Wardana diperiksa KPK kembali

Hukum | 23 Oktober 2018 - 12:26 WIB

KPK periksa lagi Bupati Bangkalan

Elshinta.com - Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr Ahmad Atang, MSi berpendapat fenomena dukung mendukung pasangan calon pada Pilpres 2019 membuktikan bahwa demokrasi Indonesia telah mengalami pergeseran.

"Fenomena dukung mendukung merupakan hal yang wajar dalam politik, tetapi harus dipahami bahwa demokrasi kita hari ini telah bergeser dari demokrasi representatif ke demokrasi partisipatif, dan dari demokrasi institusi ke demokrasi individu," kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Kamis (11/10).

Dia mengemukakan hal itu, ketika dimintai pandangan seputar fenomena politik menjelang Pilpres 2019, di mana banyak kader partai yang mendukung calon presiden-wakil presiden yang bukan diusung partainya. Mantan pembantu Rektor I UMK itu menambahkan, fenomena dukung mendukung pasangan calon pada pilpres mendatang merupakan hal yang wajar dalam politik.

Hal ini pula merujuk pada konsep politik yang terkait langsung dalam memahami politik adalah persepsi publik terhadap figur. "Semakin tinggi ekspektasi publik terhadap figur itu positif, akan mendorong publik memberikan dukungan kepadanya, begitu juga sebaliknya," tuturnya.

Dengan demikian, dari dua figur yang akan bertarung pada pilpres mendatang, menampakan fenomena partisan politik lokal memberi dukungan yang berbeda dengan sikap koalisi partai di pusat. Walaupun demikian, kasus banyaknya kepala daerah yang mendukung Jokowi, misalnya, sementara partainya mendukung Prabowo menunjukan adanya pembangkangan politik yang dilakukan oleh kader partai. "Di sini, kader daerah lebih melihat figur Jokowi bukan partai," ucapnya, dikutip Antara.

Menurut dia, jika dilihat dari aspek hirarkis organisasi politik, maka tindakan tersebut merupakan perlawanan internal. Namun, harus juga dipahami bahwa demokrasi hari ini telah bergeser dari demokrasi representatif ke demokrasi partisipatif dan dari demokrasi institusi ke demokrasi individu maka kader daerah lebih melihat figur Jokowi, bukan partai.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 23 Oktober 2018 - 07:57 WIB

Dandim Ponorogo ingatkan netralitas TNI dalam Pemilu

Selasa, 23 Oktober 2018 - 07:35 WIB

Peneliti: Media harus bisa jadi acuan saat Pemilu

Senin, 22 Oktober 2018 - 21:14 WIB

KPUD Lumajang sosialisasi APK peserta Pemilu

Senin, 22 Oktober 2018 - 15:46 WIB

Disebut diperalat Jokowi, Ma`ruf: Ini isu kejam!

Senin, 22 Oktober 2018 - 12:45 WIB

KPU Bangka terima kotak suara Pemilu 2019

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com