Senin, 22 Oktober 2018 | 22:27 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Hukum

JIS kembali digugat orang tua siswa korban kasus pelecehan seksual

Kamis, 11 Oktober 2018 - 11:01 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2IPcqXt
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2IPcqXt

Elshinta.com - Jakarta International School atau sekarang Jakarta Intercultural School (JIS) kembali digugat secara perdata orang tua korban pelecehan seksual oleh tenaga pengajar di sekolahan tersebut.

Sidang perdana dengan Nomor 704/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Sel yang diajukan oleh Theresia Pipit Widowati, selaku orang tua dari Marc Aaron Kroonen, korban tindak pidana pelecehan seksual yang terjadi di JIS sekitar tahun 2013-2014 silam.

"Tindak pidana pelecehan seksual tersebut dilakukan oleh dua orang Guru JIS dan petugas-petugas kebersihan yang bertugas membersihkan pekarangan sekolah JIS tersebut," kata kuasa hukum orang tua Theresia Pipit Widowati, Tommy Sitohang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/10) seperti dalam rilis yang diterima Redaksi Elshinta.com.

Tommy mengungkapkan, adapun bukti hukum atas terjadinya tindak pidana pelecehan seksual tersebut adalah berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) RI dan sekarang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). 

Dia menerangkan, putusan-putusan MA yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut merupakan bukti hukum yang tidak terbantahkan lagi atas terjadinya tindak pidana pelecehan seksual terhadap anak yang bersekolah di JIS tersebut. "Tentunya juga sekaligus telah menepis prasangka masyarakat terhadap pihak korban yang dulu diduga telah mengajukan laporan polisi yang tidak berdasar atas hukum," terangnya.
 
Tommy menambahkan, pengajuan gugatan ini tidak lain adalah guna menuntut keadilan bagi korban tindak pidana pelecehan seksual tersebut. "Dengan diajukannya gugatan ini, diharapkan pihak-pihak tersebut diatas dapat bertanggungjawab secara perdata dan segera melaksanakan kewajiban- kewajiban hukumnya terhadap Korban tindak pidana pelecehan seksual tersebut," pungkas Tommy.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:22 WIB

Dua Babinsa jajaran Kodim 0201/BS gerebek pesta narkoba

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:10 WIB

Kudus darurat TBC

Hukum | 22 Oktober 2018 - 21:59 WIB

SP RSIS desak PN Sukoharjo laksanakan eksekusi putusan MA

Sosbud | 22 Oktober 2018 - 21:48 WIB

Malinau gelar Irau dalam rangka HUT ke-19

Arestasi | 22 Oktober 2018 - 21:25 WIB

Polisi bekuk pembunuh wanita tanpa busana di Binjai

Elshinta.com - Jakarta International School atau sekarang Jakarta Intercultural School (JIS) kembali digugat secara perdata orang tua korban pelecehan seksual oleh tenaga pengajar di sekolahan tersebut.

Sidang perdana dengan Nomor 704/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Sel yang diajukan oleh Theresia Pipit Widowati, selaku orang tua dari Marc Aaron Kroonen, korban tindak pidana pelecehan seksual yang terjadi di JIS sekitar tahun 2013-2014 silam.

"Tindak pidana pelecehan seksual tersebut dilakukan oleh dua orang Guru JIS dan petugas-petugas kebersihan yang bertugas membersihkan pekarangan sekolah JIS tersebut," kata kuasa hukum orang tua Theresia Pipit Widowati, Tommy Sitohang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/10) seperti dalam rilis yang diterima Redaksi Elshinta.com.

Tommy mengungkapkan, adapun bukti hukum atas terjadinya tindak pidana pelecehan seksual tersebut adalah berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) RI dan sekarang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). 

Dia menerangkan, putusan-putusan MA yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut merupakan bukti hukum yang tidak terbantahkan lagi atas terjadinya tindak pidana pelecehan seksual terhadap anak yang bersekolah di JIS tersebut. "Tentunya juga sekaligus telah menepis prasangka masyarakat terhadap pihak korban yang dulu diduga telah mengajukan laporan polisi yang tidak berdasar atas hukum," terangnya.
 
Tommy menambahkan, pengajuan gugatan ini tidak lain adalah guna menuntut keadilan bagi korban tindak pidana pelecehan seksual tersebut. "Dengan diajukannya gugatan ini, diharapkan pihak-pihak tersebut diatas dapat bertanggungjawab secara perdata dan segera melaksanakan kewajiban- kewajiban hukumnya terhadap Korban tindak pidana pelecehan seksual tersebut," pungkas Tommy.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 22 Oktober 2018 - 22:10 WIB

Kudus darurat TBC

Senin, 22 Oktober 2018 - 21:48 WIB

Malinau gelar Irau dalam rangka HUT ke-19

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com