Rabu, 12 Desember 2018 | 02:22 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Pemikiran kritis penting dalam memerangi hoaks

Jumat, 12 Oktober 2018 - 08:49 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Dewi Rusiana
Perwakilan Kedubes AS Jakarta Alexia Branch, Moderator Arfi Bambani, Ignasius Hariyanto, Margaret Farley dan Aribowo Sasmito usai acara diskusi
Perwakilan Kedubes AS Jakarta Alexia Branch, Moderator Arfi Bambani, Ignasius Hariyanto, Margaret Farley dan Aribowo Sasmito usai acara diskusi

Elshinta.com - Ahli Jurnalistik asal Amerika Serikat Margaret Farley mengatakan bahwa pemikiran yang kritis menjadi aspek penting dalam usaha untuk melawan berita bohong atau "hoax".

Hal tersebut disampaikan Margaret, yang akrab disapa Maggie, dalam sebuah diskusi bertajuk "Fake News: How to Know What to Believe" yang diadakan di @america Pacific Place, Jakarta, Kamis (11/10). “Senjata terbaik untuk melawan 'hoax' ada dalam diri kita sendiri, yaitu otak kita,” katanya.

Menurut dia, masing-masing individu pasti memiliki naluri yang seringkali memberikan sinyal apabila suatu berita dibuat berdasarkan fakta atau memang sengaja dibuat untuk menimbulkan sensasi. “Gunakan naluri Anda. Tanya pertanyaan kepada diri Anda sendiri, apa yang Anda rasakan ketika anda membaca berita itu? Apakah informasi itu seolah jauh dari kenyataan?,” kata Maggie.

Ia pun menyoroti pentingnya berpikir kritis ketika membaca informasi yang beredar, terutama di media sosial karena di era modern ini siapapun bisa menjadi produsen informasi tanpa memikirkan kredibilitas dan akurasi berita tersebut. “Biasakan untuk mempertanyakan, darimana datangnya berita dan lihat apabila sumbernya memang bisa dipercaya. Tak hanya itu, lihat makna tersiratnya juga, apa tujuan informasi itu, apakah untuk menjual produk, menjual ide atau untuk menghibur?,” ujarnya.
     
Pemikiran kritis seperti inilah yang dianggap dapat menjadi salah satu senjata melawan berita palsu. Seharusnya hal tersebut menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah tingkat dasar. “Pendidikan dan membuka mata orang lain adalah cara yang efektif dan tempat paling baik untuk memulai pemikiran kritis adalah di sekolah. Ini akan berguna tak hanya untuk melawan hoax tapi untuk hal lain di kehidupan,” kata Maggie yang juga mantan jurnalis Los Angeles Times itu.

Dikutip Antara, selain Maggie, acara bertajuk "Fake News: How to Know What to Believe" juga menghadirkan sejumlah pembicara lainnya termasuk Ignasius Hariyanto dari Universitas Multimedia Nusantara, Aribowo Sasmito dari Mafindo serta Arfi Bambani dari Aliansi Jurnalis Independen sebagai moderator.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pendidikan | 11 Desember 2018 - 22:25 WIB

Di Kudus, masih ada SD dimerger formasi CPNS

Politik | 11 Desember 2018 - 22:01 WIB

PSI puji Risma percantik Surabaya

Pileg 2019 | 11 Desember 2018 - 21:59 WIB

Tommy Soehato dikukuhkan sebagai anak adat Sentani

Aktual Pemilu | 11 Desember 2018 - 21:49 WIB

290 penyandang disabilitas tercatat di DPTHP-2 Binjai

Musibah | 11 Desember 2018 - 21:38 WIB

Hanyut tenggelam, bocah SD ditemukan meninggal

Aktual Pemilu | 11 Desember 2018 - 21:26 WIB

KPU Purwakarta tetapkan DPT Pemilu 2019

Elshinta.com - Ahli Jurnalistik asal Amerika Serikat Margaret Farley mengatakan bahwa pemikiran yang kritis menjadi aspek penting dalam usaha untuk melawan berita bohong atau "hoax".

Hal tersebut disampaikan Margaret, yang akrab disapa Maggie, dalam sebuah diskusi bertajuk "Fake News: How to Know What to Believe" yang diadakan di @america Pacific Place, Jakarta, Kamis (11/10). “Senjata terbaik untuk melawan 'hoax' ada dalam diri kita sendiri, yaitu otak kita,” katanya.

Menurut dia, masing-masing individu pasti memiliki naluri yang seringkali memberikan sinyal apabila suatu berita dibuat berdasarkan fakta atau memang sengaja dibuat untuk menimbulkan sensasi. “Gunakan naluri Anda. Tanya pertanyaan kepada diri Anda sendiri, apa yang Anda rasakan ketika anda membaca berita itu? Apakah informasi itu seolah jauh dari kenyataan?,” kata Maggie.

Ia pun menyoroti pentingnya berpikir kritis ketika membaca informasi yang beredar, terutama di media sosial karena di era modern ini siapapun bisa menjadi produsen informasi tanpa memikirkan kredibilitas dan akurasi berita tersebut. “Biasakan untuk mempertanyakan, darimana datangnya berita dan lihat apabila sumbernya memang bisa dipercaya. Tak hanya itu, lihat makna tersiratnya juga, apa tujuan informasi itu, apakah untuk menjual produk, menjual ide atau untuk menghibur?,” ujarnya.
     
Pemikiran kritis seperti inilah yang dianggap dapat menjadi salah satu senjata melawan berita palsu. Seharusnya hal tersebut menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah tingkat dasar. “Pendidikan dan membuka mata orang lain adalah cara yang efektif dan tempat paling baik untuk memulai pemikiran kritis adalah di sekolah. Ini akan berguna tak hanya untuk melawan hoax tapi untuk hal lain di kehidupan,” kata Maggie yang juga mantan jurnalis Los Angeles Times itu.

Dikutip Antara, selain Maggie, acara bertajuk "Fake News: How to Know What to Believe" juga menghadirkan sejumlah pembicara lainnya termasuk Ignasius Hariyanto dari Universitas Multimedia Nusantara, Aribowo Sasmito dari Mafindo serta Arfi Bambani dari Aliansi Jurnalis Independen sebagai moderator.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 11 Desember 2018 - 22:25 WIB

Di Kudus, masih ada SD dimerger formasi CPNS

Selasa, 11 Desember 2018 - 22:01 WIB

PSI puji Risma percantik Surabaya

Selasa, 11 Desember 2018 - 21:02 WIB

TNI AU Suryadarma Kalijati bangun pos pangkalan udara

Selasa, 11 Desember 2018 - 21:01 WIB

Ketum PSI: Hoax dan kebencian ancam persatuan RI

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com