Rabu, 12 Desember 2018 | 15:48 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Hukum

IPW minta Polri usut Indonesia Leaks

Jumat, 12 Oktober 2018 - 12:54 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane. Foto: Dody Handoko/elshinta.com
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane. Foto: Dody Handoko/elshinta.com

Elshinta.com - Indonesia Police Watch (IPW) meminta Polri harus agresif dan cepat mengusut siapa di belakang Indonesia Leaks dan apa motivasinya membuka kasus Buku Merah yang sudah tuntas ditangani KPK hingga menimbulkan kegaduhan.

IPW menilai, jika Polri bisa agresif dan cepat mengungkap kasus hoax Ratna Sarumpaet, maka tentunya Polri bisa cepat pula mengusut Indonesia Leaks yang terindikasi menyebar hoax.

“Dari pantauan Indonesia Police Watch (IPW), Indonesia Leaks bisa terkena tuduhan menyebar hoax sebab Ketua KPK Agus Raharjo sudah mengatakan, apa yang diungkapkan Indonesia Leaks tidak benar. Sementara di masyarakat sudah terjadi kegaduhan dan kontroversial,” kata Presidium IPW, Neta S Pane dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (12/10), seperti dilaporkan Reporter elshinta.com, Dody Handoko.

Pengelola Indonesia Leaks tidak pernah muncul ke permukaan. Bahkan www.indonesialeaks.com tidak menampilkan nama-nama pengelola dan hanya menampilkan sejumlah logo media sebagai mitra dan inisiator.

”Apakah sebuah lembaga yang tidak berani secara jantan menampilkan figur pengelola dan penanggungjawabnya pantas dipercaya? Namun polisi tetap bisa menelusurinya, dengan cara memanggil dan memeriksa figur-figur yang logonya terpasang di www.indonesialeaks.com,” ucap Neta.

Neta menyebut, dalam kasus Buku Merah yang menyeruak akhir-akhir ini terlihat sangat sarat dengan permainan manuver politik ketimbang kasus hukumnya, mengingat kasus hukumnya sudah selesai seperti dikatakan oleh Ketua KPK. Menurutnya, sasaran kasus Buku Merah ini jelas dan terang benderang hendak menyasar ke pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

"Kapolri Tito Karnavian hanya sebagai sasaran antaranya. IPW melihat ada yang aneh dalam kasus Buku Merah ini. Sebab kasus daging dengan tersangka Patrialis Akbar itu sudah lama selesai proses hukumnya di KPK, tapi kenapa baru dimunculkan lagi menjelang Pilpres 2019. Ini tak lain karena ada manuver dari pihak tertentu yang tidak suka melihat kedekatan Tito dengan Presiden jokowi,” ungkapnya.

Dikatakannya, IPW menilai dalam kasus Buku Merah ini bola ada di KPK. Lembaga anti rasuah itu harus solid. 

”Jangan mau dipecah dari luar maupun dari para mantan pimpinannya yang pernah berseteru dengan institusi Polri. Apalagi ketua KPK Agus Raharjo telah mengatakan dugaan aliran dana ke Tito itu tidak benar,” tandas Neta.

Ketua KPK juga mengatakan, buku catatan yang disebut sebagai Buku Merah itu hanya sebagai petunjuk yang sudah diklarifikasi ke Basuki Hariman bahwa tidak benar memberikan uang ke Tito. Artinya, pernyataan ketua KPK itu merupakan suara resmi KPK. Begitu juga soal perusakan buku sudah dijelaskan ketua KPK bahwa tidak cukup bukti dan sudah dihentikan penyelidikannya. 

“Apakah ketua KPK tidak layak dipercaya?,” tanya Neta.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 12 Desember 2018 - 15:48 WIB

Polres Langkat perketat pengamanan di perbatasan Aceh-Sumut

Aktual Dalam Negeri | 12 Desember 2018 - 15:34 WIB

Langkat raih penghargaan kabupaten peduli HAM

Aktual Dalam Negeri | 12 Desember 2018 - 15:26 WIB

Jokowi resmikan pembukaan Rakernas Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia 2018

Kriminalitas | 12 Desember 2018 - 15:09 WIB

Polisi jadi korban aksi penyerangan di Polsek Ciracas

Megapolitan | 12 Desember 2018 - 14:57 WIB

Polri bentuk tim cari perusak Mapolsek Ciracas Jaktim

Elshinta.com - Indonesia Police Watch (IPW) meminta Polri harus agresif dan cepat mengusut siapa di belakang Indonesia Leaks dan apa motivasinya membuka kasus Buku Merah yang sudah tuntas ditangani KPK hingga menimbulkan kegaduhan.

IPW menilai, jika Polri bisa agresif dan cepat mengungkap kasus hoax Ratna Sarumpaet, maka tentunya Polri bisa cepat pula mengusut Indonesia Leaks yang terindikasi menyebar hoax.

“Dari pantauan Indonesia Police Watch (IPW), Indonesia Leaks bisa terkena tuduhan menyebar hoax sebab Ketua KPK Agus Raharjo sudah mengatakan, apa yang diungkapkan Indonesia Leaks tidak benar. Sementara di masyarakat sudah terjadi kegaduhan dan kontroversial,” kata Presidium IPW, Neta S Pane dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (12/10), seperti dilaporkan Reporter elshinta.com, Dody Handoko.

Pengelola Indonesia Leaks tidak pernah muncul ke permukaan. Bahkan www.indonesialeaks.com tidak menampilkan nama-nama pengelola dan hanya menampilkan sejumlah logo media sebagai mitra dan inisiator.

”Apakah sebuah lembaga yang tidak berani secara jantan menampilkan figur pengelola dan penanggungjawabnya pantas dipercaya? Namun polisi tetap bisa menelusurinya, dengan cara memanggil dan memeriksa figur-figur yang logonya terpasang di www.indonesialeaks.com,” ucap Neta.

Neta menyebut, dalam kasus Buku Merah yang menyeruak akhir-akhir ini terlihat sangat sarat dengan permainan manuver politik ketimbang kasus hukumnya, mengingat kasus hukumnya sudah selesai seperti dikatakan oleh Ketua KPK. Menurutnya, sasaran kasus Buku Merah ini jelas dan terang benderang hendak menyasar ke pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

"Kapolri Tito Karnavian hanya sebagai sasaran antaranya. IPW melihat ada yang aneh dalam kasus Buku Merah ini. Sebab kasus daging dengan tersangka Patrialis Akbar itu sudah lama selesai proses hukumnya di KPK, tapi kenapa baru dimunculkan lagi menjelang Pilpres 2019. Ini tak lain karena ada manuver dari pihak tertentu yang tidak suka melihat kedekatan Tito dengan Presiden jokowi,” ungkapnya.

Dikatakannya, IPW menilai dalam kasus Buku Merah ini bola ada di KPK. Lembaga anti rasuah itu harus solid. 

”Jangan mau dipecah dari luar maupun dari para mantan pimpinannya yang pernah berseteru dengan institusi Polri. Apalagi ketua KPK Agus Raharjo telah mengatakan dugaan aliran dana ke Tito itu tidak benar,” tandas Neta.

Ketua KPK juga mengatakan, buku catatan yang disebut sebagai Buku Merah itu hanya sebagai petunjuk yang sudah diklarifikasi ke Basuki Hariman bahwa tidak benar memberikan uang ke Tito. Artinya, pernyataan ketua KPK itu merupakan suara resmi KPK. Begitu juga soal perusakan buku sudah dijelaskan ketua KPK bahwa tidak cukup bukti dan sudah dihentikan penyelidikannya. 

“Apakah ketua KPK tidak layak dipercaya?,” tanya Neta.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com