Senin, 10 Desember 2018 | 17:04 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Hukum

Dakwaan dinilai kabur, PKPA minta hakim bebaskan terdakwa

Jumat, 12 Oktober 2018 - 18:35 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Administrator
Restoyanna Br Berutu bersama pengacara dari Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), Ranap Sitanggang di PN Medan, Jumat (12/10). Foto: Misriadi/Elshinta
Restoyanna Br Berutu bersama pengacara dari Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), Ranap Sitanggang di PN Medan, Jumat (12/10). Foto: Misriadi/Elshinta

Elshinta.com - Tim pengacara dari Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) menilai dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap Restoyanna Br Berutu (RB) (45) yang ditangkap Polsek Helvetia, Medan akibat diduga melakukan penadahan satu unit laptop pada Juni 2018 lalu kabur atau tidak jelas.

“Dakawan JPU juga kami anggap tidak memenuhi unsur pidana karena terdakwa dianggap tidak mengetahui laptop tersebut hasil kejahatan, karena K (DPO) selaku penggadai, mengaku laptop tersebut adalah milik temannya dan bukan barang curian” papar salah satu pengacara PKPA Ranap Sitanggang kepada Kontributor Elshinta Misriadi, di PN Medan, Sumatera Utara, Jumat (12/11).

Lebih lanjut, tim penasehat hukum RB dari PKPA setelah membaca dan mempelajari surat dakwaan dari JPU berpendapat bahwa dakwaan kepada RB sangat tidak sinkron dengan fakta sebenarnya. Hal tersebut seperti dalam dakwaan disebutkan RB dijumpai tiga orang tersangka lainnya, tetapi dalam BAP hanya dijumpai satu orang (DPO).

Lalu, dalam BAP di kepolisian warna laptop adalah silver, sedangkan dakwaan jaksa menyebut warna lapotop adalah putih. Demikian juga jumlah uang gadai dalam BAP sebesar Rp350 ribu. sementara pada dakwaan JPU uang gadai sebesar Rp300 ribu.

“Paling mencolok, berkas RB disatukan dengan kasus penadah lain yang sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan kasus RB. Antara RB dengan penadah lain tidak ada saling keterkaitan, namun dalam dakwaan jaksa disatukan. Harusnya dipisahkan berkasnya, sendiri-sendiri untuk disidangkan. Dalam hal ini, mereka (penadah) tidak saling mengetahui dan tidak saling mengenal” papar Ranap.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PKPA, Keumala Dewi menjelaskan aspek lain yang menjadi pertimbangan hakim dalam kasus ini adalah RB seorang ibu dengan tiga orang anak yang berusia 16, 14 dan 2 tahun. Selain menjadi single parent, RB juga bekerja hanya sebagai pedagang asongan yang tentu saja kasus ini akan sangat mempengaruhi kegiatannya mencari nafkah dan tumbuh-kembang anak-anaknya sehingga hakim harus benar-benar mempertimbangkan aspek sosial dan kemanusiaan untuk RB, selain pertimbangan hukum dalam dakwaan JPU.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Luar Negeri | 10 Desember 2018 - 16:55 WIB

Pemerintah siapkan strategi baru bela Siti Aisyah

Sosbud | 10 Desember 2018 - 16:45 WIB

Pertamina bagikan santunan ke 12 panti asuhan

Megapolitan | 10 Desember 2018 - 16:36 WIB

Jalan Raya Legok rusak, Bupati akan tindak tegas sopir muatan berat

Aktual Pemilu | 10 Desember 2018 - 16:25 WIB

KPU Tangerang temukan daftar pemilih tak sesuai syarat

Aktual Pemilu | 10 Desember 2018 - 16:14 WIB

Wapres: Kalau Pemilu gagal, Bawaslu kecewakan masyarakat

Ekonomi | 10 Desember 2018 - 16:06 WIB

3 menteri ground breaking rusunami Stasiun Rawabuntu

Elshinta.com - Tim pengacara dari Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) menilai dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap Restoyanna Br Berutu (RB) (45) yang ditangkap Polsek Helvetia, Medan akibat diduga melakukan penadahan satu unit laptop pada Juni 2018 lalu kabur atau tidak jelas.

“Dakawan JPU juga kami anggap tidak memenuhi unsur pidana karena terdakwa dianggap tidak mengetahui laptop tersebut hasil kejahatan, karena K (DPO) selaku penggadai, mengaku laptop tersebut adalah milik temannya dan bukan barang curian” papar salah satu pengacara PKPA Ranap Sitanggang kepada Kontributor Elshinta Misriadi, di PN Medan, Sumatera Utara, Jumat (12/11).

Lebih lanjut, tim penasehat hukum RB dari PKPA setelah membaca dan mempelajari surat dakwaan dari JPU berpendapat bahwa dakwaan kepada RB sangat tidak sinkron dengan fakta sebenarnya. Hal tersebut seperti dalam dakwaan disebutkan RB dijumpai tiga orang tersangka lainnya, tetapi dalam BAP hanya dijumpai satu orang (DPO).

Lalu, dalam BAP di kepolisian warna laptop adalah silver, sedangkan dakwaan jaksa menyebut warna lapotop adalah putih. Demikian juga jumlah uang gadai dalam BAP sebesar Rp350 ribu. sementara pada dakwaan JPU uang gadai sebesar Rp300 ribu.

“Paling mencolok, berkas RB disatukan dengan kasus penadah lain yang sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan kasus RB. Antara RB dengan penadah lain tidak ada saling keterkaitan, namun dalam dakwaan jaksa disatukan. Harusnya dipisahkan berkasnya, sendiri-sendiri untuk disidangkan. Dalam hal ini, mereka (penadah) tidak saling mengetahui dan tidak saling mengenal” papar Ranap.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PKPA, Keumala Dewi menjelaskan aspek lain yang menjadi pertimbangan hakim dalam kasus ini adalah RB seorang ibu dengan tiga orang anak yang berusia 16, 14 dan 2 tahun. Selain menjadi single parent, RB juga bekerja hanya sebagai pedagang asongan yang tentu saja kasus ini akan sangat mempengaruhi kegiatannya mencari nafkah dan tumbuh-kembang anak-anaknya sehingga hakim harus benar-benar mempertimbangkan aspek sosial dan kemanusiaan untuk RB, selain pertimbangan hukum dalam dakwaan JPU.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com