Kamis, 13 Desember 2018 | 14:34 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Gaya Hidup / Aktual Gaya Hidup

Mengenal masa peralihan remaja menuju dewasa

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 08:41 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2yxnuUw
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2yxnuUw

Elshinta.com - Masa remaja akhir dan peralihan menuju dewasa merupakan periode yang sangat penting karena pada tahap itu individu membuat pilihan dan terlibat dalam pelbagai kegiatan yang memengaruhi hidupnya di masa depan, menurut dokter kejiwaan dr. Petrin Redayani Lukman, Sp.KJ (K), MPd. Ked.

"Remaja dalam tahap menyesuaikan ‘sense of self’ dalam fisik yang baru, seperti perubahan biologik dan fisik (pubertas) yang cepat dan ekstrem," ujar dr. Petrin, Jumat (12/10).

Dokter yang berpraktik di RSCM juga menyebutkan bahwa remaja dalam tahap menyesuaikan terhadap tubuh dan perasaan yang mulai matang secara seksual.

"Remaja beradaptasi terhadap seksualitas, menetapkan identitas seksual, dan mengembangkan kemampuan untuk hubungan romantis," imbuh dr. Petrin.

Seorang remaja, sambungnya, memiliki peralihan dari berpikir konkrit di usia anak menjadi berpikir abstrak.

"Remaja dapat berpikir secara abstrak dari hipotesis. Ia dapat memertimbangkan banyak kemungkinan dan hasil logis dari peristiwa yang terjadi. Kemudian, remaja dapat memertimbangkan dari pelbagai sudut, empati semakin meningkat, artinya menempatkan diri pada posisi orang lain," sebut dr. Petrin, seperti dikutip Antara.

Selain itu, lanjutnya, remaja mengenal dirinya sendiri sebagai bagian dari orangtua. Ia bereksperimen dengan pelbagai identitas yang berbeda dan sementara melalui pelbagai jenis pakaian, musik, gaya rambut, sikap dan perilaku, dan gaya hidup.

"Remaja juga membentuk nilai pribadi dengan mengevaluasi dan merestrukturisasi keyakinan pada masa kanak-kanak," imbuh dr. Petrin.

Remaja, lanjutnya, bernegosiasi kembali terhadap hubungan dengan orangtua, mengembangkan hubungan stabil dan produktif dengan teman sebaya, dan memenuhi tuntutan dan tanggung jawab sebagai orang yang semakin dewasa.

"Diharapkan pada tahap ini terjadi ikatan yang kuat antara orang tua dengan anak remaja. Alasan kedekatan tersebut adalah demi mencegah terjadinya problem psikiatri, seperti gejala depresi, mengalami masalah kejiwaan, perilaku mencederai diri, dan penyalahgunaan zat bila remaja tidak dapat melewati masa peralihan tersebut," pungkas dr. Petrin.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kesehatan | 13 Desember 2018 - 14:31 WIB

Gejala khas pneumonia, batuk disertai sesak napas

Liga lainnya | 13 Desember 2018 - 14:24 WIB

Pawai kemenangan Persija juara Liga 1 hari Sabtu

Pemilihan Presiden 2019 | 13 Desember 2018 - 14:07 WIB

Sandiaga tanggapi soal isu HAM dalam visi misi

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 13:57 WIB

Anies peroleh Moeslim Choice Government Award 2018

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 13:42 WIB

11 persen warga Aceh belum punya KTP elektronik

Elshinta.com - Masa remaja akhir dan peralihan menuju dewasa merupakan periode yang sangat penting karena pada tahap itu individu membuat pilihan dan terlibat dalam pelbagai kegiatan yang memengaruhi hidupnya di masa depan, menurut dokter kejiwaan dr. Petrin Redayani Lukman, Sp.KJ (K), MPd. Ked.

"Remaja dalam tahap menyesuaikan ‘sense of self’ dalam fisik yang baru, seperti perubahan biologik dan fisik (pubertas) yang cepat dan ekstrem," ujar dr. Petrin, Jumat (12/10).

Dokter yang berpraktik di RSCM juga menyebutkan bahwa remaja dalam tahap menyesuaikan terhadap tubuh dan perasaan yang mulai matang secara seksual.

"Remaja beradaptasi terhadap seksualitas, menetapkan identitas seksual, dan mengembangkan kemampuan untuk hubungan romantis," imbuh dr. Petrin.

Seorang remaja, sambungnya, memiliki peralihan dari berpikir konkrit di usia anak menjadi berpikir abstrak.

"Remaja dapat berpikir secara abstrak dari hipotesis. Ia dapat memertimbangkan banyak kemungkinan dan hasil logis dari peristiwa yang terjadi. Kemudian, remaja dapat memertimbangkan dari pelbagai sudut, empati semakin meningkat, artinya menempatkan diri pada posisi orang lain," sebut dr. Petrin, seperti dikutip Antara.

Selain itu, lanjutnya, remaja mengenal dirinya sendiri sebagai bagian dari orangtua. Ia bereksperimen dengan pelbagai identitas yang berbeda dan sementara melalui pelbagai jenis pakaian, musik, gaya rambut, sikap dan perilaku, dan gaya hidup.

"Remaja juga membentuk nilai pribadi dengan mengevaluasi dan merestrukturisasi keyakinan pada masa kanak-kanak," imbuh dr. Petrin.

Remaja, lanjutnya, bernegosiasi kembali terhadap hubungan dengan orangtua, mengembangkan hubungan stabil dan produktif dengan teman sebaya, dan memenuhi tuntutan dan tanggung jawab sebagai orang yang semakin dewasa.

"Diharapkan pada tahap ini terjadi ikatan yang kuat antara orang tua dengan anak remaja. Alasan kedekatan tersebut adalah demi mencegah terjadinya problem psikiatri, seperti gejala depresi, mengalami masalah kejiwaan, perilaku mencederai diri, dan penyalahgunaan zat bila remaja tidak dapat melewati masa peralihan tersebut," pungkas dr. Petrin.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Kamis, 13 Desember 2018 - 14:31 WIB

Gejala khas pneumonia, batuk disertai sesak napas

Rabu, 12 Desember 2018 - 11:38 WIB

Daftar diskon dan promo ponsel Harbolnas 2018

Rabu, 12 Desember 2018 - 09:39 WIB

Benarkah telur bisa naikkan kolesterol?

Selasa, 11 Desember 2018 - 18:35 WIB

PKPA kenalkan hak anak dalam agenda Indonesia 4.0

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com