Rabu, 12 Desember 2018 | 06:40 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Gaya Hidup / Kesehatan

Dinkes: Angka kasus filariasis di Mimika tinggi

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 08:59 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2NEpyzu
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2NEpyzu

Elshinta.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua melaporkan, angka kasus filariasis atau kaki gajah di wilayah itu masih tinggi di atas dua persen sehingga seluruh penduduk setempat dalam lima tahun ke depan diwajibkan meminum obat untuk mencegah penyakit itu.

"Mimika termasuk salah satu daerah endemis kasus filariasis berdasarkan hasil penelitian Kemenkes sekitar tahun 2004. Temuan kasus filariasis terbanyak di Mimika yaitu di Kampung Iwaka SP7 (Mulia Kencana). Angka kasus filariasis di Mimika masih diatas dua persen," kata Sekretaris Dinkes Mimika Reynold Ubra di Timika, Sabtu (13/10).

Sehubungan dengan itu, pada awal pekan depan Pemkab Mimika menggelar kegiatan kampanye minum obat massal atau Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) penyakit filariasis kepada warga Mimika yang dilaksanakan di Kantor Bupati.

"Selama lima tahun berturut-turut setiap orang di Mimika setahun sekali meminum obat untuk mencegah penyakit filariasis. Apalagi vektornya ada di sini, sehingga minum obat massal ini merupakan solusi untuk mengeliminasi kasus filariasis di Mimika," jelas Reynold.

Kemenkes menargetkan Indonesia sudah bebas atau tereliminasi dari penyakit filariasis pada 2020.

Beberapa daerah lain di Indonesia sejak 2017 telah bebas dari kasus filariasis, frambusia, kusta, rubela dan campak.

Menurut Reynold, minum obat untuk cegah massal kasus filariasis dilakukan terhadap semua orang di Mimika, terkecuali ibu hamil, balita di bawah usia dua tahun dan pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Papua Yamamoto Sasarari mengatakan penyebaran mikrofilaria di Mimika sudah lebih dari satu persen, sehingga masuk kategori sebagai daerah endemis filariasis.

Pada 2017, katanya, ditemukan tiga warga Mimika positif tertular penyakit filariasis. Sedangkan pada 2007 ditemukan lebih dari 10 kasus filariasis di Mimika.

Penentuan suatu daerah masuk kategori endemis filariasis ditetapkan oleh badan kesehatan dunia atau WHO. "Kalau ada temuan satu kasus filariasis saja, maka konsekuensinya semua penduduk di satu kabupaten itu harus minum obat," kata Yamamoto, seperti dikutip Antara.

Dinkes Papua telah mendistribusikan obat ke daerah-daerah, terutama daerah yang masuk kategori endemis untuk melakukan program minum obat secara massal, guna menghindari dari penularan penyakit filariasis.

Penyakit filariasis disebabkan oleh cacing mikro yang ditularkan ke orang lain melalui gigitan nyamuk.

Dari 29 kabupaten/kota di Papua, terdapat lima kabupaten yang telah berhasil mengeliminasi filariasis, yaitu Merauke, Mappi, Boven Digul, Supiori dan Mimika.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Liga Champions | 12 Desember 2018 - 06:36 WIB

Menang besar di markas Red Star, PSG lolos sebagai juara grup

Event | 12 Desember 2018 - 06:17 WIB

Malaysia-Vietnam 2-2 di final pertama Piala AFF

Liga Champions | 12 Desember 2018 - 06:06 WIB

Salah dan Alisson antar Liverpool kalahkan Napoli dan lolos ke 16 besar

Pendidikan | 11 Desember 2018 - 22:25 WIB

Di Kudus, masih ada SD dimerger formasi CPNS

Politik | 11 Desember 2018 - 22:01 WIB

PSI puji Risma percantik Surabaya

Elshinta.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua melaporkan, angka kasus filariasis atau kaki gajah di wilayah itu masih tinggi di atas dua persen sehingga seluruh penduduk setempat dalam lima tahun ke depan diwajibkan meminum obat untuk mencegah penyakit itu.

"Mimika termasuk salah satu daerah endemis kasus filariasis berdasarkan hasil penelitian Kemenkes sekitar tahun 2004. Temuan kasus filariasis terbanyak di Mimika yaitu di Kampung Iwaka SP7 (Mulia Kencana). Angka kasus filariasis di Mimika masih diatas dua persen," kata Sekretaris Dinkes Mimika Reynold Ubra di Timika, Sabtu (13/10).

Sehubungan dengan itu, pada awal pekan depan Pemkab Mimika menggelar kegiatan kampanye minum obat massal atau Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) penyakit filariasis kepada warga Mimika yang dilaksanakan di Kantor Bupati.

"Selama lima tahun berturut-turut setiap orang di Mimika setahun sekali meminum obat untuk mencegah penyakit filariasis. Apalagi vektornya ada di sini, sehingga minum obat massal ini merupakan solusi untuk mengeliminasi kasus filariasis di Mimika," jelas Reynold.

Kemenkes menargetkan Indonesia sudah bebas atau tereliminasi dari penyakit filariasis pada 2020.

Beberapa daerah lain di Indonesia sejak 2017 telah bebas dari kasus filariasis, frambusia, kusta, rubela dan campak.

Menurut Reynold, minum obat untuk cegah massal kasus filariasis dilakukan terhadap semua orang di Mimika, terkecuali ibu hamil, balita di bawah usia dua tahun dan pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Papua Yamamoto Sasarari mengatakan penyebaran mikrofilaria di Mimika sudah lebih dari satu persen, sehingga masuk kategori sebagai daerah endemis filariasis.

Pada 2017, katanya, ditemukan tiga warga Mimika positif tertular penyakit filariasis. Sedangkan pada 2007 ditemukan lebih dari 10 kasus filariasis di Mimika.

Penentuan suatu daerah masuk kategori endemis filariasis ditetapkan oleh badan kesehatan dunia atau WHO. "Kalau ada temuan satu kasus filariasis saja, maka konsekuensinya semua penduduk di satu kabupaten itu harus minum obat," kata Yamamoto, seperti dikutip Antara.

Dinkes Papua telah mendistribusikan obat ke daerah-daerah, terutama daerah yang masuk kategori endemis untuk melakukan program minum obat secara massal, guna menghindari dari penularan penyakit filariasis.

Penyakit filariasis disebabkan oleh cacing mikro yang ditularkan ke orang lain melalui gigitan nyamuk.

Dari 29 kabupaten/kota di Papua, terdapat lima kabupaten yang telah berhasil mengeliminasi filariasis, yaitu Merauke, Mappi, Boven Digul, Supiori dan Mimika.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 11 Desember 2018 - 18:35 WIB

PKPA kenalkan hak anak dalam agenda Indonesia 4.0

Selasa, 11 Desember 2018 - 17:45 WIB

Bolehkah gunakan gawai saat bermain bersama anak?

Minggu, 09 Desember 2018 - 15:28 WIB

Cegah diabetes sejak dini dengan aktivitas fisik

Minggu, 09 Desember 2018 - 12:50 WIB

Penderita diabetes rentan alami infeksi TB

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com